Oleh: Muhammad Sadar*

Mallusetasi sebagai salahsatu wilayah pemerintahan kecamatan dari enam kecamatan lainnya di Kabupaten Barru,terdiri atas tiga kelurahan dan lima desa dengan luas wilayah keseluruhan 216,58 kilometer persegi merupakan wilayah terluas kedua setelah Kecamatan Pujananting serta didiami penduduk sebanyak 27.884 jiwa (BPS,2022). Kecamatan Mallusetasi berbatasan dengan Kota Pare-Pare di sebelah utara dan di sebelah timur berborder dengan Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Soppeng serta berhadapan langsung dengan perairan selat Makassar di sebelah barat. Sedangkan di sisi selatan berdampingan dengan Kecamatan Soppeng Riaja.

Sekilas sejarah Mallusetasi bahwa sebelum tahun 1960 merupakan wilayah dibawah kekuasaan afdeeling Kota Pare-Pare yang memiliki dua distrik yaitu distrik Bojo dan distrik Nepo. Pada awal tahun 1960 Mallusetasi telah menjadi bagian otonom dari Pemerintah Kabupaten Barru .Palanro sebagai ibu kota kecamatan yang merupakan basis perjuangan revolusi empat lima dan melahirkan banyak tokoh pejuang di masanya.

Dari delapan wilayah desa/kelurahan, hanya dua desa yang bukan daerah pantai, selebihnya beririsan dengan laut sehingga Mallusetasi memiliki garis pantai sepanjang 27 kilometer di Kabupaten Barru. Karena Mallusetasi bertipologi pantai,oleh para orang tua terdahulu menjuluki wilayah ini dengan menyebutnya “Mangkangulu ri bulu-e, Massulappe ri tasi-e“.Analogi ini bermakna bahwa”ketika warga Mallusetasi merebahkan dirinya seakan kepalanya diletakkan di gunung dan kakinya selonjoran berada di laut.”

Mallusetasi sebagai habitat dan lingkungan tumbuh penulis berkesempatan mendampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru pada acara musyawarah mappalili di kantor Camat Mallusetasi pada hari Rabu (11/10).Turut hadir di acara tersebut antara lain Sekretaris Camat Mallusetasi beserta jajaran, Dan Ramil 05 dan Kapolsek Palanro, Distributor dan Pengecer pupuk bersubsidi,BPP/
PPK/PPL,KTNA, Lurah/Kepala Desa,Tokoh masyarakat dan perwakilan petani se-Kecamatan Mallusetasi.

Prosesi musyawarah mappalili diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pengucapan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan oleh Imam Masjid Taqwa Palanro. Selanjutnya sambutan pembukaan disampaikan oleh Sekretaris Camat yang mengatakan,”pemeliharaan padi saat ini dalam keadaan defisit penyediaan air. Petani berjibaku dalam pemenuhan kebutuhan air tanamannya.
Oleh karena itu rumusan yang disepakati hari ini agar sekiranya betul-betul ditaati dan menjadi perhatian serta direalisasikan petunjuk teknis yang disampaikan.”

Berikutnya sambutan dan arahan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir. Ahmad, M.M dengan gaya dan performanya yang khas menyampaikan,”Dinamika dan tantangan sektor pertanian saat ini sangat berbeda dengan musim tanam lalu. Keterbatasan air dan kekeringan berkepanjangan sebagai limiting faktor dalam budidaya padi. Capaian atau raport yang baik harus dipertahankan dan dikristalisasi dalam suatu rumusan pola tanam produktif sebagai gerakan menuju ketahanan pangan di wilayah ini.” Dengan improvisasi dan penuh retorika Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan melanjutkan orasinya mengatakan bahwa,”Para petani di Mallusetasi harus mengambil peran dan sikap merubah pola tanam dengan pilihan komoditi padi-padi- palawija atau padi-palawija-
hortikultura atau padi-hortikultura-palawija.”

