Oleh: Gusnawati,S.Pd.,M.Pd*

Kurikulum Merdeka di Indonesia diperkenalkan dengan tujuan memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal. Namun, implementasinya tidak tanpa tantangan dan kendala. Berikut adalah beberapa tantangan atau kendala yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka:

  1. Kesiapan Guru dan Tenaga Pendidikan: Banyak guru yang belum sepenuhnya memahami konsep dan tujuan Kurikulum Merdeka. Kurangnya pelatihan dan sosialisasi membuat implementasi kurikulum ini tidak optimal.
  2. Ketersediaan Sumber Daya: Sekolah memerlukan sumber daya tambahan seperti buku, alat peraga, dan teknologi untuk mendukung pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis proyek. Tidak semua sekolah memiliki akses yang memadai terhadap sumber daya ini.
  3. Perbedaan Kondisi Sekolah: Kondisi setiap sekolah di Indonesia sangat beragam, baik dari segi fasilitas, kualitas guru, hingga jumlah siswa. Hal ini membuat penerapan Kurikulum Merdeka menjadi tidak seragam dan menimbulkan kesenjangan.
  4. Pemahaman dan Dukungan Orang Tua: Orang tua siswa perlu memahami perubahan yang dibawa oleh Kurikulum Merdeka agar mereka bisa mendukung proses belajar anak-anak mereka di rumah. Sosialisasi kepada orang tua masih sering terabaikan.
  5. Penilaian dan Evaluasi: Sistem penilaian dalam Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada proses dan hasil belajar yang holistik, bukan hanya nilai ujian. Mengubah paradigma penilaian ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru yang sudah terbiasa dengan sistem penilaian konvensional.
  6. Manajemen Waktu: Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas dalam pengaturan waktu belajar, namun tanpa manajemen yang baik, fleksibilitas ini bisa menjadi kendala. Guru perlu mampu mengelola waktu dengan efektif agar semua kompetensi yang diharapkan bisa tercapai.
  7. Integrasi Teknologi: Kurikulum Merdeka seringkali mengandalkan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Namun, belum semua sekolah memiliki infrastruktur teknologi yang memadai, terutama di daerah-daerah terpencil.
  8. Penyusunan Rencana Pembelajaran: Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk lebih kreatif dalam menyusun rencana pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Proses ini memerlukan waktu dan usaha ekstra dibandingkan dengan mengikuti kurikulum yang lebih baku.
  9. Monitoring dan Evaluasi Implementasi: Pemerintah perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Namun, ini seringkali terkendala oleh keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, Kurikulum Merdeka menawarkan peluang besar untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih relevan dan bermakna bagi siswa. Dengan dukungan yang tepat dari berbagai pihak, tantangan ini dapat diatasi untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik.

*Penulis adalah pecinta literasi membaca dan menulis

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.