Pipiet Senja

Hari ini ingin kujeritkan hati jelata
Saat para petinggi negeri hebohan
Menghitung hasil rekayasa suara
Pemilu yang dahsyat diacak-acak
Dari hulu ke hilir penuh bau kotoran para pengkhianat bangsa
Yang rela disetir oligarki demi ambisi pribadi

Hari ini ingin kujeritkan hati jelata
Saat beras mendadak langka
Kalau pun ada melesat
Harga tak teraih tangan-tangan
Kurus kering menahan lapar

Wahai, para penjilat bangsa
Adakah yang masih peduli pada kami?
Kaum pinggiran yang damba pemimpin bangsa
Jujur, adil, amanah berbagi sejahtera
Wahai para petinggi negeriku
Masih tersisakah sekeping nurani nan putih bak kapas-kapas di langit itu?

Bukan pasukan arogan yang lancang menginjak kehormatan ibu Pertiwi
Mengobral murah warisan leluhur kami
Menjual semesta kekayaan dari Sabang sampai Merauke

Lihatlah!
Burung garuda tak lagi mengepak sayap di angkasa berkabut
:Tiada peduli jelata meringis kesakitan
Mengikat perut kencang dengan selendang
Sembako ikut melejit
Tak terjangkau tangan kurus kering menahan lapar

Hari ini ingin kujeritkan hati jelata
Anak-anak tersedak menahan isak
Menanti emak pulang cari nasi sekepal demi sekepal
Tak peduli beras campur batu
Yang penting lagu keroncong rehat dulu

Hari ini ingin kujeritkan hati jelata
Yang telah berubah menjadi jarum-jarum kutukan
Menyerbu tujuh turunan para pengkhianat negeri
Yang doyan makan duit rakyat
Demi mengejar ambisi dinasti
Anak haram konstitusi
Saatnya lawan kezaliman!

Peganglah amanat para pendiri bangsa
Jangan pernah menyerah
Perangi ketakadilan
Hancurkan kecurangan
Allahu Akbar
Merdeka!

RSUI, 20 Februari 2024

(Visited 22 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.