Kajian Online – Penyaji Pipiet Senja

Kalian sudah kalah.
Itu yang dikatakan Fir’aun ketika Nabi Musa a.s. sampai di tepi Laut Merah. Tak ada jalan lagi.

Kalian sudah kalah.
Itu yang dikatakan Raja Namrudz ketika Nabi Ibrahim a.s. dibakar di dalam lapangan api yang luas.

Kalian sudah kalah.
Itu yang dikatakan pasukan Ahzab ketika mereka mengepung Nabi Muhammad s.a.w di dalam Kota Madinah.

Menyerahlah, itu yang dikatakan oleh pasukan Mongol kepada Saifudin Quthuz ketika mereka akan masuk ke Mesir, setelah meluluh lantakkan ibukota muslim di Irak.

Menyerahlah, itu yang dikatakan oleh pasukan NICA ketika mereka mengepung Kota Surabaya dengan pasukan dan peralatan perang yang sangat besar.
.
Tapi sejarah mencatat siapa yang tenggelam, siapa yang mati mengenaskan, siapa yang hancur setelahnya.

Kita mungkin berpikir akan kalah.
Tapi kita tidak boleh menyerah selagi sejalan dengan para ulama. Mereka pewaris nabi. Mereka mewarisi keberkahannya.
Dan mereka juga mewarisi pahit getirnya perjuangan para Nabi.

Orang bilang, jangan terlalu berharap.
Tapi Allaah menyuruh kita berharap pada-Nya.
Maka tetaplah berjuang.
Sampai Allaah menetapkan janji-Nya.

Mereka mungkin sedang berkuasa, namun ada kekuasaan yang tertinggi.. kuasa Allaah..

Mereka mungkin bisa berbuat semena-mena saat ini, namun ada masanya semua terhentiā€¦ketika kematian menjemput..

Tetaplah kalian di jalan Nya..
Berpegang teguh pada tali Allaah..walau itu terasa payah..

Semoga. Allaah Maha Kuasa menguatkan kita.

(Visited 25 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: