Pipiet Senja

Ingin kukabarkan kepadamu, wahai dunia
Tentang balada anak marapi
Langkahnya tak pernah beranjak pergi
Ke negeri nun jauh di mata

Ia tegap berdiri bagai penjaga gunung
Penolak petaka semesta
Sungguh tak sama dengan anak-anak sebaya
Satu demi satu menjauh, menjauh dan menjauh
Bahkan tak ingin pulang kembali

Telah abaikan airmata bunda kandung
Lupakan tangis sanak kadang
Dibelit rindu nan tak teperi

Anak marapi tersenyum pilu
Namun semesta doa dilangitkan
Ia pun menatap langit biru
Menyaksi pelangi di ujung senja
Semesta purnama telah berlalu
Hingga tengah malam jelang dinihari
Galodo menerjang dahsyat

Bergetar bumimu bergetar dan bergetar
Lahar dingin mengalir bagai tak henti
Menyerbu kampung tercinta
Bukit berguguran mengirim longsor
Ke tanah pusaka

Tuhanku, izinkan ranahku takkan luluh lantak diterjang bencana

Lihatlah, seribu kunang-kunang beterbangan senantiasa
Pertanda asa dan cinta tetap menggema
Di setiap langkah anak marapi
Dia tetap tegap berdiri
Hingga detak jantung berhenti

Lihatlah, seribu kunang-kunang tetap beterbangan di ranah Minang
Tiada pernah sirna
Hingga akhir waktu

Depok, Juni 2024


Look there, Fireflies in Minang Lands
Indonesia by: Pipiet Senja
English by: Zhizhi Siregar

Let me tell you, oh world,
About the child of Marapi
Whose feet never strayed far from the rooted shadows of the mountain
Never chased horizons beyond the curve of their own vision

They stand a sentinel of the peaks
Warding off the calamities that the universe might muster
Not like the others those who drift away
Growing smaller
forgetting the path that leads back home

This child—ignoring the sobs that tear through the thick air
The cries of kin, the silent tears of a mother—
Wears a smile woven with melancholy threads
As they send their prayers like kites into the vast blue above
Catching glimpses of rainbows at dusk’s gentle close

Years tumble past until midnight leans into the morning
When disaster roars through with the force of a thousand rivers

The land quakes beneath the weight of unyielding flows
Cold lava that claims everything it touches
Hillsides collapse sending down avalanches to the sacred earth below

My God, shield my home from the wrath of this storm

But watch—there, among the chaos, a thousand fireflies dance unending
A swirling testament to hope, to love that reverberates in each step the marapi child takes
Unyielding, they stand
Heart beating fiercely against the quiet night

And see, still, a thousand fireflies flutter through Minang lands
Their light undimmed
Enduring until the end of time

Depok, June 2024

(Visited 14 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.