Exif_JPEG_420

Pipiet Senja

Kali ini dokter di RSUI merujuk ke klinik Ginjal & Hypertensi RSCM. Seminggu, dua minggu berpikir dan mempertimbangkan. dilaksanakan atau abaikan saja?

Namun, tiap kali habis ke kamar kecil, lihat urine agak berbusa. Perasaanku sungguh tak nyaman. Macam-macam pikiran mengerikan seliweran di benakku.

Pasien gagal ginjal, cuci darah dua kali dalam sepekan. Seorang muridku setelah bertahan 15 tahun, akhirnya meninggal juga.
Bukan karena ginjalnya melainkan serangan jantung.

“Nak, penyakit jangan diabaikan. Harus ikhtiar berobat,” terngiang kembali nasihat almarhum Bapak.

Padahal ia sendiri telah lupa dengan nasihatnya. Hypertensi langka berobat.

Kalau ditanya, “Oh, ini sehat, sehat, gak apa-apa.”
Jika kupikiran kembali, sepertinya Bapak tak mau ke rumah sakit, sebab tak ingin merepotkan keluarga.

Bapak berujung stroke dua kali. Membawa beban baring, sebab ada 3 anaknya dalam

Setelah sebulan lewat akhirnya kuputuskan untuk melaksanakan rujukan dokter. Minta diubah bukan ke Rscm, tetapi ke rumah sakit lain di Depok.

Maka pergilah aku ke rumah sakit swasta. Namun bisa dikover BPJS.
Eng ing eng…

Ini antri pendaftarannya sampai 2 jam. Dari jam 7 malam sampai jam 9 malam.

Eeeeh, ndilalah, Dokter baru akan datang jam 10 malam.
Gelooow yeuh!

Demi ceklab ginjal.
Kalau sudah ada hasilnya mah balik deui we ka RSUI.

Bisa sampai tengah malam, kata sesepasien.
Gak sekalian sampai subuh aja, Dok?

Note: Sampai rumah pukul 00.30!
Disuruh datang kembali untuk ceklab minggu depan.

Menunggunya 5 jam, setor muka dengan Dokter hanya 5 menit. Dahsyat!

(Visited 12 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.