Pipiet Senja

Anno, 1977
Denok bukan nama orang atau hewan peliharaan. Dia nama sebuah benda, tepatnya sebuah mesin ketik milikku.

Mendiang Bapak yang memberinya nama begitu. “Si Denok geulis, cantiiiik…, banyak rezekinya, membawa hoki dan berkah buat kita semua,” ujarnya sambil bergurau seperti kebiasaannya.
Kami, aku dan enam adik akan tersenyum-senyum mendengarnya.

“Berkat si Denok ada juga anak Bapak yang jadi seorang penulis,” katanya pula sambil mengelus-elus mesin ketik buatan Jepang merek Brother. Kutahu Bapak pernah sangat bercita-cita menjadi seorang penyair dan wartawan perang di masa mudanya.

Aku pun mulai produktif menulis. Bersama si Denok aku “mengandung” dan “melahirkan”. Macam-macam “anak” yang sanggup kulahirkan akhirnya; artikel remaja, puisi, cerpen, novelet, novel bahkan surat-surat pembaca.

Persekutuan, kolaborasi dan kebersamaanku dengan si Denok tak pelak lagi banyak memberiku berkah. Bahkan mulai terasakan pengaruhnya pada adik-adik dan orang tuaku.

“Traktir, traktiir, Teteh!” seru adik-adikku begitu Pak Pos datang mengirimkan wessel honorarium tulisan-tulisanku. “Sok, sok atuuuh ka dieu. Saha anu rek daftar ti heula? Kudu nganuhunkeun heula ka si Denok atuh…”7

Kuingat, aku kemudian akan mengusung-usung si Denok ke ruang tengah, hingga adik-adik mengerubungiku.

“Nuhuuuun, Deee-noook!” seru adik-adikku sambil riuh tertawa.
“Bagaimana kamu ini, emping ditinggalkan malah ribet segala macam sajak diangkut!”

Demikian ibuku mengomel saat sulungnya kembali dari pesantren di kawasan Banten. Oleh-olehnya memang hanya sekeranjang naskah dan si Denok!
“Hapunten. Ma… maaf,” sahutku cengengesan.

Kutahu ibuku hanya mengomel sebentar, sama sekali bukan kemarahan. Karena selanjutnya kulihat ibu tersayang sampai dagdag-degdeg, gopoh-gopoh menyediakan penganan kesukaan sulungnya ini. Akhirnya En melanjutkan kuliah ke sebuah akademi pariwisata di Yogya. Bapak dengan gaji seorang perwira menengah sangat kelimpungan dibuatnya.

Belum lagi biaya sekolah adik yang lima orang, ditambah pula biaya pengobatanku, secara berkala harus ditransfusi.
Nah, saat itulah si Denok melahirkan ‘anaknya’ berupa novel yang pertama. Kuberi nama dia; “Biru yang Biru”. Karena kepepet dan butuh duit, terpaksa aku menjual ‘anaknya’ itu.

Seratus ribu rupiah di tahun 1977, sungguh amat berharga!
Lha wong, gaji Bapak yang perwira menengah saja tak sampai seratus ribu rupiah.
“Apa ini?” Bapak menengadah menatapku.

“Novel saya dicetak, Pak, yah, ini honornya. Buat biaya kuliah adikku En saja, Pak,” sahutku dengan wening hati, menyerahkan seluruh honorarium yang kuterima dari penerbit Karya Nusantara, Bandung. “Oooh…!” decak takjubnya mengapung di ruangan tamu rumah kami yang amat sederhana di gang Margaluyu, Cimahi.

Beberapa jenak tak ada yang bicara. Hatiku jadi tak enak. Khawatir hati Bapak tersinggung. Maklum, prajurit satu ini sangat kukuh dalam mempertahankan kehormatan dan gengsinya.
Bapak seketika mengangkat wajahnya, memandangiku lekat-lekat, seolah mencari-cari sesuatu di mata sulungnya.
“Alhamdulillah, Teteh.”

