Grup Perjuangan – Penyaji Pipiet Senja

Terima kasih Bapak H. Johari Zein atas kemurahan hati Anda.

Inilah sosok yang telah berkenan bayar sewa JIS sejumlah 2 Milyar. Ada klarifikasi bahwa beliau bukan bagian dari JNE.

“Bagi saya itu tidak menyenangkan. Saya pulang sekolah dengan sepatu tinggal sebelah, lalu diganggu. Yah tapi saya syukuri, bikin saya jadi lebih waspada dan jadi lebih kuat,” ungkapnya dikutip dalam Kisah Nyata Pebisnis Mualaf, Senin (01/4/2023).

Ia seorang pedagang di toko kue dan Ayahnya pun memiliki profesi sebagai pebisnis. Tak heran, apabila Johari sudah terbiasa dengan lingkungan bisnis dan memiliki jiwa bisnis sejak kecil.

Bahkan, pada masa SMP-nya, Johari mulai berbisnis dengan membuat majalah sekolah menggunakan mesin tik jadul milik sang Ayah.

“Sebagai bisnis pertama itu sangat menguntungkan. Saya membuat copy dari artikel, dijilid lalu dijual. Dari situ, dikenal SMA mulai mengenal sebagai penjual majalah,” ujarnya dikutip dari kanal Youtube Rico Huang.

Setelah lulus SMA, Johari memutuskan untuk menempuh pendidikan sekolah tinggi dengan jurusan perhotelan. Selama kuliah, meski memiliki hasrat untuk berbisnis, namun dia pun rela untuk berhenti untuk bisa fokus belajar.

Setelah lulus kuliah, Johari pun mengawali karier di perhotelan. Lalu, beberapa tahun kemudian, dia sempat terjun di perusahaan logistik asing.

“Saya berkecimpung selama lima tahun di bidang logistik itu, dari awal menjadi sales hingga manager. Saya mengurusi bagian wilayah Indonesia,” katanya.

Dari pengalamannya di perusahaan logistik asing tersebut, Johari merasa dirinya memiliki hasrat untuk untuk memulai bisnis. Tekadnya pun kian terasah setelah dirinya mengerti seluk beluk dunia perlogistikan, sampai akhirnya Johari memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

“Mulai usaha itu dengan modal Rp100 juta, itu semua enggak cash ya. Udah dipakai buat sewa gedung, sepertinya sisa uang tunai cuma lima juta,” katanya

Perjalanan Johari jadi Mualaf Perjalanan Johari Zein menjadi seorang mualaf bukan tanpa sandungan. Dia sempat mengalami penolakan demi penolakan dari lingkungan sekitar yang mayoritas adalah menganut kepercayaan lain.

“Tapi, saya bersyukur orang tua saya termasuk yang tidak melarang dan punya kebebasan untuk memilih,” katanya.

(Visited 240 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.