Kolom: Rahmiyanti*

Hari itu, Kamis 12 Oktober 2023 adalah hari kedua “Workshop Menulis Buku bagi Guru di Era Merdeka Belajar” di Gizela Hotel Painan Pesisir Selatan. Aku tidak ingin beralasan membuat pembenaran dengan absenku pada hari pertama di pelatihan ini, karena dengan kehadirannku hanya di hari kedua sudah cukup menjawab bahwa aku memang tidak bisa datang di hari pertama.  

Entah kenapa terada ada magnet yang menarikku, sehingga memutuskan untuk berangkat ke Gizela Hotel meninggalkan agenda lain. Aku tidak peduli apakah kehadiranku masih diterima atau tidak, yang jelas keyakinanku mengatakan apa pun yang terjadi aku harus berangkat, di terima atau tidak itu bukan urusanku.

Ternyata dugaanku benar, magnet itu begitu besar energi daya tariknya. Pantas teman-teman peserta di hari pertama katanya begitu antusias mengikutinya, begitu sumringah wajah-wajah familiar peserta, begitu cerah aurah wajah kolega guru-guru hebat di sekitarku yang terus terpancar sampai detik goresan pena ini berdansa di atas kertas putihku. Tidak sepatah pun terdengar ada keluhan di hari pertama, yang nampak hanya senyum kebahagiaan dan kedamaian memancar di setiap sudut ruangan.

Magnet itu berasal dari sosok yang luar biasa, setiap untaian kata yang diucapkan membangkitkan gelora semangat tiada tara, tidak ingin sedikit pun melewatkan narasi-narasi yang tercipta dari untaian kata yang membakar jiwa.

Mendengar narasi olah vokalnya yang berirama mengeja kalimatnya, dan membaca tulisan yang mendayu-dayu Bapak Ruslan Ismail Mage yang lebih suka dipanggil Bang RIM, ingatanku melayang jauh ke masa di mana ketika aku masih memakai seragam putih-biru. Ketika itu guruku mengajarkanku tentang sastrawan angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, sangat bangga rasanya ternyata banyak di antara sastrawan yang berasal dari Minangkabau tercinta.

Beranjak dewasa aku mulai bertanya-tanya dan merenung dalam tanya tanpa jawaban, ke mana pewaris pujangga-pujangga itu yang katanya banyak mengubah wajah Ibu Pertiwiku. Bang RIM, sama seperti dirimu, aku pun merasakan gejolak sastra yang luar biasa dari teman-teman guru di kota kecilku Pesisir Selatan.

Bang RIM, bertahun-tahun orang mengecilkan Pesisir Selatan, bertahun-tahun kami dipandang sebelah mata, tapi bertahun-tahun juga saya tidak percaya karena di Pesisir Selatan itu banyak letupan-letupan api kecil yang butuh dikuatkan.

Ya Allah ya Rabb, kami butuh orang-orang seperti Bang RIM, orang-orang yang bisa memantik api kecil itu, hingga nyalanya bisa menyeruak ke permukaan laksana matahari yang memberi kehidupan semesta. Bang RIM, pintaku tolong bersamai api kecil itu agar muruahnya menembus pelosok negeri. []
 
*Guru pencinta literasi menulis di Pesisir Selatan

(Visited 191 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.