Duuh, aku menangkap ada butiran bening tergantung di sudut-sudut matanya. Mata seorang prajurit empat lima. Itulah kedua kalinya aku memergoki Bapak menitikkan air mata, setelah saat-saat aku mengalami kritis. Dia mengizinkanku pergi ke Yogya, mengantarkan uang kuliah untuk adikku En.

Itulah pertama kalinya si Denok kuajak bertualang. Kujinjing-jinjing dia dengan ekstra hati-hati, menjaganya melebihi bawaan lainnya. Sepulang dari kota gudeg itu, si Denok pun beranak pinak. Tak pelak lagi anak-cucu si Denok lantas mejeng dengan gayanya di harian dan majalah-majalah Ibukota, Bandung dan Surabaya.

Suatu kali si Denok baru saja ‘melahirkan’ lagi, kali ini sebuah memoar yang kuberi nama “Sepotong Hati di Sudut Kamar”.

Kami ‘membidaninya’ dengan sukacita di ponpes Kyai Azhari di kawasan Rangkasbitung, Banten.
Aku bermaksud menjualnya ke penerbit di Jakarta. Waah, bangga rasanya hati ini. Jadi juga aku seorang penulis, pikirku.

Usiaku baru duapuluh, novelku hampir dua, aah!
Huueeebaaat, euy!
Aku pamitan kepada istri Pak Kyai.
“Abahnya belum pulang, tunggu saja, ya Neng…”

Tapi aku tak bisa menunggu lagi. Karena isi telegram dari Enny begitu gawat darurat; “Teteh cepat pulang ke Cimahi koma Mak gak ada di rumah titik…”
Ya, ibuku memang pergi dari rumah. Aku sudah tahu itu. Ada suratnya yang baru kuterima kemarin.
“Mak stres nggak bisa menghadapi kejaran rentenir Batak yang galak-galak itu,” tulisnya.

Sekarang ibuku ada di Klaten, di rumah adik Bapak. Ah, kasihan sekali Mak. Sampai terlilit utang ke rentenir. Gara-gara memenuhi biaya pangobatanku tempohari. Rasa bersalah merayapi relung kalbuku.

Dari Rangkasbitung aku naik kereta jurusan Kota. Itulah angkutan termurah dan paling pas buat masyarakat ekonomi lemah. Rangkaian gerbongnya panjang mengular. Peninggalan zaman Jepang barangkali. Jeleknya tidak ketulungan!

Ajaibnya lagi, meskipun mengular penumpangnya keukeuh saja berjubelan. Manusia, barang, keranjang-keranjang ikan dan buah-buahan, bahkan ayam dan kambing segala… Dicampur-adukkan, woooi!

Masih untung aku kebagian duduk. Sepanjang jalan aku merintang-rintang waktu dengan membaca, berlagak tak peduli terhadap sekitarku. Habis, kalau dipedulikan kok rasanya jadi ikutan bludrek, ya?

Macam-macam tingkah polah manusianya. Mulai dari pedagang asongan, bandar-bandar ikan dan duren sampai Nyai Baskom. Itu tuh gadis-gadis yang berjualan kue, tapi dandanannya menor banget.

Nah, beberapa stasion sebelum stasion Kota, aku baru menyadari kalau si Denok sudah raib. Ya, benda mungil yang kuletakkan di atas kepalaku itu sudah lenyap, entah ke mana!
Aku mulai merasa panik dan mengutuki kebodohan diriku.

“Yee… salahmu sendiri! Ngapain coba nyimpan si Denok jauh-jauh, biasanya juga dekat kaki bahkan dipangku-pangku?”
“Lagian, ngapain sih baca Sidney Sheldon mulu?”
“Gak malu, ya, turun dari ponpes bukannya banyak zikir…“
Euleuh, habislah disumpah-serapahi si aku nun di kalbuku sana.

Aku bangkit dari bangku dan mulai berusaha mengamati barang-barang milik orang di sekitarku. Kalau-kalau si Denok ada yang salah bawa. Aku juga mulai terbuka kepada orang-orang di sekelilingku, dan menyatakan “telah kehilangan si Denok”.

