Oleh : Elvira*

Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja aku sempat melirik status bunda Gusnawati di WhatsApp. Salah satu editor profesional di Bengkela Narasi. Aku sering menyapa beliau bunda Gus jika berkonsultasi dan mengimput tulisanku di Bengkel Narasi. Isi dari postingan status bunda Gus adalah suatu ajakan dan juga sebuah undangan ilahi bagi personil yang memiliki jiwa dalam dunia literasi menulis melalui webinar atau zoom meeting tertanggal 22 April 2024 jam 15 WITA.

Seketika aku merasa terpanggil untuk mengikuti webinar ini. Orang pertama yang aku lirik adalah terpampangnya foto pendiri dan founder Bengkel Narasi Indonesia bapak Ruslan Ismail Mage dan para pemateri lain yang tidak asing dalam hatiku. Mereka orang-orang profesional yang hebat di Bengkel Narasi. Begitu bahagianya hatiku membaca tema webinar “Bimtek Guru Menulis”.

Webinar ini hasil kerjasama SMP Negeri 1 Watansoppeng Sulawesi Selatan dengan Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia. Founder Bengkel Narasi yang kami panggil Bang RIM, mengupas materi “Sumpah Pena” sebagaimana judul bukunya. Sementara narasumber kedua bapak Kuspryanto atau panggilan familiarnya Kang Iyan Apt, menjelaskan secara apik materi “Praktek Baik Guru Menulis”. Narasumber ketiga adalah bapak Suharman Musa dengan materi “Writing Habit Guru”. Tentu tidak kalah menariknya adalah bunda Gusnawati sebagai moderator yang cekatan mengatur arus lalu lintas komunikasi dalam di acara webinar tersebut.

Sungguh indah rencana Tuhan. Ternyata aku dipertemukan kembali dengan orang-orang hebat yang memiliki kepedulian tinggi melahirkan penulis-penulis buku. Mereka menyadarkan aku betapa pentingnya menulis dalam dunia literasi. Selama ini tulisanku menghilang tapi bukan anak yang hilang, muncul tenggelam di atas permukaan air, diterpa arus gelombang menghantam diriku bagaikan perahu di tengah lautan luas.

Namun kini aku terselamatkan kembali lewat webinar ini. Aku terbangun kembali, bukan sekadar bangun dari tidur tapi bangkit. Aku pun merasa bangga, masih disapa baik oleh moderator dan narasumber. Terutama sang inspirator Bang RIM dan Bunda Gus. Beliau berdua sangat familiar denganku. Terasa jiwa ini begitu dekat disatukan geliat literasi menulis di angkasa. Walau berasal dari latar belakang yang heterogen, negara yang berbeda, namun tetap disatukan satu misi dalam karya Ilahi. Bagaikan gembala yang mengenal dan mengetahui domba-dombanya di padang rumput yang hijau.

Begitu aku masuk dalam zoom meeting pas bersamaan dengan masuknya Bang RIM yang langsung menyapaku menanyakan kabar tanah airku Timor-Leste. Bang RIM tidak pernah jenuh mengingatkanku, “Apa pun yang terjadi, tidak ada alasan untuk tidak menulis di Timor – Leste”. Suara ini langsung bergema di telingaku. Bagaikan surat wasiat tertanam di lubuk hatiku, menjadi bekal untuk masa depan yang gemilang di bumi tercinta Timor – Leste.

Siapakah aku di negeri ini? Bukan siapa-siapa dan juga bukan apa-apa. Aku hanyalah biji dari sebuah tanaman di kebun, bahkan aku hanyalah seekor domba di padang rumput. Namun aku dipertemukan dengan orang-orang hebat rendah hati di seberang sana. Menuntun aku kearah jalan yang baik tentang literasi walaupun masih merengek minta perhatian dan petunjuk jalan. Mereka itulah para mentorku dan merekalah gembalaku yang baik. Para gembala mengenal domba-dombanya. Mereka tetap memantau ke manapun dombanya pergi.

*Penggiat literasi menulis dan anggota Bengkel Narasi Timor Leste

(Visited 21 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.