Feni Linda Wati – Ed Pipiet Senja

Tadi siang aku menemani Naya Alin nonton film Tegar bersama teman-teman sekolahnya. Saat lampu studio dimatikan dan film dimulai dengan adegan kakek yang menggendong bayi Tegar. Air mataku tiba-tiba mengalir deras. Ingatanku kembali ke waktu 10 tahun lalu.

Saat aku membuka amplop hasil pemeriksaan TORCH. Saat itu kehamilanku masuk minggu ke 8.

Amplop yang berisi keterangan kalau aku positif terinfeksi toksoplasma itu kuserahkan ke dokter obgynku. Saat dokter membuka amplop, beliau terdiam sejenak.

Aku langsung berkata, “Saya positif toxo ya Dok?”

Dokter menarik napas dan berkata.”Ibu sudah tahu. Jadi mulai hari ini sampai 3 bulan ke depan kita fokus ke pengobatan toxo.”

Beliau meresepkan antivirus 2 macam dan berbagai vitamin untukku.

Aku sempat bertanya apa tidak ada vitamin untuk janinku. Kata beliau sementara tidak. Jika ibunya sudah sehat baru diresepkan vitamin untuk bayi yang di kandungan.

Setelah tahu positif toksoplasma, aku banyak membaca berbagai artikel yang berkaitan dengan tokso di internet. Aku juga sharing dengan beberapa temanku yang pernah positif toksoplasma, atau mereka punya keluarga yang pernah positif toksoplasma saat hamil.

Dari 3 testimoni, semuanya membuatku semakin stress. Satu temanku bayinya meninggal di kandungan saat kandungan berusia 5 bulan. Seorang pernah melahirkan anak anasefali (tanpa tempurung kepala), dan meninggal setelah beberapa jam dilahirkan. Satu lagi mengalami kebutaan pasca melahirkan.

Bayangkan bagaimana aku melewati fase ini. Aku ketakutan sendiri. Suamiku kerja di lokasi. Saat itu aku juga tinggal jauh dari keluargaku. Aku stress dan mengajak keluargaku ikut stress memikirkanku.

Pernah tengah malam aku telpon kakakku di Samarinda hanya menanyakan, bagaimana kalau habis melahirkan aku buta. Apakah aku boleh tinggal di rumahnya. Hehehe. Abahku juga jadi sering telpon menanyakan kabarku. Pasti beliau sangat khawatir dengan kondisi mentalku saat itu.

Resiko janin yang terinfeksi TORCH di antaranya, cacat fisik, cacat organ, cacat otak, dan cacat gen. Terganggu sistem saraf, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem metabolisme tubuh. Dan Qadarallah Alin terlahir dengan cacat gen. Cacat yang tidak terlihat secara kasat mata. Bermasalah dengan metabolisme dan punya kelainan jantung.

Inilah yang menyebabkan airmataku terus keluar, padahal baru beberapa menit film dimulai. Ada rasa sedih sekaligus syukur di antara airmataku. Saat itu, bisa saja Alin terlahir seperti Tegar, karena ada resiko cacat fisik. Tapi Allah pasti tahu, mentalku belum mampu dititipi anak seistimewa Tegar.

Beberapa kali aku harus mengusap air mataku. Dalam kegelapan kudengar isak tangis Alin di sebelahku. Ahh anak istimewaku ini sangat lembut hatinya. Jangankan nonton film Tegar. Nonton film Indosiar aja bisa membuat dia menangis.

Dan anak-anak seperti Tegar sering kami temukan di RS. Bahkan ada yang secara fisik lengkap. Tapi otaknya yang bermasalah, sehingga hanya bisa berbaring, karena anggota tubuhnya banyak yang tidak bisa berfungsi dengan baik.

Ada qoute di akhir film Tegar tadi.
“Sesuatu yang mudah bagi kita, bisa jadi sulit bagi orang lain. Sebaliknya, sesuatu yang sulit bagi kita mungkin mudah bagi orang lain.”

Quote dari mama Alin (ini sudah berulang kali kutulis)
“Allah selalu sempurna dalam penciptaanNya. Hanya manusia yang membatasi makna kesempurnaan dengan sangat sempit. Hanya sebatas tampilan dan kelengkapan fisik.”

Anak-anak yang terlahir istimewa ini adalah bukti nyata. Ketika Allah kurangkan fungsi salah satu bagian tubuh, maka Allah akan lebihkan fungsi bagian tubuh yang lain.

Kita yang punya tangan normal saja belum tentu bisa melukis dengan baik. Tapi Tegar bisa melukis dengan baik menggunakan kakinya. Dan hasilnya bagus sekali.

Dia juga bisa tegar menjalani takdirnya. Seperti namanya.

Ralien Putri Sakinah.
“Anak perempuan yang memiliki jiwa yang tenang, yang bisa menenangkan orang-orang yang berada di sekitarnya.”

Kudengar dari dokter di RS. Saat ini jika ada ibu hamil dinyatakan positif terinfeksi TORCH. Dan usia kehamilan dibawah 3 bulan, maka akan disarankan untuk digugurkan. Walaupun keputusan melanjutkan kehamilan atau tidak tetap berada di tangan kita.

(Visited 41 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.