Sementara hati dan pikiranku perlahan digerogoti penyesalan dan kesedihan.
Apa mungkin ini buah rasa sombong, riyaku, pikirku ngegeremet.
“Tadi sih saya lihat dibawa sama anak tanggung,” kata seorang pedagang asongan.

Hatiku semakin digayuti rasa sesal. Kasihan Bapak yang sudah capek menabung demi membelikanku mesin ketik itu. Entah bagaimana kelanjutan karierku sebagai penulis, kalau nggak punya mesin ketik?
Lha wong lagi senang-senangnya menulis begitu. Apa nanti harus balik lagi nongkrongi orang kelurahan, numpang ngetik?

Lantas bagaimana bilangnya nanti sama Bapak? Bagaimana mau membantu Mak yang terlilit utang rentenir Batak itu?
Ya Allah… Seketika bumi bagai jungkir balik di ujung jemari kakiku. Air mataku tak terbendung lagi.

“Sudah, Neng, jangan nangis. Mendingan kita cari saja, yuuk?” kata seorang wanita pengasong, menyentuh tanganku dan menatapku dengan rasa simpatinya. Aku memandangi wajahnya yang khas ndeso, lugu dan wening hati.

“Tapi… Gimana nyarinya, Bu?” tanyaku sambil menyusut air mata dengan ujung lengan kemeja panjangku.
“Yaah, kita lacak saja…”

Selang kemudian tiba-tiba saja teman-temannya sudah bergabung. Mereka sama menyatakan simpati dan berniat membantuku.

“Ayo, kita cari ke gerbong belakang dulu!”
Aku mengikuti kelompok pengasong yang baik hati itu menyusuri gerbong demi gerbong.

Seorang petugas, Pak Kondektur, lantas bergabung dan berusaha membantu kesulitanku.
Walau sudah ragu bisa menemukan kembali si Denok, aku tetap mengikuti mereka. Rombongan lama kelamaan jadi bertambah, dan kami terus menyusuri gerbong demi gerbong sampai di gerbong paling depan.

Sampai suatu saat tiba-tiba terdengar teriakan lantang.
“Ini dia yang ambil barang si Eneng itu!”
“Heeh, gak salah lagi, emang dia tuuuh orangnya!”

“Mana barangnya, ayoo, kasih unjuuuk!”
“Itu tuh, Neng, diumpetin di kolong bangku sana!”

“Kurang ajaaar! Hajar saja, biar kapook!”
Baak, buuk, baak, buuk!
“Paaak! Pak Kondektur, tolong jangan dibiarkan!” teriakku merasa iba melihat seorang anak laki-laki tanggung, sebaya adikku lantas menjadi bulan-bulanan orang banyak.

“Iyaaa, sudaaah berhentii!” seorang tentara akhirnya berhasil melerai massa yang sudah dipenuhi amarah.

“Eeh, iya… sudah, sudah saja, yah, Sodara-sodara! Kasihan atuuuh! Jangan diapa-apakan lagi, Mbak, Pak, Mas, Bang,” ucapku gemetar tak tahan melihat wajahnya sudah bonyok dan berdarah-darah.

“Ini Neng barangnya,” ibu pengasong menyerahkan si Denok ke tanganku.
Alhamdulillah, jeritku membatin. Aku meraihnya dan segera mendekapnya erat-erat di dadaku.

Kusimbahi si Denok dengan air mata haru. Tak peduli dengan mata-mata yang keheranan dan bibir-bibir yang tersenyum simpul.
“Sudah selamat, ya Neng, hati-hati. Jangan ada yang nyolong lagi barangnya,” kata ibu pengasong ketika kami berpisah di stasion Kota.
“Eeh, eh, iyaa, Bu, iya…”

Masya Allah, aku sampai lupa tak sempat mengucapkan terima kasih. Ketika kutengok lagi ke belakang, sosoknya sudah lenyap di antara hiruk pikuk stasion Kota.
@@@

(Visited 4 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.