Pipiet Senja

Berkah Ramadhan di Negeri Sakura
Pipiet Senja

KapasKapasDiLangit

“Garsini, ayo, sadarlah, sembuhlah, pliiiiis!” Haliza kini sungguh merintih pilu mencemaskan keadaan sahabatnya.
Tengah malam pun lewat, saatnya memasuki dua per tiga malam. Haliza meninggalkannya untuk mendirikan shalat tahajud. Ia berdoa khusus demi kesembuhan sahabatnya. Usai shalat dihampirinya lagi Garsini. Masih belum sadar jugakah?

“Jangan membuatku ketakutan, Garsini. Duh, ke mana aku harus menghubungi saudaramu itu, siapa dia? Oya, de Broer Andremu itu?”

Seketika Haliza menepuk jidatnya sendiri, teringat lagi bahwa itu hal yang sangat musykil. De Broer tinggal di Holland, tak mungkin memintanya datang ke situ, hanya untuk mengurus saudarinya yang sakit. Berapa biaya transportasi yang harus dikeluarkan, perjalanan antarbenua itu? Bagaimana kalau sakitnya hanya demam biasa, besok pun sembuh?

Bila itu dilakukan hanya akan bikin persoalan baru!

Tapi De Broer tampaknya sangat mengasihi saudarinya ini, pikir Haliza. Ia memanjakan Garsini, membelikannya ponsel dan laptop baru. Meskipun Garsini hampir tak pernah menggunakan telepon selularnya, tapi laptop itu sangat bermanfaat baginya. Ia tak perlu lagi meminjamnya dari orang.

“Jangan, jangan panggil siapapun,” erang Garsini. ”Aku akan sembuh, sebentar lagi, sabarlah, tenang saja. Haliza sayang, be calm please….”

Haliza tersentak dari lamunannya. Cepat-cepat dihampirinya Garsini dan memperhatikan keadaannya dengan seksama. Apakah Garsini mengigau? Tampaknya dara itu gelisah sekali, bergerak tak menentu, matanya kadang membuka beberapa saat. Tidak, pupil matanya mengecil.

Ah, aku pasti sudah pikuuun! Kenapa aku jadi sepikun begini, ya? Raihan, ya, tentu saja dialah yang harus secepatnya dihubungi. Maskipun selama ini Garsini tak pernah secara terbuka mengakui pemuda itu sebagai someone special, tapi sebagai sahabatnya seharusnya ia tahu hal ini. Di antara mereka ada hubungan khusus. Buktinya, bila mereka sedang chatting, seru dan mesra.

“Mengapa kamu tak pernah mengajaknya kencan?” Haliza pernah menguping Mayumi bertanyakan hal itu kepada Garsini.

“Tidak, tak ada istilah kencan, pacaran dalam kamus Muslimah,” elak Garsini. Ketika itu Haliza merasa Garsini tengah menyindirnya. Sebab ia baru pulang bepergian berdua Abang Rashid.

“Kami tak lakukan apa-apa. Masih di batas kewajaran,” bantah Haliza kala itu sebagai pembenaran sikapnya.

“Kamu pernah memintaku agar kita selalu saling mengingatkan,” ujar Garsini diplomatis. Tanpa memberi nasihat berlarat-larat, tapi ketaksetujuannya akan hal itu sudah sangat jelas.

Haliza tergopoh-gopoh menuju meja belajar Garsini. Beberapa saat lamanya ia memeriksa buku telepon. Tidak, tak ada nama Raihan di sini, pikirnya keheranan. Mungkin di telepon selulernya. Tidak juga. Uh, kenapa Garsini tak mengaktifkan benda canggih ini? Bahkan laptopnya di-password, hingga ia tak bisa membuka email Garsini untuk menghubungi Raihan.

Haliza kembali menghampiri Garsini dengan kecewa dan putus asa.

“Apa yang sudah kamu lakukan itu, Haliza?” suara parau Garsini terasa menikam ujung hati Haliza.

Dengan wajahnya merah padam menahan malu dan marah pada diri sendiri, Haliza hanya tercengang dan gugup. Ia merasa dipergoki telah mengacak-acak benda pribadi Garsini. Itu telah melanggar ketentuan dan tatakrama. Namun, Garsini tersenyum samar seperti telah memaafkan kelakuannya itu. Kedua tangannya terulur, mengisyaratkan Haliza untuk mendekat.

