Pipiet Senja

Di sebuah grup dengan mayoritas anggota generasi Now.

Saya mengkritisi penulisan sangsi yang dipakai seorang anggotanya, dimaksudkan sebagai denda, hukuman atas pelanggaran.

Saya bilang:”Sanksi artinya denda, hukuman. Sedangkan sangsi artinya ragu, bimbang.”

Dia balas:”Lihat kalimatnya. Sudah sangsi tetap sangsi. Saya belum tahu ada kata sanksi dalam bahasa Indonesia….”

Saya seret dari googling seperti SC di atas. “Silakan lihat KBBI,” kata saya.

Eeeh, bukannya tengoklah itu KBBI. Malah blokir dakuw, Bestie wkkkk….

Mentang-mentang lulusan luar negeri. Tak tahukah kau itu, siapa Manini Qania?
Begini-begini 204 buku karya gw, Coy.
Sori, terpaksa somse nih. Biar kau penasaran.

Oh, wahai, gen Now yang merasa hebat, sangat pintar dengan opinimu. Tahukah, kau sudah bikin nenek-nenek ini sedih sekaligus kepingin ngakak!

Pinter sih pinter boleh aja. Tapi cek riceklah urusan kebenaran. Jangan pinter geminter, keblinger yeeeeh!

Syukurlah cucu-cucuku tidak begitu.

(Visited 7 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.