Pipiet Senja

Baca status tentang perjuangan Bapak yang seliweran, jadi terkenang Bapak sendiri.

Seingatku Bapak Prajurit Siliwangi nan gagah perkasa. Era gerombolan Kartosuwiryo, Bapak lama ditugaskan ke kawasan leuweung Garut.

Aku masih TK saat itu. Setelah lama tak jumpa Bapak, tiba-tiba di pintu depan ada yang ketok-ketok.

Sepupu yang membukakan pintu, seketika teriak dengan sukacita.
“Bapak datang! Bapak datang!” Teriakannya menggema ke seantero rumah.

Namun, aku malah lari ngumpet, hanya berani mengintip dari jauh.

Betapa tidak!
Sosok berseragam hijau tentara itu, tampangnya asing bagiku. Selain gondrong, etah meuni bala ku brewok. Hiiiiy, pikasieuneun pisan!

Pokoknya bukan sosok seperti Bapak yang kurindukan.

Emak menuntun dan coba membawaku ke hadapan Bapak.
“Ini teh Bapak, Teteh….”
Aku berontak, melepaskan diri dari pegangan Emak.

“Sieun, iiiih, sieueueun! Lain Bapak Teteh, tamah culiiiiik!” Teriakku sambil kembali lari, menjauhi sosok yang berdiri tertegun.

Aku takkan lupa, bagaimana kedua tangan perkasa itu terulur ke arahku. Sepasang matanya penuh kerinduan.

Setelah bersih-bersih, pangkas rambut dan buang brewok, barulah tampak seperti foto Bapak di dinding.

Aku takkan lupa pula saat untuk pertama kalinya melihat airmata Bapak. Itu adalah saat dokter memvonisku sebagai pasien Thallasemia. Kelainan darah bawaan yang takkan sembuh, selain ditransfusi seumur hidup.

RSPAD 1969, ya kulihat mata Bapak memerah, ada butiran bening menitik dari sudut-sudut matanya.

Tentu saja Bapak syok. Sebab sering mendengar sulungnya ini berkata; “Teteh mah kepingin jadi KOWAD! Jadi Prajurit kayak Bapak!”

Bapak masih bisa berkata sebagai berikut:”Jadi apapun kelak, insya Allah bermanfaat untuk banyak orang, ya Nak….”

Banyak kenangan mengharu biru tentang Bapak.

Semoga Bapak husnul khotimah dan kita jumpa kembali, wahai Bapak Prajuritku yang tak kenal menyerah.
Al fatihah.

Depok, 26 Maret 2024

(Visited 11 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: