Wajahnya menghiasi uang baru kertas pecahan Rp10.000-an. Yap, siapa lagi kalau bukan Frans Kaisiepo.

Frans Kaisiepo adalah pahlawan nasional yang lahir di Biak pada 10 Oktober 1921 yang memiliki andil besar pada penyatuan Irian Jaya (Papua) ke Indonesia. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 14 September 1993 lewat Surat Keputusan Presiden No 077/TK/1993.

Atas jasanya tersebut, Frans Kaisiepo menjadi salah satu pahlawan yang gambarnya terpampang di uang kertas Rp10.000, (cnnindonesia).

Frans Kaisiepo merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Papua kini menuai kontroversi bagi masyarakat Indonesia karena namanya kurang familiar di telinga masyarakat Indonesia.

Frans Kaisiepo mulai menarik perhatian masyarakat semenjak wajahnya berada di pecahan uang baru Indonesia yang baru-baru ini dikeluarkan Bank Indonesia.

Tak hanya asing, sebagian masyarakat pun tak tahu kalau Frans Keisiepo merupakan pahlawan nasional. Kendati demikian, sebagian anak bangsa masih mengingat beliau yang memiliki jasa pesar dalam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berkat jasa beliau yang menyatakan dengan tegas kepada pemerintah Belanda pasca proklamasi kemerdekaan bahwa Papua merupakan bagian dari Indonesia, keutuhan bangsa terjaga dengan Papua di dalamnya.

Tak hanya itu juga berkat beliau, tercetuslah nama ‘Irian’ yang kita kenal sampai sekarang sebagai salah satu provinsi Indonesia di bagian timur. Banyak asumsi yang muncul di masyarakat mengenai alasan Frans Kaisiepo menamai Papua dengan Irian.

Ada yang mengatakan bahwa Irian adalah singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherland sebab kala itu Belanda ingin membentuk Negara Papua sebagai negara koloninya, namun dari segi bahasa Biak, Irian berarti daerah panas. Frans Kaisiepo mengganti nama Papua menjadi Irian karena beliau ingin masyarakat tahu kalau daerah mereka itu daerah yang panas.

Jasa beliau tak hanya sebatas itu, beliau juga terus mengorganisir resistance di Papua untuk melawan Belanda, bahkan setelah KMB serta ikut andil dalam Trikora (Tri Komando Rakyat) saat Indonesia berada di ambang batas kesabaran karena Belanda keras kepala. Dan akhirnya memulai Military Campaign di Papua.

Dalam Trikora pun, Frans Kaisiepo aktif membantu TNI dalam operasi-operasi di tanah Papua hingga tahun 1963. Frans Kaisiepo menjadi Gubernur Irian Barat (1964-1973) menggantikan Elieser Jon Bonay. Sebagai gubernur, Frans Kaisiepo bertanggungjawab melaksanakan PEPERA pada tahun 1969, yang hasilnya adalah Papua bergabung dengan Republik Indonesia.

Selain gambar sosok pahlawan, yaitu Frans Kaisiepo. Pada sisi pecahan sisi uang kertas Rp10 ribu juga dihiasi gambar tari pakarena.

Tari pakarena merupakan salah satu dari lima tari klasik dari Sulawesi Selatan yang paling terkenal. Mengutip dari disbudpar.sulselprov.go.id, tarian tradisional ini lahir dan berkembang dalam kultur dan tradisi di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba.

Gerakan tari pakarena tercipta dari gerakan-gerakan puteri khayangan yang turun ke bumi. Penduduk asli Gowa percaya dahulu ada sekelompok puteri khayangan yang turun ke bumi dengan misi mengajarkan perempuan bumi pelajaran kewanitaan, seperti berhias dan menenun. Kedua pelajaran tersebut, misalnya, nampak jelas dalam gerakan tari pakarena yang disebut dengan sanrobeja dan angani.

Sanrobeja berasal dari kata Sanro dan Bija yang berarti dukun beranak. Tari ini melukiskan tata cara merawat serta mempercantik diri agar tetap di senangi suami.

Sumber: internet

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: