Oleh: Gugun Gunardi*

Galih Muhammad, biasa dipanggil Galih, lulusan SMA terkenal di Kabupaten Ciamis. Dia mengikuti test masuk perguruan tinggi negeri (PTN), tahun akademik 2023-2024. Dia memilih 2 (dua) program studi (Prodi), yaitu Prodi S1 Sastra Jernan, dan S1 Manajemen. Dia termasuk siswa juara kelas di sekolahnya. Namun mungkin nasib baik belum bersahabat dengan dia, dia lulus testing PTN di pilihan kedua, yaitu S1 Prodi Sastra Jerman.

Gembira dan sedih menyatu dalam hati Galih. Dia gembira, karena bisa lolos testing ke PTN, sedih karena yang dia dambakan diterima di Prodi S1 Manajemen tidak kesampaian. Dia sampaikan kabar hasil testing tersebut kepada orang tuanya. Bapaknya Galih, Dr. Ade Gunadi, menanggapi hasil test ke PTN anaknya, tentu saja dengan gembira menerima kabar tersebut. Beliau, berikan ucapan selamat kepada Galih (anaknya), sambil berlinang air mata.

“Selamat Nak… kau telah diterima di PTN… kuliah di Prodi apapun bagus… asal kita sungguh-sungguh.”

“Iya Pah… alhamdullah… tapi saya pikir-pikir dulu… apa lanjut daftar di Prodi S1 Sastra Jerman… atau cari PTS dengan Prodi yang cocok buat aku.”

“Ya kau yang menentukan nak… bukan Papa… Papa pasti mendukungmu.”

Rizki Putri, nama sayangnya “Kiki”, tahun ini adalah tahun kedua mengikuti testing ke PTN. Tahun kemarin, ia pun mengikuti testimg ke PTN, bukan tidak lulus, ia lulus tapi diterima di Prodi pilihan kedua, yaitu Prodi S1 Perpustakaan. Tentu saja, ia menerima hasil testing tersebut dengan gembira. Hanya tetap dalam hatinya ada yang mengganjal, karena sesungguhnya ia ingin melanjutkan studinya ke Prodi S1 Manajemen. Maka, untuk memuaskan hatinya, ia pun mengikuti lagi testin ke PTN tahun ini, tahun akademik 2023-2024.

Tahun akademik 2022-2023, Kiki kuliah di Prodi S1 Perpustakaan. Sambil kuliah, ia rajing mengikuti bimbingan test, sebagai persiapan untuk mengikuti test ke PTN lagi pada tahun akademik 2023-2024. Dari hari Senin hingga hari Jumat, waktunya dihabiskan di tempat kuliah dan bimbingan test, dan pulang ke rumah menjelang magrib. Ibunya sempat khawatir melihat kegiatan Kiki yang sedemikian padatnya. Tetapi, melihat sebangat belajar anaknya yang menggebu-gebu, beliau tidak menghalanginya, beliau hanya sering mengingatkan agar Kiki menjaga kesehatan, dan jangan telat makan.

Namun untung tak dapat dikejar, nasib tak dapat dihindar. Sebulan menjelang kesertaan Kiki dalam test ke PTN tahun akademik 2023-2024, Ibunya “Kiki” meninggal dunia karena kangker payudara yang selama ini dideritanya. Tentu saja hal tersebut berpengaruh sekali terhadap mental Kiki. Kiki mengalami depresi berat.

Meskipun demikian, dengan didampingi Bapaknya Dr. Gunawan Muhammad, Kiki tetap mengikuti test ke PTN tahun akademik 2023-2024. Ia berusaha menguatkan dirinya untuk bisa dengan tenang mengikuti testing tersebut. Berkat pendampingan dari ayahnya, Kiki dapat melalui situasi yang berat tersebut dengan ikhlas. Hasil testing ke PTN, tahun ini pun tidak buruk-buruk amat. Kiki diterima di pilihan kedua, yaitu di Prodi Sastra Perancis. Tetapi, tentu saja hasil tersebut bagi Kiki kurang memuaskan. Maklum cita-cita dan harapannya, dapat diterima di Prodi Manajemen.

