Kajian Feminisme Radikal

Suci Annisa Caroline – Penyaji Pipiet Senja

Budaya patriarki yang semakin marak di masyarakat membuat perempuan rentan mendapatkan kekerasan seksual. Kekerasan merupakan perbuatan yang merugikan bagi perempuan baik fisik maupun psikis. Kekuatan laki-laki yang lebih unggul terkadang dimanfaatkan untuk melecehkan perempuan. Hal tersebut membuat perempuan berada di bawah dominasi laki-laki.

Gambaran perempuan yang mengalami permasalahan demikian dialami oleh tokoh utama bernama Fatin yang terdapat dalam novel Jalan Panjang Menuju Pulang karya Pipiet Senja.

Pengarang bukan hanya menyuguhkan kekerasan seksual, melainkan kasus KDRT yang dialami tokoh utama. Berdasarkan permasalahan yang terdapat dalam novel, peneliti menggunakan kajian utama feminisme radikal dan tidak terlepas dari unsur-unsur struktural dalam novel.

Unsur struktural digunakan untuk mengetahui keterjalinan antarunsur dalam novel. Analisis struktural juga dapat memudahkan peneliti untuk menganalisis kajian berikutnya yaitu feminisme radikal.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Langkah-langkah metode kualitatif yang dilakukan yaitu: (1) membaca dan memahami data-data yang ada, (2) mengolah data dan mengklasifikasikan data dalam unsur-unsur struktural, feminisme radikal, dan representasi, (3) menganalisis dengan menggunakan pendekatan struktural, feminisme radikal, dan representasi.

Peneliti menggali kembali biografi pengarang terkait kasus yang terjadi mendekati novel diterbitkan. Berdasarkan informasi yang berhubungan dengan novel, kejadian kekerasan seksual terjadi pada kehidupan pengarang. Kasus kekerasan seksual diolah oleh pengarang dengan imajinasinya yang kemudian muncul novel ix berjudul Jalan Panjang Menuju Pulang.

Informasi dicari berdasarkan permasalahan yang terjadi dalam novel yang kemudian dapat menunjang analisis berikutnya, yaitu feminisme radikal. Kajian struktural berfungsi untuk mengetahui keterjalinan antarunsur yang meliputi tema, penokohan, konflik, dan latar.

Tema pada analisis ini dibagi menjadi dua, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor yang terdapat dalam novel ialah usaha mempertahankan hidup seorang perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Selain tema mayor, terdapat tema minor yang ada dalam novel.

Tema minor pada novel dibagi menjadi lima, yaitu kekerasan dalam rumah tangga akibat berebut anak, kekerasan seksual dapat dilakukan oleh laki-laki yang baru dikenal, doa ibu menjadi sumber kekuatan hidup, pengalaman buruk dapat mempengaruhi psikologi anak, dan perbuatan baik keluarga pendeta tanpa melihat perbedaan agama dan bangsa.

Tema tersebut mengambarkan penokohan yang terdapat dalam novel. Tokoh utama dalam novel yaitu Fatin. Tokoh bawahan yang paling banyak berinteraksi dengan Fatin di antaranya Rimbong, Frankie, Emak, Ridho, dan Dominee Hartland.

Adapun konflik yang terdapat dalam novel yaitu konflik manusia dengan manusia yang dialami oleh Fatin, Frankie, dan Rimbong.

Konflik kedua yaitu konflik manusia dengan masyarakat yang dialami oleh Rimbong dengan orang-orang di rumah sakit dan Rimbong dengan keluarga Hartland.

Konflik ketiga yaitu manusia dengan alam yang dialami oleh Fatin dan Ridho.

Konflik keempat yaitu konflik antara ide dengan ide yang dialami oleh Fatin.

Konflik yang terakhir yaitu konflik antara seseorang dengan kata hatinya yang dialami oleh Fatin. Pemaparan konflik di atas dapat diketahui bahwa novel Jalan Panjang Menuju Pulang menceritakan tentang perjalanan seorang perempuan dari desa, kota, dan luar negeri.

Latar tempat yang digambarkan pengarang dalam novel di antaranya Kota Cianjur, Kota Jakarta, Pulau Lombok, dan Belanda. Latar waktu yang terdapat dalam novel di antaranya tahun 2003, tahun 2015, hari Jumat, pagi hari, siang hari, dan malam hari. Latar yang terakhir yaitu latar sosial, di antaranya yaitu masyarakat Desa Bojongsoang yang x agamis, musim paceklik di Desa Bojongsoang, aktivitas pekerja hotel yang sukses, upacara walimahan untuk pernikahan, dan musim dingin di negara Belanda.

Teori feminisme radikal merupakan teori yang digunakan untuk mengetahui dominasi tubuh laki-laki terhadap perempuan. Dominasi laki-laki terhadap perempuan yang terdapat dalam novel di antaranya kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Dominasi berikutnya ialah tubuh perempuan sebagai objek kepuasan laki-laki. Hal tersebut meliputi pelecehan seksual dan kekerasan seksual. Pelecehan seksual terjadi pada tokoh utama di sebuah hotel Jakarta, sedangkan kekerasan seksual dialami tokoh utama di negara Belanda.

Dalam analisis tersebut, selain dominasi laki-laki terhadap perempuan, juga terdapat peran perempuan. Peran tersebut di antaranya peran perempuan sebagai tulang punggung keluarga, peran perempuan dalam kerukunan antar-umat beragama, dan peran ibu sebagai pelindung seorang anak.

Representasi yang ditampilkan pengarang dalam novel ialah representasi perempuan sebagai simbol perlawanan. Hal tersebut berarti sebuah perlawanan yang dilakukan perempuan atas kasus yang dialaminya. Pada novel digambarkan bahwa Fatin mengalami KDRT dan kekerasan seksual.

Kekerasan dalam rumah tangga disebabkan oleh perebutan hak asuh anak. Perlawanan yang dilakukan Fatin dalam novel ialah membawa pergi anaknya ke luar negeri. Keberadaan Fatin di negara Belanda tidak dapat menyelesaikan masalah. Ia mendapatkan kekerasan seksual dari laki-laki yang baru dikenalnya melalui media sosial.

Fatin mengalami kekerasan seksual di sebuah apartemen. Perlawanan yang dilakukan Fatin ialah pertengkaran fisik yang dilakukan berkali-kali hingga berhasil melarikan diri dari apartemen. Fatin juga berhasil membawa Frankie ke pihak kepolisian yang kemudian mendapat hukuman atas perbuatannya.

(Visited 15 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.