Share Ustadz Aunur Rafiq – Penyaji Pipiet Senja

Terowongan-terowongan ini, sebagaimana dikatakan musuh yang takut kepadanya, bukan hanya tempat berlindung yang aman dan tersembunyi saja tetapi juga aset strategis dan pusat supply yang maju di dalam sistem perang jalanan yang sekarang mendapat pengalaman baru, disamping pusat ancaman efektif melawan musuh dengan serangan-serangan dadakannya.

Mereka mengira bahwa suhunya sedang dan nyaman. Mereka tidak mengetahui bahwa suhunya sangat tinggi, melelahkan dan sempit. Tekanannya juga berat, sedikit oksigen, membuat sempit dada dan susah bernafas.

Salah seorang dari mereka tinggal berbulan-bulan tanpa bertemu keluarganya kecuali sebentar. Ia menggali di kedalaman bumi sesuai peta yang rumit.

Kemudian memindahkan tanah beberapa tahap dalam perjalanan panjang yang melelahkan, dibagi-bagi dengan suatu perhitungan agar tidak diketahui oleh mata-mata yang memantau.

Seringkali mereka membawa lampu minyak tanah untuk menerangi galian di dalam tanah yang gelap lalu wajah-wajah mereka keluar dalam keadaan hitam terkena hembusan asap hitam dan debu tebal.

Jika turun hujan deras, air merembes ke tempat mereka dan melemahkan pilar-pilar galian mereka dan memindahkannya dengan keranjang-keranjang berat secara pelan-pelan dan cerdas agar tidak diketahui.

Seringkali mereka kejatuhan proyektil dan menutup berbagai ventilasi hingga mereka meninggal tercekik karena panas, gas dan tidak adanya udara.

Tidak jarang juga dimasuki kalajengking, ular dan serangga yang nyasar lalu menyakiti dan membahayakan mereka.

Jika salah seorang dari mereka kembali kepada keluarganya, setelah beberapa waktu lamanya, lalu terlihat lelah ingin mengembalikan kebugaran dan mengistirahatkan badannya, keluarganya hampir tidak melihatnya seperti sebelumnya, kemudian kembali ke sarangnya yang tersembunyi sebelum diketahui orang.

Ia hidup di bawah debu yang mengepul dari galian, reruntuhan dan longsoran mendadak dan akibat kesalahan-kesalahan yang tidak diperhitungkan.

Salah seorang dari mereka tinggal diam berhari-hari karena khawatir bisikan mereka terdengar. Mereka tidak bergerak kecuali ada keperluan karena khawatir gelombang gerakan mereka terdeteksi.

Mereka hidup dengan bekal air yang diperhitungkan, beberapa butir kurma, beberapa potong roti kering dan kue lama yang mereka celupkan ke dalam air sedikit agar tetap bisa hidup dan mampu bertahan.

Mata mereka hampir buta karena kekurangan cahaya kalau saja mereka tidak muncul ke atas sebentar untuk melaksanakan tugas sebentar lalu mereka tinggal beberapa menit sebelum mata mereka kehilangan kemampuan penglihatannya.

Dahulu hingga sekarang terowongan menjadi paru-paru kehidupan kita yang diblokade dari orang-orang jauh dan dekat. Juga menjadi jalan untuk tetap bertahan dan teguh dengan berbagai makanan, peralatan, obat-obatan dan kebutuhan lainnya.

Ya Allah jadilah Engkau penolong, pendukung dan pembela mereka. Ya Allah janji-Mu tidak pernah salah dan tentara-Mu tidak pernah kalah. (ars)

(Visited 21 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.