Pipiet Senja

Sejak, Senin 29 Oktober 2023, saya berkutat saja di RSUI. Jadwal fisioterapi, demikian seharusnya. Masih ada 3 kali lagi, dianggap hangus karena bentrok dengan jadwal konsultasi ke Ginjal, Jantung dan Hematologi. Maklum, pasien Thallassaemia dengan banyak komorbid.

Sesuai pemberitahuan melalui WA RSUI, saya diminta datang Senin sore, dokter praktek pukul 14.00. Maka berangkatlah ke RSUI hari Senin tsb, pukul 13.00.

Setelah registrasi diminta langsung ke lantai 3, Rehabilitasi Medik.
Perawatnya bilang,”Dokternya jam 5 ya Bu. Silakan kalau mau makan siang dulu.”

Yawislah, kebetulan belum sarapan. Di kantin sarapan plus makan siang, lanjut Ashar. Pukul 15. 30, aku kembali ke lantai 3, petugas menyambut.

“Silakan, dokter sudah datang dari tadi. Ibu ke mana saja?” tanyanya seperti menyesali.
“Lah kan tadi katanya dokter datang jam lima?”
“Ya, sudah Ibu tunggu di sana saja,” tukasnya seraya menunjuk bangku depan pintu periksa dokter.

Menanti sekitar 20 menit, seorang perawat keluar menghampiriku.
“Ibu kan pasien dokter Tresya, jadi gak bisa hari ini. Silakan minta dijadwalkan besok ke perawat itu….”

Aku pun kembali ke perawat lelaki bernama Ihwal. Dia membuatkan perjanjian untuk besok, konsultasi dengan dokter plus melanjutkan fisioterapi.

Hari ini, Selasa, 31 Oktober 2013. Saya pun kembali ke RSUI, sesuai perjanjian dengan dokter pukul 09.00 sd 11.00.

Naik Gocar lagi, karena jika dengan angkot saya sudah tak sanggup jalan jauh. Tiba di lokasi registrasi, diminta ke lantai 3.

“Ini yang kemarin tidak jadi,” kata saya kepada petugas.
“Loh kok balik lagi?” tanyanya terdengar keheranan.
“Kemarin kan ditolak dokter. Terus disuruh besok kembali ke sini,” jawabku mulai tak enak hati.

Perawat perempuan di sebelahnya, ambil alih dan mencermati berkasku. Kemudian dia menanyaiku berulang kali:”Siapa yang menyuruh Ibu ke sini lagi? Dokter atau perawat? Yang gemuk? Pake kacamata?”

Aku menjelaskan berulang kali pula.
“Jadi, kemarin Ibu gak diapa-apain sama dokter?”
Tiga kali pertanyaan serupa. Sampai aku kesal dan bilang:”Iya gak diapa-apain. Ini gak percaya saya, ya?”

Perawat lelaki di sebelahnya kembali ambil berkasku. Pergilah dia ke ruang dokter. Sekitar 10 menit baru datang menghampiriku.

“Ibu, hari ini gak bisa konsul dengan dokter Tresya. Karena jadwal fisioterapinya masih harus dilanjutkan. Jadi Ibu minta jadwalkan dulu ke CS di bawah….”

“Astaghfirullah…. kalau dijadwalkan berarti paling bisa minggu depan, ya? Karena hari Kamis ada agenda transfusi?”
“Iya begitu….”
“Lantas, saya nyeri bekas operasinya, harus diobati apa?”

Tenang saja dia menyahut,”Ya begitulah prosedurnya ya, Bu.”
Mendadak naik darah rasanya.

“Baik, saya ikuti saja aturan mainnya, terserah apa maunya. Tapi nenek-nenek begini, saya penulis dan mantan jurnalis. Saya akan tulis semuanya di medsos. Terima kasih!”

Demikianlah, sesuai ucapan dan janji, maka saya pun meluahkan kejadian, dan kekecewaan selama dua hari wara-wiri, nihil berobat ini di medsos.

Entah siapa yang salah. Intinya inilah pengalaman pasien BPJS yang banyak lika-likunya.

(Visited 15 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.