Oleh: Devinarti Seixas

Aku adalah seorang wanita single parent. Di negaraku, ketika seorang memilih hidup sendiri selalu saja jadi buah bibir masyarakat tua maupun muda. Terkadang merasa capek saat kita hanya satu individu yang memiliki dua peranan sebagai ayah dan ibu. Terkadang anak-anak harus melampiaskan amarah mereka ke kita tanpa menyadari perjuangan kita untuk memperoleh nasi sepiring bagi mereka. Namun, kita harus berbesar hati dan tetap membagi senyum untuk menjaga hati mereka.

Banyak masyarakat yang beranggapan jika wanita single parent itu layak dipermainkan karena tak ada lagi pendamping bahkan mereka berpikir hanya mereka yang memiliki mata, telinga dan mulut bahkan sepuluh jari tanpa berpikir bahwa apa yang mereka miliki juga sebenarnya dimiliki oleh yang direndahkan oleh mereka. Mereka lupa bahwa otak adalah pusat dari segala aktivitas yang dimiliki juga oleh wanita single parent.

Banyak kaum remaja bahkan tua-tua justru telah merusak diri mereka hanya ingin ikut dikenal orang juga pada akhirnya jadi korban pada keegoisan bahkan menjelajah jiwa mereka dengan ego yang akhirnya menjelaskan pada dunia tentang titik kelemahan para wanita single parent tapi mereka juga lupa terkadang mereka sendiri anak haram yang diada ayah bahkan ibu atau mereka sendiri tidak merasakan kasih sayang dan berakibat pada psikologi mereka untuk terus mencari titik kelemahan para wanita single parent yang mereka temukan dalam hidup dan sejujurnya ketika itulah kelemahan mereka sudah nampak di mata orang lain.

Banyak yang sering menjadikan kaum wanita berstatus wanita single parent sebagai kambing hitam dalam relasi atau hubungan keluarga utuh tanpa berpikir jika semua orang memiliki kemampuan masing-masing dalam melanjutkan kehidupan.

Seharusnya kita sadar akan satu hal, bahwa setiap status yang dimiliki insan di dunia ini bukan takdir bukan pula pilihan dan tentu semua hanya suatu kebetulan saja agar kita tidak boleh kehabisan akal untuk terus melanjutkan kehidupan kita.

Senyuman wanita single parent itu sederhana, namun bagi anak-anaknya adalah cahaya kehidupan. Terkadang sebagai manusia seorang ibu lebih paham akan arti siang & Malam juga ketulisan dan keikhlasan karena setiap wanita yang merasakan sakit saat hendak melahirkan benar-benar sadar bahwa hidup itu mahal meskipun kita menjalaninya dengan murah.

Maka harapan aku sebagai salah satu wanita single parent di antara ratusan juta jiwa wanita single parent lainnya teruslah mendidik diri kita dengan cinta yang bermakna agar mampu tertular pada anak-anak kita. Marilah kita senantiasa jadi ayah dan ibu sekalian teman tanpa berharap imbalan meskipun terkadang kita harus marah atau apa yang jelas semua akan terasa kelak.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.