Lebih lanjut, beliau merilis sinopsis materi kitab lontara Bugis menjelaskan,”Tahun ini jatuh pada tahun ‘JIN'(merujuk pada huruf hijaiyah) yang meramalkan potensi hujan dalam keadaan normal namun masa hujan singkat dan intensitasnya tergolong tinggi, serta periode kering bisa moderat hingga kuat dan terkadang kurang optimal terhadap pertumbuhan tanaman.Jika demikian halnya perspektif tersebut maka yang harus dikerjakan petani adalah menyiapkan tindakan adaptasi dan antisipasi untuk meminimalisir resiko-resiko yang berpotensi merugikan usaha tani.

Pernyataan penutup beliau yang mengatakan,”Sektor pertanian merupakan pabrik primer yang setiap komponennya harus ditumbuhkan dan ditegakkan dulu lalu ditanam serta dalam keadaan media yang berair.Beliau menutup sambutannya dengan pantun,”Mari terus menanam,siang malam harus kita menanam, karena menanam melahirkan kebahagiaan dan kebahagiaan bagian dari kesejahteraan,”
demikian pungkasnya.

Pada sesi pembahasan sarana pupuk terutama terkait mekanisme, ready stock dan penyaluran pupuk bersubsidi dijelaskan oleh Nur Hasbiah Main, S.Sos., M.A.P sebagai Wakil Direktur PT. Karya Libureng selaku distributor resmi pupuk bersubsidi wilayah kerja Mallusetasi, menegaskan bahwa,” Ketersediaan pupuk subsidi akan terus terjaga hingga bulan Desember 2023, memberikan ketenangan kepada para petani.

Nur Hasbiah Main mengingatkan,”Para kelompok tani yang hadir untuk menjaga ketertiban administrasi dalam pengajuan permintaan pupuk subsidi. Hal ini sangat penting agar proses distribusi pupuk berjalan lancar dan memastikan bahwa pupuk tersebut benar-benar tersalurkan kepada yang membutuhkannya.
Komitmen PT. Karya Libureng untuk menjaga pasokan pupuk bersubsidi hingga akhir tahun 2023 merupakan kabar baik bagi para petani yang mengandalkan pupuk ini dalam kegiatan pertanian mereka. Dengan kerja sama yang baik antara distributor dan petani, diharapkan ketahanan pangan di wilayah ini dapat terus ditingkatkan.”

Penulis menilai bahwa pengelolaan waktu turun sawah,hambur dan tanam yang disampaikan oleh para juru bicara petani pada bulan November hingga Desember 2023 sudah tepat untuk pelaksanaan musim tanam rendengan periode Oktober 2023 hingga Maret 2024. Begitupun juga penggunaan varietasnya sudah merata dengan inpari 32 sebagaimana yang direkomendasikan. Sangat penting diperhatikan adalah pada pelaksanaan musim tanam gadu April-September 2024 agar waktu tanamnya tidak melampaui bulan Mei 2024 dan sekiranya para petani menggunakan varietas unggul padi yang berumur genjah atau ultra genjah,tahan dan toleran atau adaptif terhadap cekaman air, tentunya produktivitas tetap optimal. Varietas tersebut bisa inpari (1,11,12, 13,18,19,20)dan inpari sidenuk. Selain varietas tersebut bisa juga dimanfaatkan varietas M70D sebagaimana yang pernah dikembangkan di Desa Bojo.

Di penghujung acara harapan dan sikap yang disampaikan oleh Ketua KTNA Mallusetasi saudara Hasanuddin menyatakan,”Agar tahapan dan hasil musyawarah mappalili di tingkat desa/kelurahan dapat direalisasikan sehingga bisa menghasilkan produksi maksimal guna mencapai ketahanan pangan.Untuk mendukung semua ini tentunya ketersediaan sarana pengairan seperti pengadaan sumur dan pompanisasi kami harapkan. Begitu pula dengan bantuan benih padi yang berkualitas untuk mengantarkan Kabupaten Barru menjadi swasembada pangan.”

Palanro,12 Oktober 2023

* Penguji Perbenihan/Perbibitan TPHBun/Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru.

(Visited 212 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.