Muhammad Subhan – Penyaji Pipiet Senja

Konon di salah satu kota di Amerika Serikat, ada sebuah kuburan kecil yang tidak seberapa jauh dari stasiun kereta api, yaitu kuburan seekor anjing. Asal mulanya ialah karena sangat setianya anjing itu kepada tuannya, maka setiap tuannya bepergian, anjing itu turut mengantarkan hingga ke stasiun, dan sore hari di waktu tuannya pulang, anjing itu pun pergi menjemput.

Begitu setiap hari. Dia diantar dan dijemput oleh anjingnya. Orang-orang sekitar melihat tingkah laku antara anjing dan tuannya itu, sehingga semua orang ikut merasakan kebahagiaan.

Tetapi pada suatu hari, ketika anjing itu menjemput tuannya sebagaimana biasa di stasiun, tuan yang ditunggunya tidak juga turun dari kereta api. Besoknya anjing itu datang kembali ke stasiun menjemputnya, tapi tuannya tidak juga pulang. Dijemputnya terus tiap hari, dari hari ke hari, bulan ke bulan, namun tuan yang ditunggu tidak juga menampakkan rupa.

Siapakah yang akan memberi tahu kepada anjing itu bahwa tuannya tidak akan pulang lagi, sebab dia telah meninggal di tempat lain karena suatu kecelakaan?

Pada suatu hari, orang-orang yang melihat kesetiaan anjing itu menemukannya telah mati kedinginan di tempat biasa dia menunggu tuannya pulang. Semua orang, penduduk di sekitar stasiun kecil itu, tahu kisah anjing setia itu.

Maka, semua orang menaruh iba kepada anjing itu, lalu dikuburkanlah dia dengan upacara yang layak, diberi tanda dan ditulis pada papan tanda itu, “Kuburan seekor anjing yang setia”.

Kisah di atas ditulis Buya Hamka dalam kitab Tafsir Al-Azhar Jilid 1 karangannya yang ia kerjakan selama menjadi tahanan rezim Soekarno. Walau kisah yang ditulis Buya Hamka itu agak mirip dengan kisah yang sama di Jepang, yaitu seekor anjing bernama Hachiko yang setia kepada tuannya, namun hikmah dari kisah tersebut adalah betapa besarnya kasih sayang antara manusia dan binatang.

Padahal, binatang tidak diberikan akal, dan derajatnya lebih rendah dari manusia. Ini menandakan sifat Allah yang Rahman dan Rahim. Pengasih dan penyayang. Kasihnya tidak pilih kasih, sayangnya tidak terbilang.

Anjing adalah satu hewan yang diberikan naluri untuk patuh kepada tuannya, sebagaimana kucing, kera, kuda, dan hewan-hewan peliharaan lainnya. Dengan naluri, hewan-hewan itu dapat merasakan perhatian tuannya; marah, kecewa, dan melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya. Dengan naluri itu pula, hewan-hewan tersebut dapat dilatih untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu, sehingga apa yang dilakukan manusia dapat pula sebagiannya dikerjakan hewan-hewan itu.

Dengan naluri pula, hewan dapat mencontohkan kasih sayang mereka kepada anak-anaknya. Induk ayam setia mengerami telurnya, berhari-hari, agar anak-anaknya menetas sempurna dan ke luar dari cangkang telur, lalu bersama-sama mencari makan. Kadang, dalam pencarian makanan itu, sang induk rela tidak makan terlebih dahulu, tetapi diimbaunya anak-anaknya, dengan suara dan kais cekernya, dan anak-anaknya itu berebutan mendekat melahap dengan nikmat cacing atau makanan lainnya di dalam tanah.

Anjing dan kucing, jika terancam bahaya, anak-anaknya ia gendong dengan cara menggigit tengkuk leher anak-anaknya itu, lalu mencari tempat yang aman untuk melindungi anak-anaknya dari ancaman musuh.

Sungguh, betapa kasih sayang hewan-hewan itu seringkali membuat kita takjub. Tampaklah Kemahabesaran Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya.

Walau demikian, perumpamaan pada sejumlah hewan itu, seringkali tidak menjadi pelajaran bagi manusia. Masih banyak kita lihat, bahkan disiarkan media massa, berbagai kejadian dan peristiwa yang mengejutkan dan membuat hati kita tersentak tidak percaya. Seperti ada bayi yang tega dibuang orangtuanya di tempat sampah, atau dihanyutkan ke sungai, dimutilasi, atau dikuburkan hidup-hidup.

Begitupun, ada anak yang tega membunuh ayah-ibunya, bukan saja memutilasi tetapi juga memakan daging ayah-ibunya, orangtua yang menyebabkan si anak ada di dunia ini. Na’uzubillahimindzalik.

Sebuas-buas binatang, induknya tidak akan tega memakan anaknya sendiri. Demikian pula, sebuas-buas binatang, anaknya tidak tega mencederai induknya sendiri. Seharusnya, khusus bagi manusia, rasa kasih sayang yang telah dikaruniakan Allah itu dapat menjadi benteng untuk mem-filter segala kejahatan, dan selalu berbuat baik kepada siapa saja, terutama kepada orang-orang terdekatnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang Rahman, yang memberi berkat dan Maha Tinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi, supaya kamu disayangi oleh yang di langit.” (Al-Hadits).

(Visited 16 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: