Pipiet Senja

Ceritanya satu kali aku jadi pembunuh.
Dua hari Manini mengalami hebohan dengan binatang kecil; cecurut.

Ampuuuunlah itu antara gak tega dengan; nyebelin lihat kotorannya di mana mana. Di handuk yg dijemur di belakang dapur, duuuh….

Sepagian sudah ngesang ngegeprak geprak dengan sapu lidi. Gak sukses. Dibanjurkan air bekas nyuci akhirnya.

Esoknya kutemukan sudah sekarat di dalam kantong sabun….alamaaaak!

Pssst, eeh itu matimu gara gara digeprak geprak sapu lidiku ya, Ruuuut? Atau mabok air deterjen?

Merasa galau sudah jadi pembunuh euy.
Gimana nurani orang yang pernah membantai lusinan mahasiswa, ya?

Terus ngikik inget lalakon sorangan lagi.

Eta mah matak cape, hayoooh we milarian huntu palsu alias Gipal tea. Ka dapur, teu aya, di kamar duka tah si Gipal. Nyangkut di mana.

Teg weh boa digiwing sakadang ucing? Si Loki ucing kesayangan Qania.
Ngagorowok ka incu; “Qaniaaaaa! Cariin Gipal Maniniiiiii. Buruaaaan! Mau Zoom!”

Qania kalah tutunjuk kana beungeut. “Manini itu Gipal udah di mulut….”

Ampuuuun dah, maafkan ya Loki, Manini sudah suudon sama kamu.

Sampai jumpa minggu ceria.

(Visited 11 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.