“Kamu sudah sadar? Alhamdulillah….”

Haliza menghambur, memeluknya dan mendekapnya erat-erat. Garsini berusaha bangkit dengan susah payah, tanpa mengindahkan uluran bantuan. Haliza geleng-geleng kepala.

“Uh, sudah parah pun masih sombong kau ni!” sungut Haliza tertawa haru.

Garsini berhasil duduk dengan tegak ditunjang oleh tumpukan bantal. Kepalanya masih pening, tapi demamnya telah jauh berkurang. Keringat membasahi sekujur tubuhnya yang lemas dan kaku-kaku.

“Obat apa saja yang sudah kamu jejalkan selama ini ke mulutku, Haliza?” protes Garsini. Haliza tertawa kecil, matanya masih membasah bahna harunya. Memori Garsini telah kembali secara utuh.

“Jangan suuzon, ukhti sayang. Aku hanya memberi beberapa butir pil anti demam. “Haliza mengelus-ngelus jari-jemari sahabatnya. Giliran Garsini yang sangat terharu. Matanya kini membasah, tapi ia menahan haru tangisnya agar tak tumpah.

“Punya apa untuk makan sahur kita, Haliza?” tanyanya pula tiba-tiba. “Aku tahu, kamu tadi bilang bahwa besok kita akan mengawali bulan suci bulan Ramadhan.”

Haliza tercengang takjub melihat perubahan yang sangat pesat itu.

“Tapi kamu belum bisa shaum tu!”

“Kata dokter Siti Haliza Tun Razak tu!” Garsini mencibir dengan meleletkan lidahnya.

“Kamu betul-betul sudah sembuh, Garsini.” Haliza tertawa melihat Garsini kembali riang dan humornya telah muncul.

“Tapi aku sampai lupa, tak sempat sediakan makanan apa-apa untuk makan sahur kita…maaf,” keluh Haliza.

“Bagaimana?” giliran Garsini membelalakkan matanya, tak percaya atas keteledorannya.

“Kita tak sempat menitipkan daftar belanjaan ke orang dapur. Sepanjang siang tadi aku tak bisa ke mana-mana, menjagamu.”

“Ah, sudahlah, maafkan aku. Mari, kita sahur apa saja!”

“Hanya sepotong roti kismis dan teh manis, mau?” bujuk Haliza, masih berharap agar sahabatnya mengurungkan niatnya berpuasa esok.

Garsini telah bulat, menyambut tawarannya dengan penuh semangat. “Ya, tentu saja mau…mannnaaa?”

“Sungguh, kamu tampak sudah pulih!”

“Yeee…lha wong dari tadi juga aku merasa sudah pulih kok!”

Haliza pun menyerah. Lagi pula, siapa yang kuasa menimpakan sakit dan memberi kesembuhan selain Sang Maha Penyembuh?

Garsini mendorong troli belanjaannya menyusuri rak demi rak di sebuah supermal di kawasan Ginza. Tanpa terasa ini sudah memasuki minggu ketiga bulan Ramadhan.

Gerak-gerik Garsini tampak serba ringkas dan cekatan. Tangannya menjumput ini-itu sesuai daftar belanjaan di secarik kertas genggamannya. Siapa mengira, bahkan dirinya sendiri bahwa kesehatannya berangsur membaik sedemikian pesat. Beberapa hari yang lalu. Haliza sangat mengkhawatirkan demam tinggi yang menyerangnya sepanjang malam. Sehingga gadis itu nyaris putus asa untuk memberi tahukan keluarganya.

“Ini sungguh berkah dan hikmah Ramdhan,” decak Haliza saat mereka buka bersama, tepatnya hanya berdua di kamar. “Kamu tampak segar bugar, Garsini sayang. Tak ada sedikit pun tapaknya kalau kemarin malam kamu sakit. Subahanallah!”

Garsini kini tersenyum-senyum kecil. Ya, kekuatan maha dahsyat itu muncul di dua per tiga malam. Ketika ia melihat sosok Haliza mendirikan shalat tahajud, menengadahkan kedua tangannya, mendoakan dirinya kepada Sang Khalik. Beberapa saat sebelum kupingnya mendengar suara Haliza. Memberitahukan bahwa besok mereka akan mengawali bulan suci bulan Ramadhan yang pertama kali di Jepang.