“Bap, aku gagal lagi, tidak diterima di Prodi Manajemen, Bap…”

“Siapa bilang kamu gagal Nak… Dua kali kamu mengikuti test ke PTN, dua-duanya kamu berhasil. Tapi, tidak diterima di Prodi yang kamu minati.”

“Iya Bap, aku mau kuliah di PTS saja. Tetap, aku pengen studi di Prodi Manajeman Bap.”

“Ya… Babap, sangat mendukungmu, yang penting kamu, bisa menikmati proses belajarmu.”

Galih dan Kiki adalah dua sosok pemuda yang ideal. Mereka tidak sekedar melanjutkan studi di perguruan tinggi (PT), dan asal diterima di PTN. Tetapi, mereka betul-betul ingin mewujudkan cita-citanya menjadi Manajer. Maka untuk menggolkan cita-citanya itu, mereka tetap memilih untuk melanjutkan studi di Prodi Manajemen, meskipun harus memilih di PTS.

Galih tidak pernah mengenal siapa Kiki, begitupun Kiki tidak pernah tahu siapa Galih. Mereka berdua memilih melanjutkan studi di Prodi Manajemen di Kampus Biru, karena misi mereka jelas, tidak hanya sekedar sekolah.

Kapan Kiki daftar dan mengikuti wawancara untuk Mahasiswa Baru (MABA), tidak pernah ada janjian dengan Galih. Begitupun Galih, dia mengikuti wawancara untuk MABA di hari yang berbeda dengan Kiki. Tetapi mereka berdua sekarang sudah menjadi MABA di Kampus Biru, Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi.

Selama empat hari kegiatan masa pengenalan studi dan pengenalan kampus (MAPESPEK), mereka tidak pernah bertegur sapa dengan akrab, hanya sekedarnya saja terkait sesama mahasiswa Prodi Manajemen. Di antara mereka tidak pernah ada yang istimewa, kecuali mereka merasa sama-sama sebagai MABA Prodi Manajemen. Kegiatan MAPESPEK pun berjalan seperti biasa, lancar, menyenangkan, menambah wawasan, bagi mereka berdua. Mereka dengan teman-temannya mengikuti kegiatan dengan antusias, setiap hari, hingga selesai empat hari kegiatan.

Waktu pun berjalan masih selama 24 jam, diselingi siang dan malam, diwarnai indahnya terbit Matahari di Timur, lalu merambah, dan tenggelam di Barat, untuk menyambut malam. Kiki dan Galih pun menyelesaikan kegiatan MAPESPEK, dengan suka-cita. Mereka pulan ke rumah masing-masing, dengan dibekali undangan pertemuan orang tua (ortu) MABA, berselang satu hari setelah selesai acara MAPESPEK, dari Panitia Penerimasn MABA Kampus Biru.

Hari Senin, berselang satu hari setelah kegiatan MAPESPEK, yang berakhir pada hari Sabtu, jam 6 pagi-pagi, Kiki sudah berangkat pergi ke kampus, ikut menumpang mobil ayahnya. Bapaknya Kiki “Dr. Gunawan Muhammad”, harus berangkat lebih awal ke kampus. Beliau adalah Wakil Rektor 1, yang tentu saja harus ikut serta menerima MABA. Karena Beliau pun termasuk anggota Senat Kampus Biru.

Dr. Ade Gunadi dengan istrinya (Ibunya Galih), datang berdua tidak berserta dengan Galih. Karena Galih, sudah berangkat lebih dulu dengan sepeda motornya. “Takut kesiangan”, katanya. Sesampai di Aula Kampus, Bapak dan Ibunya Galih, duduk di baris kedua dari baris depan, dan tepat duduk di samping kiri jalur berjalannya Anggota Senat Kampus Biru. Sementara tempat duduk di sebelah kanan jalur Anggota Senat masuk Aula, semua kursi diisi oleh MABA.

Dengan diawali tiga kali hentakan tongkat pedel, dilanjutkan dengan suara langtang pedel, memohonan agar hadirin berdiri, anggota Senat masuk ke Aula. Beriringan, Rektor berdampingan dengan Sekretaris Senat, Warek 1 dengan Ketua Yayasan, Warek 2, dengan Warek 3, kemudian di belakangnya berbanjar para Dekan, para Ketua Lembaga dan para Guru Besar Kampus Biru.

Pedel, Rektor dan anggota Senat lainnya, langsung menuju tempat duduk, di panggung kehormatan di depan hadirin. Setelah semua anggota senat menempati tempat masing-masing, masih dalam keadaan berdiri.

Pedel;
“Menyanyikan lagu Indonesia Raya, diikuti hadirin.”

“Menyanyikan Hymne Universitas Biru.”

“Mengeheningkan cipta, dipimpin oleh Rektor, Ketua Senat Univerditas Biru.”

“Hadirin dipersilakan duduk, Rektor dan Anggota Senat, dipersilakan membuka baret. Rektor membuka Sidang Senat Universitas Biru, dengan acara tunggal, Penerimaan Secara Resmi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2023-2024.”

Semua acara berjalan dengan lancar, karena segalanya sudah ditata dengan profesional oleh Tim Protokoler Kampus Biru. Semua hadirin mengikuti rangkaian acara awal dengan tertib dan disiplin. Bapa dan Ibunya Galih pun mengikuti rangkaian acara dengan khidmah. Maklumlah Dr. Ade Gunadi, sudah terbiasa mengikuti acara semacam ini, di kampusnya di Tasikmalaya. Begitupun Ibu Gunadi, sudah sering mengikuti acara yang bernuansa akademik seperti ini di kampus Dr. Ade Gunadi.

Sesuatu yang sangat istimewa bagi Dr. Ade Gunadi, muncul manakala Rektor dan Anggota Senat, dipersilakan duduk dan membuka barat mereka. Mata Dr. Ade Gunadi tertuju ke salah seorang anggota senat yang duduk di baris depan, yaitu Wakil Rektor 1 Universitas Biru. Dia menggisik matanya berkali-kali, tapi tetap sosok itu ada di sana. Dia sangat mengenal sosok itu, dia adalah Dr. Gunawan Muhammad, sahabat dekatnya ketika bersekolah di SMA. Dia biasa memanggilnya “Wawan”, ketika bareng menempuh studi di SMA.

“Mah… kayanya yang duduk mengapit Rektor di sebelah kanannya… Wawan… Mah… sahabat dekat Papah waktu di SMA.”

“Ah… salah lihat kali…” Istrinya Dr. Ade Gunadi, menimpali.

“Iya Wawan… Mah, cuma agak gemukan…”

Prosesi penerimaan MABA, yang biasa diikuti Dr. Ade Gunadi di kampusnya, yang biasanya dengan sabar Dia ikuti. Kali ini acara tersebut, dirasakannya sangat lama sekali. Maklum Dr. Ade, ingin segera bertegur sapa dengan Dr. Gunawan, sahabat karibnya, ketika sama-sama menempuh sekolah menengah atas di Kota Tasikmalaya. Mereka tidak saling bertemu sejak bertugas di kampus masing-masing, karena kegiatan akademik, mulai dari mengajar, melanjutkan studi, penelitian, dan memberikan materi di berbagai seminar.

