Pipiet Senja

Takkan kulupakan pertama kali mengalami di-bully alias dianiaya perundung.

Adalah saat sekolah
di TK. Persit Kartika Chandra, Sumedang. Basar. anak umur 6 tahun, bongsor dan nakal jailnya luar biasa untuk ukuran anak-anak.

Basar sering merebut bekal anak, termasuk bekalku. Sering menyepak, hingga anak yang disepak terjungkal kesakitan.

Kata Bapak:”Lawan dengan akal dan prestasi!”
Saat itu aku belum tahu arti prestasi. Kalau akal, adab sudah kupahami dari Ustad Badar di Pesantren Pesanggrahan. Sejak Balita aku sudah sering diajak ke Taklim NU oleh Nini, nenekku.

Suatu saat aku berhasil mendorongnya dari ayunan, hingga dia terjungkal dengan hidung berdarah.

Sejak itu si Basar tak pernah jail dan menyakitiku lagi. Malah sering menemani pulang. Hihi, kocak kelakuan bocah satu ini.

Si perundung saat aku berumah tangga dan sudah punya anak, tinggal di kampung Cikumpa, Depok. Bukan hanya satu, tapi ada beberapa, tak perlu disebut namanya. Biar mereka tahu diri, syukur syukur mau taubatan nasuha.

“Mau melanjutkan ke SMPN 3 Depok, nih yaaaa?” Sergah guru ngaji Butet.
“Orang miskin kayak kamu? Rumah saja belakang kuburan. Emakmu tuh kemana-mana cuma pake daster kumel. Gak tahu diri banget kamu, Butet!”

Aku hanya memeluknya erat-erat dan bilang:”Kamu bisa lawan para perundung dengan akal dan prestasi, Anakku.”

Sejak itu kulihat Butet serius belajar. Hasilnya sungguh tidak mengkhianati. Dia selalu peringkat satu sejak SD hingga lulus test masuk FHUI.

Ketika guru ngaji perundung itu tahu Butet diwisuda S1, dia kirim SMS sbb;”Bu Pipiet, anak saya pingin masuk UI. Tolong bantu menyambungkannya dengan orang penting di UI….”

Syeeeet dah tuh sungguh gak tahu malu, ya! Menganggap anak si miskin ini sukses S1 FHUI, karena kongkalikong dengan orang penting?

Ketika mereka tahu aku sudah Umroh, lantas hendak berhaji. Sempat aku menguping mereka bergunjing sbb;

“Emak si Butet itu punya penyakit kutukan….Eeeeh, sekarang bilang mau naik haji?”
“Iya, makin koclak saja dia otaknya!”
“Sudah SGM alias sinting gila miring!”

Kulewati mereka dengan santai sambil memberikan selebaran: Undangan Walimatus Safar Bersama SNADA & Ulama.

(Visited 50 times, 5 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.