Ramaditya Adikara – Penyaji Pipiet Senja

Review buku: Undisputed Truth (Kebenaran yang Tak Terbantahkan) karya Mike Tyson dan Larry Sloman

“Harta, ketenaran, tahta, dan wanita tak lantas membuat orang bahagia. Pada akhirnya, ajaran agamalah yang menuntun seseorang pada kedamaian.”

Siapa sih yang nggak kenal Mike Tyson? Petinju kulit hitam legendaris yang terkenal dengan pukulan mematikan dan sanggup membuat lawan terkencing-kencing hanya dengan tatapan matanya saja. Ternyata, Om Tyson sudah membukukan kisah hidupnya, dan dalam waktu dua hari saya lalap habis.

Ada dua hal yang membuat saya menyukai Tyson; petinju hebat dan pemeluk agama Islam. Namun, ketika membaca buku ini, kekaguman saya itu bak daun kelapa yang dihempas angin topan.

Jujurly, sembilan puluh persen isi buku ini adalah tentang kehidupan Tyson yang bergelimang dosa. Dia itu tukang nyolong, suka berantem, pengguna narkoba, dan sangat menikmati seks bebas. Jangan lupa sikap arogan dan jumlah wanita yang pernah sekamar dengannya, itu bisa mencapai ratusan!

Lalu, kenapa saya masih tetap membaca buku ini? Hold on, then!

Tyson yang tumbuh di lingkungan kumuh kota Brooklyn, sehari-harinya menjalani kehidupan yang serba bebas dan keras. Dia bolak-balik ditahan polisi, hingga akhirnya merambah ranah profesional tinju.

Kita mengenal Tyson sebagai pribadi tangguh dan petinju pilih tanding. Namun, di buku ini, saya baru mengetahui betapa rapuhnya jiwa Tyson. Dia sering menangis, gampang tersulut, dan tentu saja secara emosional tidak stabil.

So, berapa harta kekayaan Tyson saat berada di puncak panggung tinju dunia? Bertrilyun-trilyun! Ya, gampangnya gini deh! Ada pengamen di jalan yang minta mobil ke Tyson, maka saat itu juga mobilnya diberikan!

Saat dirinya dituduh memperkosa seorang gadis, Tyson merasa dirinya telah hancur. Tahun 1992 dirinya resmi tinggal di hotel prodeo selama tiga tahun. Namun, di sinilah dia mulai mengenal Islam, dan bertekad untuk memperbaiki hidupnya.

Namun, hidayah baru datang sekira 2010, saat dia menjalani perkawinan bersama seorang wanita bernama Kiki. Bayangkan! dari 1992 ke 2010, selain bertanding dan bikin onar, Tyson menghabiskan hidupnya dengan obat terlarang dan seks bebas serta foya-foya!

Tyson mengaku bahwa semua pencapaiannya tak lantas membuat dirinya bahagia. Senang, iya, tapi tidak bahagia. Dia tak menemukan cinta pada kesenangan yang dinikmatinya. Mulai dari masih miskin, jadi orang kaya, hingga bangkrut sampai-sampai dirinya ketakutan tak bisa membayar bubur untuk sarapan pagi.

Maka begitulah kehidupan seseorang. Ketika hidayah itu datang, hidup Tyson pun berubah. Hidayah yang tidak dia tunggu, tapi diperjuangkannya. Meski jatuh dan jatuh lagi, tapi dia tetap bangkit dan berusaha.

Setelah melepas sabuk juara dan hidup bersama Kiki, dirinya pun mendalami Islam dan hidup dengan damai. Harta pas-pasan, tak lagi dielu-elukan seperti dulu, tapi Tyson mengaku bisa hidup tenang dan bahagia.

“Semakin terkenal kamu, semakin banyak pula orang yang menginginkan kamu. Namun semua itu ada konsekwensinya. Pengkhianatan, perebutan, dan kekacauan. Lain halnya jika kau bukan siapa-siapa,” aku Tyson.

Secara keseluruhan, buku yang ditulis Tyson yang bernama islam Malik Abdul Aziz ini layak untuk dibaca, dengan catatan kalian orang dewasa di atas delapan belas tahun dan berpikiran luas. Sepuluh persen kebaikan atas hidayah yang diperolehnya yang diguratkan di akhir buku, justru menjadi konklusi yang indah, membuktikan bahwa ketika seseorang — tak peduli sebanyak apa dosanya — jika telah mendapatkan hidayah pun dapat hidup bahagia.

Banyak materi psikologi, nama orang / tempat, dan hal lain yang nggak saya masukkan dalam review ini. Selain karena saya benar-benar baru saja menuntaskannya, saya ingin intisari dari buku ini saja yang ditangkap siapapun yang membaca review ini. So, untuk lengkapnya silakan baca sendiri.

PS: Om Tyson ini udah pernah naik haji, lho! Jadi, kalau di Indonesia panggilannya H. Mike Tyson!

(Visited 29 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.