Mata Dr. Ade tidak lepas… Terus menatap sahabat karibnya tersebut, sambil pikirannya melayang ke masa 23 tahun yang lalu, saat perpisahan meninggalkan SMA, tempat dimana Dia dengan Wawan – sahabatnya menempuh sekolah lanjutan atas. Terbayang lagi betapa Dia sering berbagi makanan ketika waktu istirahat, dan pulang tidak menggunakan uang ongkosnya untuk naik angkot. Tetapi, mereka berjalan kaki saja, dan uang ongkosnya dibelikan kueh balok kesukaan mereka, lalu dinikmati sambil berjalan. Kini, sahabatnnya – Wawan, duduk di panggung kehormatan di Kampus Biru, di tempat anaknya melanjutkan kuliah. Rasa bangga… rasa haru… gembira… bercampur aduk di dalam benaknya, melihat sahabatnya menjadi pejabat dan orang terhormat di kampus anaknya.

Tak terasa acara penerinaan MABA, telah selesai.

Pedel, dengan suara lantang..
“Rektor bersama anggota senat Universitas Biru akan meninggalksn ruangan… hadirin dimohon berdiri…”

Rektor bersama anggota senat dengan didahuli pedel turun dari panggung kehormatan, dan seperti ketika masuk mereka berbaris dua-dua, berbanjar akan meninggalkam ruangan. Dr. Gunawan, kali ini berada di sebelah kanan hadirin tamu undangan, sehingga berpapasan langsung dengan Dr. Ade. Ketika berpapasan Dr. Ade menganggukan kepala kepada sahabatnya Dr. Gunawan. Dr. Gunawan pun membalas anggukan tersebut sambil tersenyum. Tiga langkah dari saat berpapasan, Dr. Gunawan, membalikan pandangannya ke arah belakang, ke orang yang menganggukan kepalanya itu. Sambil mengernyitkan dahi, dalam hatinya berkata “Seperti Ade… sahabatku ketika di SMA, tetapi rambutnya sudah memutih.” Dia berguman.

Barisan Rektor dan anggota senat pun melewati pintu aula. Dr. Gunawan, ke luar memisahkan diri dari barisan, Dia kembali ke dalam ruangan. Saat bersamaan, Dr. Ade pun memohon ijin kepada istrinya untuk menyusul “Wawan”, sahabatnya. Kurang lebih enam langkah dari tempat Dr. Ade duduk, mereka bertemu.

Sambil membentangkan tangan Dr. Gunawan, menyapa Dr. Ade…

“Ade apa kabar…”
“Alhamdulillah… baik Wan…”

Mereka berpelukan, disaksikan ratusan mata hadirin tamu, dan para mahasiswa. Sementara Kiki dan Galih, tanpa sadar mereka berdiri melihat kejadian yang mengharukan tersebut.

Setelah saling berhadapan, Dr. Gunawan membuka percakapan…

“Ada apa Ade hadir di penerimaan MABA ini… mana istrimu…?
Ternyata Ibunya Galih sudah ada di belakang Dr. Ade.

“Ini Ibunya Galih…”
“Siapa Galih…?
“Anakku mahasiswa baru…”
“Mana dia…?”

Dr. Ade, memanggil anaknya “Galih” dengan lambaian tangan. Demikian pun dilakukan Dr. Gunawan kepada Kiki. Segera mereka berdua menghampiri kedua orang tuanya.

“Ki… ini Pak Ade… sahabat karib Babap waktu di SMA…”

Dr. Ade bertanya;
“Mana Ibunya… hadir pulakah di sini…?”

Sambil berlinang air mata, Dr. Gunawan menjawab;
“Ibunya Kiki… sudah meninggalkan kami… menghadap Alloh dua bulan yang lalu… karena kanker payudara… De…”

“Ohw… Innalillahi wainna illaihi rojiun… semoga almarhumah menjadi ahli syurga… Wan…”

“Aamiin Allohuma Aamiin…”
“Kamu mempertemukan sahabat terbaik Babap ketika belajar di SMA di Tasik “Ki”…”
“Semoga kamu pun bisa bersahabat dengan Galih… melanjutkan persahabatan Babap… dengan Pak Ade…”

Waktu adalah karunia dan kehendak Alloh.
Waktu bisa mempertemukan orang yang tidak diperkirakan sebelumnya, waktu pulalah yang memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

*Dosen FASA Unfari.

(Visited 48 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.