Pipiet Senja

Satu kali aku menjadi Juri urusan Literasi. Kita sebut saja Duta Literasi se-Kabupaten Nganu.

Sudah terpilih 10 orang yang ter-teeer. Okelah kalau begitu, ringan tugas Juri, pikirku.

Ada sesi presentasi. Satu demi satu naik podium, menyampaikan sikon Literasi di kawasan yang diwakilinya.

Semua bilang, tak ada Perpus di daerahnya. Minat baca menyedihkan. Anak-anak lebih suka gadget daripada buku bacaan.

Satu cakeeep, dua okeeee, tiga… Lah kok mirip temanya? Mirip juga diawali dengan pantun, misalnya pantun sbb;

Jalan-jalan ke Sukabumi
Iseng naik ontang-anting
Jangan mau dipoligami
Nanti dilempar kotoran kucing

Wooooot?
Kulirik dua juri sebelah menyebelahku sama nyureng-nyureng saja matanya. Persis dengan mataku. Hihi.

Lantas ada sesi Juri bertanya peserta eh, finalis menjawab.

“Sebutkan 3 saja penulis yang tinggal di kota Anda?” tanya Juri sebelah kiriku berasal dari Bandung.

Seharusnya bisa dijawab. Sebab ketika pembukaan Ketua Panitia sempat menyebutkan 3 penulis tsb. Maaf, bukan somse, ada namaku disebut.

Ajaib!
Tak seorang pun dari 10 finalis bisa menjawab. Jangankan 3 penulis, 1 saja yang duduk di depan mereka; kagak dikenal, Brow!

Giliranku bertanya: “Sebutkan satu saja sastrawan Angkatan 45?”
Tak ada yang bisa jawab.
Aku sengaja baca sebait puisi Chairil Anwar.
“Aku ini binatang jalang….”

Masih tak ada yang bisa jawab. Malah mata mereka seperti kaget banget, melotot ke arahku.

Apa mereka mengira aku ini binatang jalang, ya? Waduh, ya nasib, ya nasib!

Rasanya mendadak pening pale gw, eeeh!

Menghabiskan tempo 3 jam, nyaris tak bisa kuputuskan siapa 3 finalisnya. Akhirnya kuserahkan saja kepada dua Juri.

Pokoknya ada yang terpilih sebagai Juara 1, Juara 2, Juara 3 Duta Literasi Kabupaten Nganu.
Eng ing eeeeng…..

SekianCeritaManini

(Visited 26 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

3 thoughts on “Duta Literasi Tak Tahu Sastrawan Angkatan ’45”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.