Oleh : Febriani*

Everyday is a process, the process of rejuvenating the brain with science and knowledge. Aku ingin bercerita, dia seorang motivator sekaligus seorang dosen yang mengajar di kampusku. Namanya terkenal di mana-mana sebagai seorang inspirator dan penulis buku-buku motivasi. Suatu keberuntungan beliau masuk dalam proses pembelajaran kuliahku hari ini. Sedikit terkejut karena beliau bukan dosen komunikasi, tetapi berkenan masuk kelas kami menabur benih-benih kesuksesan.

Dari motivasi beliau ada kalimatnya yang kukutip, “Motivator terbaik adalah diri sendiri”. Sekilas aku merenungi diri yang kadang enthusiastic dan kadang down, dan jujur lebih banyak lagi down yang merasuki jiwa. Membaca keinginan diri ingin menjadi seorang penulis, mencoba merakit demi sedikit kata-kata baku dan non baku. Merangkai hayalan, ilusi dan halusinasi setiap detik kehidupan yang mengglobal.

Perihal semua itu, time down selalu muncul menjadi haters di sebuah film episode diriku. Awal hanya problem yang menari dansa di otak, alhasil otak pun tidak jarang lecet. Pernyataan dan pertanyaan muncul, aku bisa menulis, merangkai cerita, tapi kenapa setelah diaplikasikan aku merasa penulisan ceritaku membosankan? Penggunaan kata-kata yang amburadul kadang menulis novel, cerpen dan bahkan sebuah artikel. Sehingga tak satu pun yang selesai. Di mana letak problemnya?

Sekilas rasa netizen berfaedah muncul, di mana aku mencari tata cara membuat sebuah novel, cerpen dan tulisan lainnya yang bagus, penempatan penulisannya terstruktur. Perlahan-lahan mencoba tahap demi tahap, namun tetap gagal juga. Akhirnya menjadi sebuah kisah yang telah usai di tengah jalan.

Pada hari ini beliau menguak satu kunci problem sebuah penulis. “Sebagai penulis tetaplah terus menulis, teruslah merangkai kaya dan menyulam kalimat, karena itulah tugasnya penulis. Kesalahan kata, kalimat, tanda baca, alur cerita, itu tugasnya seorang editor, tidak bisa bersamaan menjadi penulis sekaligus menjadi editor. Pasti tidak selesai-selesai tulisannya, karena keduanya memiliki tugas berbeda.

Penulis bertugas membuat tulisan, sementara editor bertugas menyempurnakan tulisan. Editor akan selalu mengkoreksi kata-kata agar indah, tersusun dan indah. Jika penulis terus mengoreksi kesalahan penulisan, tulisannya tidak akan pernah selesai. Otak kecilku berkata kenapa engkau begitu angkuh dan tamak, mengambil kerja yang bukan kerjamu. Bara tubuhku menggelegar, bak lahar gunung merapi. Melahap rasa takut dan ketidaktahuan problematika yang bertahun-tahun merasuki jiwa ini. Harapan-harapan berpacu dalam aliran darahku, semoga aku bisa menjadi sebenar-benarnya seorang penulis. Mengetahui basic apa yang dikuasai, membagi kisah yang beraktualisasi.

Terima kasih sang inspirator menulis Indonesia, Bapak Ruslan Ismail Mage yang telah membagikan resepnya menjadi penulis dalam 30 menit. Luar biasa, aku menjadi saksi dahsyatnya motivasi bapak. Akan selalu kuingat resepnya, “Sangat sulit memakai baju dua sekaligus, sama sulitnya menjadi penulis sekaligus editor. Yang benar, jadilah penulis dulu baru merubah posisi menjadi editor tulisan sendiri. Pasti menjadi penulis”. Bagiku menemukan resep ini laksana menemukan intan berlian dalam kelas.

*Mahasiswi Jurusan Komunikasi, dan pencinta literasi menulis Padang

(Visited 59 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.