Pipiet Senja

Anno, 2006

Repost Kisah Umroh
Setelah tiga hari berada di kota Nabiyullah, kepala suku Cordova Abila, demikian panggilan kesayangan kami untuk Pak Muharom, akhirnya pagi itu memberi tahu kami.

“Pagi ini kita akan berangkat menuju Mekah, Saudara-saudara yang dimuliakan oleh Allah SWT. Nanti kita akan mampir di Bir Ali untuk mengambil Miqot…”

Berlinangan air mataku saat menyadari harus meninggalkan Madinah. Kupandangi tak putus-putusnya pemandangan sekitar Hilton Madinah melalui jendela bis. Sementara Ustad Mawardi mengawali guiding-nya dengan bersemangat sekali.

“Ya Tuhan, mudah-mudahan musim haji nanti saya diberi kemudahan pula untuk kembali ke sini,” gumamku sambil menyusut air mata, kemudian bergegas jeprat-jepret, tak mau kehilangan momen yang sangat berharga untuk mengabadikan pemandangan di sekitarku.

Terus terang, selama di Madinah aku hampir tak pernah ke mana-mana selain ke Masjid Nabawi, sekali dibawa oleh Cordova Abila ke perkebunan kurma. Bahkan aku menolak diajak ke percetakan Al Quran. Sebab ingin lebih banyak menikmati aura Masjid Nabawi dan melakukan ziarah Rasul setiap ada kesempatan.

Karena hari ini jadwalnya untuk umroh, maka jamaah pun diwajibkan mengenakan pakaian ihram, terutama buat jamaah laki-laki. Jamaah perempuan mengenakan pakaian putih-putih, meskipun diperbolehkan mengenakan baju lain yang kami inginkan.

Kami telah diberi tahu tentang hal-hal yang disunatkan sebelum berangkat;

Mandi untuk ihrom, seperti mandi janabat.
Ihrom artinya niat dalam hati untuk mengerjakan haji atau umroh karena Allah semata.
Berpakaian ihram yang didahulukan dengan: memakai wewangian khusus untuk pria, mencukur atau memotong rambut, merapikan jenggot dan memotong kumis, menghilangkan bulu ketiak dan bulu kemaluan, serta memotong kuku.
Setiba kami di tempat yang diberi nama Bir Ali, DR Achmad Satori. pembimbing rombongan di bis dua, memimpin niat dan doa umroh.
“Labbaikallaahumma umratan…”

Kemudian, “Inilah batas Tanah Haram…. Nah, mulai saat ini kita telah memasuki wilayah Tanah Haram, maka marilah kita menggemakan talbiyah… Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka…”

Ada yang menggedor hebat jauh di lubuk kalbuku. Kurasai aura spiritualnya semakin sangat mengental, demikian pula tersirat di wajah-wajah rombongan jamaah. Beberapa waktu lamanya tak ada yang berkata-kata kecuali menggemakan talbiyah, sholawat dan berdoa.
“Labbaik Allahumma Labbaik….”

Memasuki kawasan Tanah Haram aura yang sangat ajaib itu semakin mengental. Dan tampaklah Dar Al Tawhid Intercontinental Hotel, letaknya hanya setentangan mata dengan Masjidil Haram. Rombongan dipersilakan untuk memasuki kamar masing-masing, hanya diberi waktu sekitar sepuluh menit; menyegarkan diri, mungkin berganti pakaian dengan yang bersih. Meski untuk jamaah lelaki hal ini tidak memungkinkan, mengingat kain ihrom yang mereka miliki hanya seperangkat.

Kami kembali turun ke lobi, berkumpul dan bersiap untuk memasuki Masjidil Haram.

“Mari kita membacakan doa memasuki Masjidil Haram, ibu-ibu dan bapak-bapak,” himbau DR Achmad Satori.

Jantungku berdebar kencang, air mataku kembali berderaian. Tanpa sandal, hanya kaos kaki, kami pun keluar dari hotel langsung memasuki pelataran Masjidil Haram. Saat memasuki ariyal masjid, kupandangi sosok-sosok berihram, dan seketika ingatanku melayang ke acara manasik haji yang pernah dilakoni Haekal dan Butet semasa TK.

“Ya Allah… datanglah juga ke sini, anakku,” jeritku menyeru asma-Nya sambil kupanggil pula nama anakku supaya mengikuti jejakku.

Dadaku serasa sesak, dipenuhi oleh keharuan luar biasa yang tak mampu kujabarkan dengan kata-kata. Air mataku semakin buncah, sambil membacakan talbiyah tanpa mampu kubendung lagi tangisku meledak hebat yang berujung tersedu-sedan.

“Ya Robb Yang Maha Menggenggam… kupenuhi panggilan-Mu, kupenuhi panggilan-Mu… Perkenankanlah agar semakin dekat diriku dengan-Mu, berdoa di depan Multazam, memperbanyak dzikir dan bertasbih selama tinggal di tanah suci-Mu ini…,” gemetar hebat bibirku mengulang-ulang doaku ini.

Seluruh jamaah yang berjumlah 92 orang kemudian dibagi beberapa kelompok. Kalau tak salah 15 orang dibimbing oleh dua-tiga orang Mutawif. Aku termasuk di dalam rombongan yang dipimpin oleh DR Achmad Satori dan Ustad Mawardi.

Tiba-tiba aku merasa harus jujur dan berterus terang tentang kondisiku, tentang takaran darahku yang di bawah standar, tentang penyakit abadiku.

Eh, malah dimaknai secara berlebihan, walau kutahu itu karena rasa sayang mereka, simpati yang dalam terhadap diriku.

Salah seorang jamaah, Pak Baskoro segera mengulurkan bantuannya dengan ikhlas; “Jangan sungkan-sungkan, gak usah malu-malu atau gengsian segala, Bu. Pake kursi roda saja, ya, biar saya yang dorong.”

“Eeee… masih kuat kok, sungguh… jangan berlebihan mengasihani saya. Tadi itu saya hanya ingin jujur, kuatir nanti menyusahkan Anda semua. Maksudku, kalau nanti waktu tawaf atau sa’i saya tiba-tiba ambruk… Mohon jangan ditinggalkan, jangan diserahkan kepada orang Arab… Eee, mohon ditemani kalau saya pingsan ya, ibu-ibu, bapak-bapak…” pintaku niscaya terdengar memelas.

Saat kulihat untuk pertama kalinya wujud Ka’bah, maka kian hebatlah tangisku!

Ya Allah… inilah kiblatku sepanjang hayat… serasa ingin mengapung saja mendekatinya, segera menyentuhnya dan mencium Hajar Aswadnya!

Tiba-tiba teringat perkataan seorang jamaah, bapak Himawan, bahwa apabila ingin mencium Hajar Aswad, maka berdoalah begitu pertama kali datang di depan Multazam; “Perkenankan aku mencium Hajar Aswad-Mu Ya Allah,” demikian sarannya.

Manusia sudah menggelombang, rombongan jamaah Cordova Abila berusaha membaur, menyelinap ke dalam lingkaran jamaah yang sedang melakukan tawaf.

“Di sinilah kita memulainya,” berkata DR Achmad Satori. “Ya, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad dengan posisi Baitullah di sebelah kiri kita…”

Begitu melintasi tanda hijau sambil menoleh serempak jamaah berseru: “Bismillahi Allahu Akbar… ”

Kemudian kuketahui ada juga yang berseru lantang: “Ya Rasulullah…” dengan sangat takzim dan penuh kerinduan, sehingga air mata bercucuran deras.

Maka isak tangis pun menyertai setiap helaan doa setiap kali melintasi Ka’bah bagian ini. Tak jarang ada jamaah (terutama dari Afrika, Turki, dan Iran) yang histeris, meratap, melolong, menjerit-jeritkan semua doa mereka. Bahkan tak jarang pula bila ada kesempatan untuk menempel di Ka’bah, jamaah itu pun akan ngedaplok saja, bak lintah yang tak sudi dipisahkan lagi dari kain kiswah yang membalut Ka’bah.
@@@

(Visited 43 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.