Oleh: Artati Latif*

Mencermati kata mutiara berarti sebuah permata yang indah nan elok untuk bahan assesoris bagi kaum wanita. Namun mutiara dalam pandangan penulis bermakna sebagai kiasan untuk komoditi jagung yang selama ini menjadi ikon penghasilan para petani di Desa Lalabata.

Penggunaan diksi mutiara semata-mata sebagai pemaknaan filosofis untuk memberikan gambaran komoditi jagung yang sangat strategis dalam membantu meningkatkan derajat hidup kaum petani. Di dalam masyarakat Lalabata, usaha tani jagung telah menjadi main course sehari-hari dan paling menonjol dalam budidayanya. Hal ini ditandai dengan menempatkan jagung sebagai komoditas andalan kedua setelah padi. Signifikansinya sangat nyata dan bermanfaat dalam peningkatan kesejahteraan.

Sumber utama penanaman jagung di Lalabata dilakukan pada lahan kering seluas 382 hektare dan di lahan sawah seluas 95 hektare selama periode tanam tahun 2023 lalu. Kombinasi pengembangan jagung antar lahan dan silih berganti masa tanam dan panen tersebut berimplikasi terhadap penyediaan produksi jagung setiap waktu. Metode pengembangannya dilakukan pada musim tanam rendengan pada awal dan akhir musim hujan dilanjutkan pada musim tanam gadu pada awal musim kemarau. Penerapan metode tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan frekuensi tanam mencapai 2-3 kali setahun atau indeks pertanaman mencapai IP 200- 300.

Seiring dengan program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah khususnya terhadap jagung sebagai salah satu komoditi strategis nasional, maka Desa Lalabata dialokasikan bantuan benih jagung sebanyak 3.675 kilogram untuk mengcover luas tanam 245 hektare yang melibatkan 13 unit kelompok tani penerima manfaat. Sarana bantuan benih tersebut terbanyak dan terluas dari sisi volume dan sasaran tanam jika dibandingkan alokasi dalam Kecamatan Tanete Rilau sebesar 5.835 kilogram dengan target tanam 389 hektare untuk enam desa/WKPP, proporsinya mencapai 62,98 persen dari sasaran tanam kecamatan. Sasaran tanam tersebut sebagai dukungan terhadap kegiatan akselerasi jagung tahun 2024 dimana pelibatan TNI turut serta dalam pengawalan dan pendampingan lapangan.

Kesesuaian lingkungan tumbuh jagung di Lalabata sangat adaptif karena secara umum varietas-varietas jagung hasil penelitian mutakhir sangat cocok dan realible dengan agroklimat lingkungannya. Toleransi jagung dalam ekosistem, baik di lahan kering maupun lahan sawah telah menunjukkan jati diri keunggulan genetikanya.Upaya intensifikasi dan perlakuan petani dalam memaksimalkan potensi tanaman secara nyata memberikan produksi yang hampir presisi dengan hasil penelitian.

Pola pengembangan jagung yang dilakukan petani yang paling penting adalah kemampuan mendeseminasikan bahan tanam yaitu penggunaan benih unggul bermutu secara luas baik secara swadaya maupun bantuan benih pemerintah, sehingga upaya pencapaian produksi yang diperoleh saat ini berdasarkan survei ubinan pusat berbasis kerangka sampel area yang merupakan suatu metode pendugaan analisis produktivitas komoditi pertanian dari BPS.Monitoring survei dilakukan bersama para petugas pencacah BPS dan Mantri Tani Dinas Pertanian.

Kegiatan survei dilakukan pada sub round akhir 2023 hingga triwulan I 2024 ini dengan hasil rata-rata 12,8 ton per hektare. Proyeksi produktivitas tersebut merupakan hasil panen ontongan basah tanpa kulit dan tangkai.Jika dikonversi dengan rendemen jagung pipilan kering(PK) 56,73 persen maka akan diperoleh grade jagung PK sebanyak 7,26 ton per hektare tanpa tongkol dengan standar kadar air 14-16 persen.

Melihat realitas produktivitas jagung tersebut di atas dan harga pasar jagung pakan saat ini yang relatif murah pada angka Rp 3.000 hingga Rp 4.300 per kilogram maka potensi perolehan pendapatan petani jagung sebesar antara Rp.21,7 juta- Rp.31,2 juta. Faktor varian harga jagung sebenarnya terbentuk dari jumlah ketersediaan pasokan barang yang melimpah di suatu wilayah produsen menyebabkan akumulasi barang menjadi over produksi maka harga barang tersebut akan menjadi murah, termasuk posisi tawar petani yang selalu berkehendak disegerakan produksinya laku terjual. Fluktuasi harga jagung tersebut telah berlangsung pada masa panen akhir bulan februari tahun 2024 lalu walaupun harga yang kompetitif mahal telah juga dinikmati petani sebelumnya.

Sebagai saran kepada petani jagung Lalabata bahwa untuk menjaga stabilisasi harga jagung hingga normal kembali, lebih baik dilakukan langkah pengamanan produksi dengan cara memaksimalkan kadar air jagung hingga 12-14 persen lalu disimpan dalam gudang berkapasitas besar atau silo atau manajemen resi gudang (jika tersedia). Model pengamanan produksi tersebut memberi jaminan mutu jagung tetap terjaga dan bisa bertahan beberapa waktu kedepan selanjutnya dilakukan penjualan ketika harga jagung kembali normal di pasaran.

Strategi selanjutnya yang bisa dilakukan kedepan adalah mereview kembali jadwal tanam yang selama ini dilakukan. Langkahnya adalah menanam lebih awal ketika sentra jagung belum tanam secara menyeluruh,pada saatnya kemudian memasuki masa panen,sentra jagung belum mem-push pergerakan panen maka di Lalabata bisa menikmati harga mahal dengan produksi melimpah.

Namun demikian, kinerja dan semangat kerja petani patut diapresiasi sebagai pelaku pertanian sesungguhnya yang tak berjeda dalam berusaha tani jagung setiap waktu dan musim, bahkan memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya hingga peningkatan indeks pertanaman jagung di lahan kering. Sikap petani jagung Lalabata tersebut terus memancarkan kilaunya laksana mutiara terpendam yang setiap waktu terpoles bersama para petugas pendampingnya.

Lalabata, 29 Maret 2024

*PPL Desa Lalabata
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Kabupaten Barru

(Visited 67 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: