Pipiet Senja

Tiap kali mengarahkan cucuku, Athena Qania, anaknya Butet baca puisi. Pasti hebohan dulu!

Seperti saat coba mengarahkannya baca puisi Dato tadi malam. Karena mamanya kecapekan, baru tugas di luar. Rehat di kamar atas.

“Bukan begitu, Manini. Ini puisi temanya lembut. Jangan pake suara lantang….”
“Coba baca sendiri bait ini,” kataku, setelah lebih 30 menit kurasa tak sesuai dengan arahanku.

Kemudian dia membantah lagi; “Ya, masa menyuarakan Tuhan, teriak lantang sih?”

“Ya harus. Kan ini lagi protes….”
“Haiiish, bukan protes ini mah memohon, Manini, meminta.”

Pas sesuai gayanya dan aku videokan, eeeeh, ndilalah, gak ada hasilnya. Alias aku gak becus memvideokannya, kosong!

Karuan dia ambek, gubraaak saja nyungsep di lantai.
Kasihan nian rasanya, Bestie.

“Maaf, maaf ya, Cantik solehah kesayangan Manini….”

Beberapa jenak tak ada reaksi. Manini mulai dagdigdug jegheèr, eeeh jantungku. Sabar, sabar, gumamku membatin.

“Mama kayaknya
udah cukup rehatnya, hmmm….. Dahlah sama Mama saja,” katanya sambil bangkit, ngeloyor ke kamar atas.

Beberapa saat samar-samar kudengar suara mereka baca puisi. Aku melanjutkan menulis sinopsis buku terbaru. Doakan mau kolaborasi dengan Peggy Melati Sukma.

Hingga kudengar Athena ketok pintu. Minta divideokan saat dia baca puisi.

Hanya sekali videokan dengan ponselku sendiri. Nah, inilah hasilnya, Bestie.

Video pertama Athena Qania baca puisi bukan karyanya sendiri yang selalu bahasa Inggris.

Inilah puisi karya; Profesor Hashim Yacoob, budayawan serba bisa dari Malaysia.

Bagiku, ini kolaborasi lintas negara, lintas generasi nan kece badai.

Bagaimana menurutmu, Bestie?

RSUI, Depok, 27 Mei 2024

(Visited 11 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.