Oleh: Abdul Kholid*

Menjadi bagian dari sang motivator mungkin impian banyak orang. Namun, hanya sedikit yang bisa dapat kesempatan emas itu. Alhamdulillah, aku salah satu dari yang sedikit itu. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku diminta langsung oleh sang motivator mendampinginya dalam PKKMB di kampus tempatku kuliah.

Selama ini, aku hanya mengenalnya melalui tulisan-tulisan inspiratifnya di beberapa media daring dan menonton video-video motivasinya di beberapa forum. Sekarang, aku berdiri di sampingnya, duduk semeja bersamanya, diminta meliput acara motivasinya di tengah ratusan mahasiswa baru. “Keren habis!” kataku membatin.

Pikiranku menari-menari hingga berujung pada tekad jiwaku ingin mengikuti jejaknya menjadi penulis buku andal yang bisa memengaruhi pikiran orang melakukan kebaikan, mengantarkanku menjadi the next motivator. “Ya Allah ya Rabb, kabulkan mimpiku yang selama ini kupupuk,” bisikku sambil mengusap dada.

Hari ini, 30 September 2023 di acara dan ruang yang berbeda, sang idola kembali memberi motivasi kepada mahasiswa baru. Terlihat dari wajah-wajah mahasiswa yang haus ilmu begitu serius memperhatikan setiap diksi kata dan kalimat sang motivator pendiri universitas kehidupan Bapak Ruslan Ismail Mage. Narasi inspiratifnya meluncur terus menuju relung jiwa membakar semangat optimisme menaklukkan gelombang kehidupan. Khidmatnya para mahasiswa mendengarkan, seolah takut tertinggal kata per kata yang semuanya mengandung energi penggerak.

Bukan hannya mahasiswa baru yang terlena dengan irama katanya, tetapi kami para panitia PKKMB pun terkesima dan sangat antusias memperhatikan setiap kalimatnya. Bahkan, justru panitia lebih proaktif berebut hendak mendapatkan hadiah buku karyanya yang terkenal sebagai satu-satunya akademisi penulis buku trilogi politik dalam pemilu. Kami kagum sama sosok dan karakternya sebagai akademisi dan motivator yang konsisten menulis buku menebar gagasan-gagasan barunya di ruang-ruang publik.

Salah satu materinya yang membuat kami para panitia dan mahasiwa baru tertantang untuk terus berpikir, bagaimana melahirkan karya pada era digital ini. Menurutnya, mahasiswa bukan hanya harus, tetapi wajib meninggalkan jejak digital yang baik. Wajib membangun brand positif di sosial media miliknya. Jangan pernah meninggalkan jejak digital yang bernuansa negatif dengan memposting gambar dan komentar yang tanpa disadari menurunkan integritas dan moralitasnya.

Akademisi trainer ini menekankan mahasiswa “wajib bijak” menggunakan sosial media, karena ini menyangkut masa depan sebagai mahasiswa. Sekarang, hampir semua lembaga pemberi beasiswa menjadikan jejak digital sebagai pertimbangan utama. Begitu pula HRD perusahaan melihat, mendeteksi, menyeleksi, dan kemudian menerima karyawan sangat mempertimbangkan jejak digitalnya.

Jadi dalam era digital seperti sekarang ini menurut Bapak Ruslan Ismail Mage, Curriculum Vitae (CV) atau resume atau daftar riwayat hidup seseorang dalam bentuk lembaran kertas tidak lagi menjadi pertimbangan utama perusahaan. Cukup perusahaan mengetik nama pelamar di google. Kalau keluar data-data positif tentang diri pelamar, seperi karyanya apa, temuannya apa, gambar dan komentarnya di sosial media selama ini seperti apa. Kalau terdeteksi brand dirinya positif, itulah jadi pertimbagangan utama diterima. Sebaliknya kalau citra dirinya negatif langsung ditolak.

Mendengar semua paparan dari Pak Ruslan itu, maka tidak ada lagi alasan untuk menunda membangun citra diri positif melalui perangkat sosial media. Jangan sampai postingan merusak masa depan kita, sehingga hanya menimbulkan penyesalan yang mendalam.

Terima kasih kami kepada sang akademisi hebat, motivator tangguh, dan penulis buku andal, Bapak Ruslan Ismail Mage, yang telah memperingati kami lebih awal bagaimana bijak meninggalkan “Digital Footprint” atau tapak data yang tertinggal setelah beraktivitas di internet.

Apa yang diuraikan Pak Ruslan tidak ada dalam mata kuliah, tetapi sebagai mahasiswa yang hidup di era digital tanpa batas, justru ini yang kami butuhkan disamping teori-teori keilmuan dalam mata kuliah.

*Mahasiswa jurusan komunikasi Universitas Ekasakti.

(Visited 72 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.