Oleh: Elvira Pereira Ximenes

Menulis adalah ekspresi jiwa. Apa yang dipikirkan dan dirasakan dituangkan dalam bentuk kata -kata di atas sehelai kertas kosong entah apa pun bentuk dan warnanya. Seseorang habis-habisan mengeluarkan energinya memuat segala isi hatinya dalam bentuk kata–kata di dalam buku diarynya. Ketika itu juga beban pun terasa lega. Itulah keajaiban menulis.

Apakah menulis itu gampang? Hmm, tidak selamanya gampang tapi gampang-gampang sulit. Tergantung keadaan, mood dan bahkan sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitar. Tergantung juga motivasinya, menulis kepada siapa? Menulis untuk apa? Menulis tentang apa? Di mana tempat yang ideal untuk menulis? Kapan waktu yang tepat untuk menulis? Bagaimana cara menulis yang baik? Mengapa harus menulis? Apa keuntungannya? Jika seseorang tidak menulis apa kerugiannya? Apakah menulis dapat menghasilkan penghasilan yang layak? Apakah tulisan seseorang dihargai orang lain?

Bagi sebagian besar orang menulis itu sulit, menulis itu menjengkelkan, menulis itu menyita waktu, menulis itu berat, menulis bukan hobi, menulis itu suatu penyiksaan, menulis itu membosankan, menulis karena terpaksa dan masih ada berbagai macam pendapat dan alasan tentang ketidak nyamanan menulis. Tetapi bagi sebagian kecil orang, menulis merupakan suatu keharusan setiap hari. Menulis adalah santapan setiap hari. Akan merasa tidak lengkap dalam sehari jika tidak menulis. Menulis adalah bagian dari aktivitas hidup. Hidup tanpa menulis bagaikan nasi tanpa sayur. Terasa alergi jika tidak menulis sehari apalagi tidak membaca.

Kata Pak Ruslan Ismael Mage, founder Bengkel Narasi Indonesia bahwa menulis semudah menyatakan cinta. Betul apa betul? Terbukti Kenyataannya bahwa beliau sudah bergelut dalam dunia literasi menulis selama kurang lebih 30 tahun. Sebagai penulis sekaligus inspirator menulis bagi ribuan orang di tanah air Indonesia, telah menulis puluhan buku yang tersebar di seluruh tanah air Indonesia, serta menghasilkan generasi-generasi penulis pemula sebagai tunas-tunas muda harapan bangsa dan tanah air Indonesia yang kini meluas dan melebar misinya sampai ke pelosok bumi Timor-Leste.

Kini aku ikut merasakan hikmahnya, bahwa menulis itu indah. Keindahannya terletak pada hasilnya walau membutuhkan suatu proses. Tetapi menikmati saja. Ketika tulisanku mengudara di angkasa hingga menghipnotis para pembaca di setiap sudut kota di seluruh dunia. Isi dari setiap tulisanku menyentuh jiwa si pembaca, bagaikan setetes embun di pagi hari membasahi dedaunan hijau, kelihatan tubuh akan semakin segar. Ada sentuhan kasih di balik itu.

kata-kata cinta si penulis kepada si pembaca, apakah itu rahasia di balik menulis? Yuk cobalah memulai menulis. Yakinlah bahwa anda yang sudah membaca tulisan ini adalah calon-calon penulis junior berikutnya. Aku mengajak engkau karena aku mencintaimu. Thank You

(Visited 41 times, 7 visits today)
One thought on “Menulis Semudah Mengatakan Cinta”
  1. Luar biasa, aku suka, lanjutkan menulis apa yang dilihat, didengar dan dirasakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.