Pipiet Senja

Nukilan 3 Jam 3,5 Milyar

Hatta, Kerinci adalah sekepal tanah surga yang dilempar oleh Tuhan ke bumi. Kerinci terkenal sebagai Kabupaten paling elok di Provinsi Jambi. Kerinci sendiri berasal dari bahasa Tamil, “Kurinji”. Nama bunga strobilanthes kunthiana yang tumbuh di India Selatan di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut.

Lebih dari sekedar unik, masyarakat Kerinci hidup dengan budaya Minangkabau, tetapi memegang titel sebagai penduduk Jambi. Berdasarkan bahasa dan adat istiadat suku Kerinci termasuk kategori Melayu, paling dekat dengan Minangkabau dan Melayu Jambi.

Leluhur Bara berasal dari suku Minang, mereka merantau dan menetap di kawasan kaki gunung Kerinci. Kaum familinya kini tersebar di Padang, Jambi dan Jakarta.

Bara terkenang kembali saat-saat indah semua bisa berkumpul di rumah panggung ini. Cahaya rembulan penuh jatuh dengan sempurna dari langit Kerinci. Pulang mengaji di surau, anak-anak biasanya tak banyak kegiatan lagi selain masuk ke rumah untuk tidur.

Namun, apabila malam purnama begini biasanya anak-anak boleh bermain. Permainan anak-anak kampung yang sederhana. Anak perempuan bermain congklak, petak umpet dan karet gelang. Sementara anak laki-laki bermain patok lele, caksin dan bola kasti.

Biasanya Bara dan Zola mengambil sudut tersendiri di teras rumahnya. Mereka bisa lama berbaringan, bahkan setelah anak-anak lain pulang ke rumah masing-masing. Keduanya akan menatap langit Kerinci dalam balutan cahaya rembulan yang lembut.

“Heh, lagi melamun apa, Dek?” usik Zola penasaran melihat adiknya larut dalam pikirannya sendiri.
“Hmm, aku membayangkan Tugu Monas…”

Saat itu ia sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Segala warta berita biasanya mereka peroleh dari radio atau televisi tetangga.Jika tetangga sedang baik hati, anak-anak diperkenankan ikut nonton. Sebaliknya jika tetangga sedang ada masalah, habislah anak-anak diomel-omeli dan diusir.

“Langit Jakarta, ya?” Zola menatap wajah adiknya.
“Iya, aku ingin merantau ke Jakarta, Bang. Biar bisa menatap Tugu Monas,” ulang Bara dengan mata melamun.

“Terus?”
“Bisa melihat gedung-gedung pencakar langit…”
“Jadi orang kayalah kalau begitu, Dek!” tukas Zola.

Bara bangkit, duduk menghadap abangnya. Dipandanginya wajah Zola.
“Harus jadi orang kaya kalau merantau ke Jakarta, ya Bang?”
“Iyalah, harus kaya!” tegas abangnya.
“Mengapa begitu?” Selidik Bara ingin tahu.
“Hanya orang kuat yang bisa hidup di Jakarta. “

“Kuat kan bukan kaya, Bang?” Bara mencoba melogikakan percakapan mereka.
“Eh, pokoknya kuat, kaya dan hebatlah!” elak sang abang.
“Kalau tidak kuat, tidak hebat, bagaimana?”

“Jangan merantau ke Jakarta.”
“Kenapa?” tanya Bara penasaran.
“Bisa jadi gembel kau nanti di Jakarta!”

Percakapan itu kemudian disimpan baik-baik dalam ingatan Bara, dan entah bagaimana justru menjadi semacam obsesi. Ia semakin rajin belajar agar tak pernah tinggal kelas. Ia pun semampunya membantu Mamak, bagaimana caranya agar mereka bisa makan. Meski begitu, ia sadar bahwa menjadi pintar dan rajin belum tentu bisa membuat orang jadi kaya.

Mamak bekerja keras menafkahi anak-anak yang masih tinggal bersamanya. Mamak bekerja apa saja, serabutan, mulai dari berjualan makanan, lontong sayur dan bubur putih. Hingga mencari kayu bakar di hutan kemudian dijual ke belai-belai. Yakni pasar tradisional yang diselenggarakan satu minggu sekali.

Kini Mamak pun bekerja membantu ibunya di ladang Tapak Gunung Kerinci. Acapkali pula Mamak menjadi buruh di sawah dan ladang milik orang lain.

“Ya, yang penting mendapatkan pemasukan untuk beli makanan kita,” kata Mamak jika ada yang bertanya, mengapa mau saja bekerja serabutan.

Zola dan Bara beberapa waktu berusaha melanjutkan bisnis keluarga membuat perabotan. Namun agaknya utang yang tak terbayarkan menjadi berita, mencoreng kredibilitas bisnis mereka. Tak ada yang percaya memberi mereka modal, akhirnya usaha furnitur keluarga pun bangkrut setelah susah payah diperjuangkan.

Anak sulung, Ety yang telah menjadi guru sering juga membantu keluarga. Setidaknya untuk makan sehari-hari lumayan bisa terpenuhi. Namun, dibandingkan dengan kehidupan para tetangga, keluarganya terbilang hidup di bawah garis kemiskinan.
Bersambung

(Visited 12 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.