Pipiet Senja

Ambil ini puisi yang kupintal dinihari

Dentàng peronda dùa kali

Pucuk rindu ditelan senyap

Dibuai mimpi yang lelap

Ambil ini puisi yang menyemak di dada

Bersama geram dalam diam

Kuseret dengan sengaja

Berserak di bibir senja

Oh, wahai geramku dalam diam

Adalah semesta dukalara

Engkau seret ke gorong-gorong

Dikejar anjing menggonggong

Kibasan kemeja putih

Menyebar petaka di cakrawala

Pertiwi pun merintih

Ambil ini puisi luka

Terdedah dari airmata

Anak-anak menahan dahaga

Ibu pulang hampa

Bapak entah ke mana

Tiada kabar dari mancanegara

Oh, wahai geramku dalam diam

Adalah suara rakyat dibungkam

Hukum dipermainkan

Keadilan diperjualbelikan

Ulama dipenjarakan

Aktivis dikerangkeng

Oligarki ongkang ongkang kaki

Ambil ini puisi geramku dalam diam

Kuteriakkan amarah jelata

Kami yang terpuruk oleh nista

Kalian para koruptor

Kalian para bedebah

Kalian para penghisap darah

Terkutuklah!

Oh, wahai engkau yang merajalela

Merampok segala yang ada

Ambil ini puisi geramku

Usah kau utang pula

Sebab niscaya takkan terbayar

Kuberi gratis bersama darah yang mendidih

Api neraka menantimu

Sekejap lagi, sekejap lagi, sekejap lagi

Yakinlah Tuhan takkan biarkan

Kezaliman senantiasa menang

Allahu Akbar

Indonesiaku nan kucintai

Hingga detak jantung berhenti

Bangkitlah dan lawan rezim zalim!

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Merdeka!

Revisi, Jakarta November 2023

(Visited 25 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.