Pipiet Senja

Ini lakon masa remaja di Cimahi era 76-an. Aku dan ketua Karang Taruna Margaluyu, Agung, punya kelompok drama yang kami beri nama Teater Terminal. Anggotanya nenoneno; tukang tahu, tukang bajigur, gongli alias bagong lieur, bandar Nalo, bencong jejadian, mahasiswa, pelajar dan seniman ecek-ecek.

“Mbak Pipiet, bikin skenario dramanya tema lebaran, ya. Buat acara Halal bi Halal di Bale Desa,” pinta Agung, mencegatku sepulang tarawih di Masjid Al Wutsqo.
“Okelah!” jawabku semangat.

Malam Takbir di Alam Kubur, berhasil kugarap hanya dalam tempo beberapa jam saja.

Diketik dengan mesin ketik jadul yang bunyinya heboh. Ceritanya bersetting dimensi lain, para arwah yang selama bulan puasa dibebastugaskan dari siksa kubur, harus kembali ke alamnya semula yang penuh siksa sesuai amalan semasa hidup. Mereka curhatan di sebuah taman.

Ada arwah haji yang suka merentenkan, gongli alias bagong lieur bin perek, pejabat yang doyan maling duit negara, anggota dewan tukang manipulasi suara rakyat, bencong yang sudah operasi kelamin tapi gagal, sehingga dia memutuskan bunuh diri.

Sarat kritik sosial, tapi aku mengemasnya dengan adegan dan sindiran menggelitik plus musik dangdut campur rock.

Karena masih langka teater seperti ini, langsung mendapat perhatian warga desa. Pak Erwe menyemangati, suka melongok saat latihan, membagi makanan-minuman buat kami. Latihannya hanya beberapa kali saja sepulang tarawih di kantor Erwe.

Akhirnya, tibalah pentas Teater Terminal sepekan setelah lebaran. Tempatnya di Bale Desa, sebuah bangunan baru di tengah pesawahan dan kuburan kuno.

Rentenir diperankan Agus, tukang tahu. Koruptor oleh Didi, mantan pemabok. Haji Riba oleh Entis, mahasiswa. Gongli oleh Arnie. Bencongnya oleh Tukul, bandar Nalo. Malaikat oleh Agung Sang Ketua.

Ada selusin pemain figuran, semuanya mantan pemabok dan pemake alias ngeboat, proses taubatan nasuha. Sebagian bertugas menggotong jenazah yang akan dikuburkan. Sebagian lagi tukang mewek dengan kudung serba hitam.

Kelakuannya macam-macam, kubebaskan sajalah yang penting mereka mau main dan tobat. Hehe.

Coba bayangkan; ada yang bawa bonekaan gede di bakul digendongnya. Ada yang pakai kostum ala kura-kura ninja, Superman dengan kolor asli yang kucel-kumal.

Eh, ndilalah, si Uja, berlagak sebagai polisi lengkap dengan priwit prit jigonya. Hadeuh, pokoknya segala aturan main perteateran raiblah, dilabrak semua sudah!

“Teuinglah, yang penting rame saja, ya Mbak Piet,” komentar Sang Ketua, cengiran saja, selama beberapa saat menemaniku mengatur musik.
“Hmm, prunglah, mainkan saja!” kataku menyemangati.

Suara anjing melolong terdengar mengerikan, niscaya menggema ke seantero desa Margaluyu. Termasuk ke kawasan kuburan kuno di belakang bangunan Bale Desa. Bisa saja membangunkan mereka yang memang telah lama tiada, entahlah!

Anak-anak main seenak dewek, lepas sudah dari skenario. Anehnya penonton heboh menyambut dengan sukacita, guyonannya sukses mengocok perut. Kritikannya oke punya bikin merah kuping pejabat Kecamatan. Mereka yang hobi jual tanah bengkok demi kocek pribadi.

Di akhir cerita, adegan Malaikat menggiring para arwah yang telah curhatan kembali ke alam kubur. Jika ada arwah yang membangkang, maka seketika Malaikat menghajarnya dengan gegendir alias pentungan yang terbuat dari gulungan koran. Jelebeeet, jelebeeet!

“Wadoooow, bisulku kena euy!” teriak Apep sambil ajret-ajretan, loncat-loncat tak karuan. Kakinya menginjak Neng Ukeu, jerit cewek si bahenol nerkom itu jerit-jengker, teriak manja.

“Pssst, serius, masuk barisan! Hayang digablog siah ku aing!” perintah seorang bencong palsu.
“Ho-oooooh!” sahut bencong yang nyeleneh.

Dia buru-buru masuk barisan figuran yang mengiringi keranda, digotong rame-rame. Ceritanya ada orang yang baru dipanggil Sang Pencipta, geto loh. Hihi!

Saat itulah, aku yang berdiri di kanan panggung mendadak melihat sosok lain berkostum serba putih di belakang Agung si Malaikat.

Seketika bulu romaku merinding hebat, bau kemenyan campur bau bangkai sekonyong menyengat.

Aku mencermati semua pemain dan merasa yakin, sosok itu, sungguh bukan bagian dari anggota Teater Terminal.

Alamaaaak, siapakah gerangan makhluk itu?
Yowis, kabooor!

(Visited 23 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: