Pipiet Senja

Mengapa diberitakan bahwa film tsb dari novel karya Asma Nadia?
Tentu ada maksud dan tujuan komersial, mengingat nama Asma Nadia sudah meroket di jagat Literasi dan sineas.

Saya pribadi sepakat dengan keputusan Asma Nadia. Bukan amuk karena arogan, iri, haiiisssh….
Mereka yang suudzon pastinya tak kenal siapa itu Asma Nadia.

Sebagai sesama penulis saya merasa terwakili. Karena ada novel karya saya yang judulnya diambil oleh penulis lain.

Sila dibrowsing Jalan Panjang Menuju Pulang. Ini novel sudah dimuat secara bersambung oleh Republika. Terinspirasi dari kisah nyata adikku yang kini mukim di Belanda. Awalnya berjudul Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku. (Zikrul Hakim, 2005)

Kemudian saya revisi, obrak-abrok nama polos dan alurnya, diterbitkan oleh Republika. Serahun yang silam dijadikan E Book.

Eeeh, ndilalah muncul buku dengan judul serupa, beberapa tahun kemudian.

Karena keterbatasan waktu, kondisi saya yang sering wara-wiri ke rumah sakit, mana sempat saya meluruskannya?

Jadi teringat kasus agak mirip. Novel karya Titie Said, Fatima, difilmkan dengan judul berbeda oleh Sjumanjaya. Dibintangi Yenny Rahman dan El Manik.

Titie Said sempat marah dan komplain. Namun, entah bagaimana pihak Produser akhirnya tetap bisa menayangkan novel karya Titie Said tsb dengan judul Budak Nafsu. Meledaaaak nih film!
Tentu ada deal tersendiri.

Oooh, Mbak Tie saya jadi kangeeen sangat kepadamu. Ingin kukabarkan kepadamu di alam kelanggengan sana.

Inilah hebohan jagat
Literasi dan sineas kita kini.

Salam Literasi dari penulis recehan, angkatan 75.

(Visited 22 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.