Sahabat Calhaj – Penyaji Pipiet Senja

“Ustad, ini gimana kok listriknya mati?”

“Memang dimatikan ibu. Supaya tidak ada masalah. Mohon sandalnya juga dimasukkan kamar ya.”

“Lalu kapan nyalanya?”

“InsyaAllah subuh sudah nyala ibu.”

Dikira mati listrik semalem doang. Ternyata ini rutinitas jamaah, setiap malamnya ya gini. Listrik dimatiin biar gak mancing kecurigaan askar (polisi saudi).

“Ustad, saya itu bayar mahal. Kok jadinya kayak dikurung gini di hotel, gak bisa keluar leluasa. Saya kan pgn juga sholat di Masjidil Haram.”

“Bukan dikurung ibu, tapi waktunya kami atur. Sabar ya ibu. Untuk sholat di Masjidil Haram kan gak harus sekarang. Saat ini ibu simpan tenaga dulu untuk haji. Nanti ibu bisa sholat sepuasnya setelah proses haji selesai.”

“Kapan tasrehnya dibagiin ustad?”

“Nanti ibu. Kalau sudah dekat waktu haji.”

“Apa gak bisa sekarang ustad? Biar saya bisa leluasa keluar gitu?”

“Mmm… bisa sih kalau ibu mau. Saya bisa ajukan, lusa insyaAllah sudah bisa keluar tasreh hajinya. Tapi ada biaya tambahan ya ibu, karena minta dipercepat.”

“Berapa biayanya?”

“Sekitar 25juta ibu.”


Cuplikan percakapan ‘pilu’ jamaah haji visa non haji. Padahal bayar ratusan juta, sampai di sana gak leluasa, masih kudu keluar duit ini itu.

Awalnya sih ‘lumayan’ lah ya. Berangkat dari Indonesia sampai di Riyadh berombongan, aman sentosa. Dari Riyadh naik bis ke Mekkah, bisnya oke. Pas mau sampai di gerbang check point Mekkah, semua jamaah diminta turun dari bis.

Ngapain? Ternyata mereka diminta masuk ke bagasi bis!
Yes. Laki-laki perempuan campur desakan di bawah situ. Di atas bis hanya ada sopir dan kawannya. Bis yang tampak kosong melenggang melewati gerbang masuk Mekkah. Pas rada jauhan, jamaah yang nyumpet diminta naik lagi ke bis. Biro travel minta maaf atas ketidak nyamanan tsb.

Sampai di Mekkah dapat hotel bintang 5. Makan enak, tidur enak, umroh lancar. Tadinya kesel karena disuruh nyumpet di bis, mulai happy dong. Saat inilah biro beraksi. Ambil kamera, syuting wajah gembira jamaah haji tanpa antri. Dokumentasi untuk meyakinkan ‘calon mangsa’ tahun berikutnya.

Habis dari hotel bintang 5, mereka pindah ke apartemen/hotel di dekat Mina. Jamaah haji resmi pun ya gini, pindah mendekat ke Mina. Bedanya adalahresmi cuman pindah tempat tidur doang alias merdeka keluar masuk hotel bahkan ke Masjidil Haram ya bisa. Sedangkan non resmi masuk ke ‘penjara’ berbentuk apartemen/hotel, seperti percakapan di atas gitu lah. Pergerakannya dibatasi.

“Tolong lah kalau ada yg bisa bantu. Saya mau pindah (biro) aja.” Si ibu tidak tahan dengan kondisi tsb rela bayar ratusan juta lagi demi bisa ibadah layaknya haji resmi.

Sayangnya duit si ibu ‘enggak laku’. Karena si ibu berangkat dengan visa kerja (visa amil). Maka ibu ini bakal kesulitan pulangnya jika nekat pindah biro. Yang ngasi ‘ijin kerja’ kan biro sekarang. Jadi kalau mau pulang ke tanah air ya kudu dapet ‘ijin pulang dari majikan’. Kalau gak ada ijinnya, di bandara bisa dicekal, dikira pekerja kabur.

Jadi saat ini si ibu cuma bisa pasrah. Sabar-sabarin terkungkung di hotel. Kata bironya: harap bersabar. Kita ini tamu-Nya Allah. Terserah Allah mau menjamu seperti apa. Kalau seperti ini ya diterima saja. Ayo semangat. Jangan mikir macam macam, fokus sama haji nanti. Anggap ini sebagai jihad.

Enak benerrrr


Sungguh kasihan si ibu. Niatnya mulia, tapi karena ketidaktahuan, jadinya begitulah.

Kalau sudah tahu ilegal tetep nekat berangkat ya terserah sih ya. Setidaknya sudah ada gambaran dan persiapan mental.

Lha ini kan orang gak paham, sebetulnya secara finansial mampu bayar furoda asli, tapi terjebak kurang ilmu, kemakan omongan biro yang bilang aman aman!

Kuncinya satu: kalau mau ibadah haji dengan resmi, pastikan visanya VISA HAJI. Tulisannya pendek: HAJJ

Sudah, itu aja, gak ada tulisan lain.

Terlampir contoh2 flyer haji, biro sudah menulis jelas jenis visa mereka gunakan untuk haji. Mana yang gak resmi hayo!

(Visited 12 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.