Pipiet Senja

Saat hebohan aksi lawan Ngahok, aku rajin ikutan dengan Barisan Emak-emak Militan. Beruntung sangat bisa jumpa, berbincang langsung dengan para tokoh masyarakat. Terutama tokoh politik dan Ulama, Habaib.

Bersama Barisan Taruna Muslim, diajak anaknya Ustad Alfian Tanjung, Iqbal.
Beberapa kali temu muka, seminar dengan warga Muhammadiyah.

Nah, satu kali diminta naik mobil komando efpei untuk baca puisi.
Dengan gemetar aku naik mokom.

“Ini kakaknya Amir Biki, namanya Yeni Biki,” ujar seorang panitia.
Aku menyalami perempuan dengan semangat: jihad fi sabilillah di topi yang menutupi rambutnya.

“Mbak Pipiet Senja, ya,” katanya saat menerima uluran tanganku.

Ya Allah, betapa terharu ada yang mengenalku sebagai penulis.
Makin terharu pula saat ia menyilakanku tampil lebih dulu.

Semangat jihad fi sabilillahnya, dan semua peserta demi di depan Istana hari itu, seketika membalun jiwa ragaku.

Maka tanpa gentar kusuarakan lantang puisi, eeeh, tepatnya orasiku: Ganyang PKI!

Saat akan turun sosok perkasa itu memelukku. “Sampai jumpa, Mbak Pipiet, salam perjuangan,” bisiknya.

Seperti yang sudah kuperkirakan, Lansia 70 an itu orasi dengan gagah berani. Tanpa teks!

Suaranya menggema ke pelosok Istana, parat terus menggaung ke Monas dan sekitarnya.

Sayang sekali tak punya rekaman videonya. Namun ada beberapa kali kusaksikan kakak Amir Biki ini menyuarakan kezaliman rezim.

Nah, kita tinggalkan dulu urusan aksi dan demo. Beberapa kali aku masuk ICU, kutemukan Lansia perkasa.

Seorang Lansia di sebelahku di ICU, sudah dua bulan terbaring tak berdaya. Konon, kanker lambung. Tampak perutnya seperti ibu hamil 9 bulan. Segala selang mengerubungi tubuhnya; dua kaki, dua lengan, kateter dan alat untuk membuang cairan.

Dua hari bersamanya tak ada seorang pun yang menengoknya. Masih mending aku ada yang setia menunggu, meskipun harus di luar ICU. Adikku Rosi siaga jika aku membutuhkannya.

Duh, tiap kali kusibak tirai penghalang, tak sanggup lama-lama melihat kondisinya.

“Takut lihat saya, yaaaa?” tanyanya satu saat memergokiku lagi ngintip. Suaranya terdengar menggeletar.

Ternyata selang oksigennya sengaja dia lepas. Agar bisa bicara agaknya.
“Eng eng…. Bukan takut, tepatnya gak tega,” kilahku tergagap. Sebab tebakannya benar sekali.

“Semua orang bakal mati. Jadi gak perlu takut lihat orang lagi sekarat.”
Kemudian tak ada lagi suaranya.

Panik kubel perawat. Kulaporkan selang oksigen pasien sebelah lepas.
Dua perawat segera datang, memeriksa si Nenek.

Ternyata sudah meninggal dengan gagah berani serta ikhlas. Ya, sempat kudengar gumam pamungkasnya: Lailaha illallah…

Ia pergi sendirian, tiada anak cucu dan keluarganya. Entah mereka di mana.

Kemudian masih kutemukan lagi Lansia perkasa. Ada nenek 75, jualan surabi pinggir jalan. Lansia dorong gerobak pemulung.

Terakhir kemarin di Klinik Ginjal. Lansia ini wajahnya khas seberang.
“Dari mana aslinya, Bu?” tanyaku.
“Meulaboh Aceh….”
“Sendirian ya Bu?”
“Iyalah, sudah biasa jalan ke mana-mana sendiri saja. Tiga anak di luar negeri, cucu sibuk kuliah.”

Kubiarkan dia curhatan. Tinggal di Jagakarsa, tiap dua kali seminggu hemodialisis alias cuci darah. Sudah dua tahun, katanya.

“Maaf, umur Ibu berapa?”
“Oh, 88 tahun April mendatang….”
“Masya Allah awet muda sekali. Kirain masih 60-an,” decakku takjub nian. “Oya, naik apa dari Jagakarsa ke sini?”

Dengan semangat dia bilang, pertama naik jaklingko, sambung KRL, lanjut bis kuning.

Allahu Akbar!
Dan itu dijalaninya dua kali seminggu dengan ikhlas, damai serta hepi-hepi saja.

Lama aku termenung. Aku pun jalan sendirian ke mana-mana. Namun pasca operasi tulang punggung, tak berani naik angkot. Ke mana-mana Gocar, jadi dari pintu ke pintu. Dananya kalau ditotal sebulan saja mahal bangeeet!

Pantaslah ɓeŕapapun hasil jualan buku dan honor menulisku, cepat habisnya!

Yawis, mulai besok harus mengikuti jejak Cutnyak. Umurnya 20 tahun lebih tua dariku.

Ya Robb, berikanlah kekuatan dan semangat seperti pejuang kehidupan Aceh ini. Agar aku bisa hemat dan tak sering minta-minta kepada anak.

Bissmillah….

(Visited 81 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.