“Sungguh kamu tidak apa-apa, Garsini?” Haliza menanyainya dengan cemas saat tengah hari. Ia kebetulan tidak kuliah hari itu. Demikian pula Garini yang terpaksa izin sakit dalam tiga hari itu.

“Insya Allah, aku merasa tak kurang suatu apa. Lihat saja nih!” Garsini baru mandi air hangat, hendak shalat zuhur. Haliza sempat melarangnya bangkit dari tempat tidur. Apalagi untuk mandi dan bershaum.

“Allah Maha Penyembuh yang tiada tara,” decak Haliza akhirnya harus mengakui mukjizat itu telah menghampiri Garsini, dan mereka merasakan berkahnya bershaum.

“Hari pertama berhasil kita lewati dengan nikmat,” ujar Haliza saat mereka berbuka puasa.

“Iya… alhamdulillah,” Garsini menyetujui.

Meskipun tanpa kolak dan pembuka aneka ragam seperti bila mereka berpuasa di negeri sendiri, di tengah-tengah keluarga. Lama mereka hanya terdiam diri sambil mereguk teh manis hangat, ditambah beberapa potong kue basah khas Jepang. Istri Ojira-San yang membuatnya khusus untuk kedua gadis Muslim itu.

“Aku tau kalian sedang menjalankan puasa,” berkata istri penjaga asrama itu dengan hangat, menawarkan simpul Carmillaluargaan. “Karena kutahu kalian Muslim, seperti gadis Turki dan Pakistan yang pernah menghuni kamar kalian tahun sebelumnya…”

Wanita itu baik hati lalu bercerita sekilas mengenai kedua Muslimah yang dimaksudkannya. Gadis Turki dan Pakistan itu menghuni kamar yang sama selama beberapa semester. Kini mereka telah lulus dan kembali ke negerinya masing-masing. Melalui kedua gadis itulah Bu Ojira mengenal apa itu Islam.

“Maaf, kalau selama ini kami kurang bergaul,” ujar Garsini tersipu.

“Kami tampak tertutup, ya kan Bu Ojira?” Haliza turut menyampaikan penyesalannya.

“Tidak juga,” elak Bu Ojira. “Kalian sangat ramah dan tahu tatakrama. Hanya mungkin terlalu sibuk hingga kalian jarang mampir ke rumah kami. Padahal, rumah kami selalu terbuka untuk para gadis asrama. Terutama gadis baik-baik dan taat beragama seperti kalian ini. Ah, sayang sekali kami tak punya anak sebaya kalian. Rumah terasa sepi sekali.”

“Kalau mau anggap saja kami ini anak Ibu!” seru Garsini renyah.

Bu Ojira tertawa kesenangan. Tak berapa lama kemudian ia pamitan dengan air muka berseri-seri. Sambutan kedua gadis itu agaknya sungguh telah menyenangkan hatinya yang tua dan mederita kesepian. Seberkas pencerahan telah menghangatkan sepotong kalbu yang renta dimakan usia.

“Baiklah, sekarang kita sungguh telah punya keluarga di Jepang,” komentar Haliza saat Bu Ojira berlalu, meninggalkan mereka dengan sepiring penganan lezat khas Jepang.

“Tampaknya Bu Ojira itu kesepian sekali, ya?”
“Lima anaknya lelaki smeua. Tak ada satu pun yang tinggal bersamanya. Dia hanya berdua Pak Ojira di rumah tua di belakang sana.”

Sejak itu mereka jadi sering mampir ke rumah keluarga Ojira. Suami-istri tua itu selalu menyambut mereka dengan hangat. Acapkali Garsini mengingatkan Haliza, agar mereka jangan lupa membalas budi baik pasangan lansia itu. Namun, ternyata Bu Ojira malah menggerutu, bila mereka membawakan sesuatu.

“Kami tidak sedang jual-beli, anak-anakku,” kata wanita itu serius.
“Baiklah, maafkan kami, Okusan…” kata Garsini dan Haliza terharu sekali.

Persaudaraan yang terjalin secara mendadak itu pun agaknya salah satu berkah untuk mereka di bulan Ramadhan. Mereka harus bersyukur kepada kedua gadis Muslimah penghuni lama kamar itu. Entah syiar dakwah apa, ukhuwah Islamiah bagaimana yang telah ditawarkan kedua Muslimah itu. Sehingga Bu Ojira amat terkesan perihal bulan Ramadhan.

@@@

(Visited 11 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.