KDRT Ini Pelecehan Seksual
Pipiet Senja

Ketika mengawali menulis buku berdasarkan kisah nyata ini, jujur saja, aku sedang dalam situasi tidak sehat. Maksudku, bukan hanya sebagai penyintas Thallasemia semata. Sejak kanak-kanak harus wara-wiri ke rumah sakit, transfusi rutin.

Pasca pengangkatan limpa dan kantung empedu, 2009, aku mulai diserbu berbagai penyerta, komplikasi. Puncaknya 2012, dinyatakan Diabetus Mellitus, Kardiomegali, Maag, Ashma Bronchiale. Bahkan kedua mataku harus operasi katarak, terjadi di tengah wabah Covid-19, pada tahun 2021. Sejak 2012 dokter meresepkan amlodipin, ganti injeksi insulin Novoravid 12 unit 3 kali sehari. Plus Lantus 9 unit tiap malam, sebelum tidur.

Bayangkan saja, betapa samakbrek alias bejibun obat yang wajib aku konsumsi tiap harinya. Jika tidak tetap berdamai, menerima dengan ikhlas dan tawakal serta berpegang teguh dengan keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih, aduhai. Sepertinya dipastikan bakal SGM alias; sinting gila miring, Bestie!
Memasuki tahun 2024, ternyata aku wajib sujud syukur. Setelah empat kali pindah kontrakan, putriku yang perkasa, sangat bakti kepada emaknya ini, bisa memberi kami tempat tinggal tetap. Lama aku bersimpuh di ruang tengah rumah tingkat dua di kawasan Depok itu.

“Demi Allah, sejak kini aku takkan pernah mengeluh lagi, terutama di hadapanmu, Butet,” gumamku membatin sambil bercucuran air mata.

Semakin bersimbah air mataku, ketika disalami putriku sambil berkata dengan penuh keikhlasan: “Mama, rumah ini persembahan Butet buat Mama dan Qania. Jadi bakal lega kalau terjadi apa-apa dengan Butet. Sudah diasuransikan pula, Mama. Insya Allah, Mama gak bakalan sengsara kalaupun Butet tak ada di sisimu….”

“Husy!” sergahku memotong kalimatnya. “Jangan cakap macam-macam. Insya Allah, Butet sehat, perkasa dan panjang umur, berlimpah rezeki yang barokah. Disegerakan Gusti Allah, Butet mendapatkan seorang Imam yang baik, membawamu berbahagia dunia dan akhirat….”

Tahun sebelumnya, 2023, kami sukses melewati masa kritis tak terduga. Butet korban tabrak lari ketika mengendarai motor hendak berangkat kerja di kawasan Lenteng Agung. Dia harus menjalani operasi tulang belikat, dipasangi pen.

Saat akan memasuki ruang operasi itulah, Butet sempat berwasiat agar menjaga Qania hingga dewasa. Mengatakan bahwa rumah cicilannya diasuransikan. Alhasil, jika dia pergi pun emak dan anaknya tidak bakalan telantar, apalagi sampai nomaden.

Ya Allahu Robb, Engkau Maha Pengasih senantiasa kepada ciptaan-Nya yang lemah. Butet berhasil melewati masa kritisnya, pulang langsung masuk ke rumah bukan kontrakan, bersama harapan baru, semangat yang menggelegak; Semangat perubahan, eeeeh!

Nah, saat melanjutkan perjuangan untuk bertahan inilah, adikku Rosi mengabarkan.”Nomer Teteh boleh, ya, kalau kuberikan kepada seorang emak yang curhatan tentang anaknya korban KDRT?”
Spontan kujawab: “Boleh!”

Selama ini aku sudah sering menjadi tempat curhatan para istri korban KDRT, perempuan yang terpinggirkan. Bahkan sampai kubikin grupnya melalui WA. Beberapa telah menerbitkan kisahnya sebagai buku inspiratif yang terbilang laris-manis.
Tak lama kemudian ada pesannya dari Arista, demikian dia memilih nama penanya. Sekilas memperkenalkan diri dan tentang maksudnya menghubungiku.

Langsung kubalas pesannya dan mengajaknya ketemuan. Dua hari kemudian ada mobil pribadi berhenti di depan rumah. Arista membawa serta putri dan cucunya. Kami duduk lesehan di ruang tamu, sebab tak ada sofa, belum mampu kami beli. Sebagian kurekam ceritanya yang membuatku merinding; ngeri sangat!

Jujur saja, ini kasus pertama korban KDRT yang sangat mengerikan. Betapa tidak, bukan sekadar dipukul, dianiaya. Hal begini sudah sering kudengar, bahkan kualami sendiri dari si mantan. Seriuuus!

Namun, curhatannya sungguh di luar kewarasan alias gila nian. Ini sudah menyangkut ke perilaku pelecehan seksual. Silakan bayangkan saja sendiri, ya Bestie!
“Tiba-tiba dia memeluk erat-erat. Lantas menggigit kuat-kuat tangan istrinya….”
“Pantat ditendang, ditusuk bagian belakang….”
“Diremas payudara sekuatnya….”
“Dicabut bulu ketek, bulu kemaluan…”
Bukan hanya itu!

Dia menyuruh anaknya yang masih Balita, agar menyakiti ibunya. Sementara dia terbahak-bahak bahagia. Ya, ketika melakukan pelecehan seksual itu, sementara istri kesakitan; dia tertawa penuh kebahagiaan.

“Malangnya, suaminya itu tak lain pilihanku, ibunya sendiri….”
“Serius, jauh dari penampilan dan gelar yang disandangnya….”
“Dia lulusan, Lc dari Mesir….”
“Bahkan hendak melanjutkan S3 ke Inggris….”

Nah, penasaran ingin tahu kisahnya secara rinci? Mari, kita simak saja lembar demi lembar catatan pilu seorang istri ini.

Menyisir Luka Hati, kuberi judul demikian.
Ada pesanku sebagai penyunting yang tanpa sadar sering merembes air mata, saat membaca curhatan perempuan muda beranak satu masih Balita ini, yaitu:

Silakan ambil hikmahnya dan buang jauh-jauh bila ada aura negatifnya. Tidak perlu menyimpan dendam kesumat bila membenci pelaku serupa. Dibutuhkan waktu untuk bisa move on, melupakannya, meskipun telah memaafkan. Yakinlah, Allah Swt Maha Pengasih. Bahwa Dia mengirimkan ujian-Nya kepadamu, niscaya dibarengi dengan nikmat-Nya. Kun fayakun!

Salam bahagia senantiasa, wahai anak-anak kesayangan Emak.
Pipiet Senja
Manini 5 cucu, mukim di Depok.
Akhir Februari, 2024





(Visited 16 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.