Pipiet Senja

Aku malah sukaaaaaa banget. Apalagi kalau lihat langsung rombongan anak anak kampung jam dua dinihari, gombrang gombreng bunyikan kaleng rombeng dan bedug.

Sejak kecil kutunggu selalu mereka lewat depan jendela kamar di Sumedang.

Saat sudah Lansia pun kunanti mereka depan gerbang perumahan anakku, tempatku kini tinggal.

Sepertinya ini masalah kebiasaan atau pendekatan diri kita dengan kegiatan keagamaan.

Kakek Ulama NU, bapak Prajurit Siliwangi yg sangat agamis. Aku penyakitan sejak kecil dan pilih banyak tinggal di pesantren, ketika remaja dan divonis harapan hidup tipis.

Saat sering merasa dekat dengan kematian, dampaknya lebih suka dekat dengan segala hal sebagai bekal ke kampung akhirat.

Saranku kepada mereka yang benci dengan teriakan sahur, bunyi bedug dan kaleng rombeng dinihari. Sebagai Muslim, mulailah dekat dengan agama ya Nak.

Hidup di alam fana sekejap saja. Tidak abadi. Mulailah mengumpulkan pahala dan bekal ke kampung akhirat.

Salam Ramadhan, Anakku.

(Visited 59 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: