Pipiet Senja

Anno, 2013
Alkisah, sejak diriku ini sering keluar masuk ICU dan dinyatakan incoma, tipislah harapan hidup. Demikian kurang lebih.
Nah, sejak itulah aku sering melihat sesuatu. Bahkan sering pula disangka sebangsa sesuatu tersebut.

Adapun pertama kali melihat sesuatu di pondok, kawasan Banten, 1975.
Setiap kali melewati sebuah bangunan kecil di sebelah kamar Guru. Senantiasa bulu romaku meremang disertai mencium aroma kesturi.

Sekali itu aku baru pulang diopname dengan kondisi membaik. Ketika mau ambil wudhu untuk sholat Tahajud, melintas bangunan itu. Tiba-tiba saja kulihat ada makhluk cantik sekali. Bergamis hitam lengkap dengan kerudung hitam.

“Assalamu alaikum….” Aku menyapa tanpa curiga.
Kukira dia tamu Guru, mungkin dari Malaysia atau Brunei.
Guruku dikenal suka mengobati dan meruqiyyah. Sering juga orang datang untuk minta nasehat, doa: sukses berniaga, agar segera dapat jodoh, semacam begitulah.

Kembali ke si gamis hitam cantik. Dia tidak menjawab salamku. Hanya mengangguk dan tersenyum indah. Masuk kembali ke dalam bangunan mungil itu, tanpa berkata-kata.
“Hei, tunggu, kenalan….” Aku mencoba mengejarnya.

Namun, sosoknya menghilang di balik bangunan mungil dan unik itu. Ada ukir-ukiran bulan bintang dan mosaik ayat-ayat suci di pintu kayu jati.
Saat aroma kesturi menguar memabukkan, seketika bulu romaku meremang hebat. Jangan-jangan bukan manusia, pikirku. Hihi.

“Nyaiiiii!” teriakku berlari pontang-panting sambil memanggil Nyai, istri Guruku.
Nyai yang membuka pintu depan kaget melihatku datang. Mulutku ngaweuleuhweuh alias meracau tak karuan.
“Minum, ini minumlah, Neng,” ujarnya menyodorkan air bening dari kendi.

“Tidak apa, Neng, dia makhluk ciptaan-Nya juga,” komentar Guru sesaat mendengar ceritaku tentang makhluk cantik bergamis serba hitam.
“Jin, korin, ya Guru?”
“Hehehe….”

Sejak itu beberapa kali aku masih melihat sosoknya. Ya, dia tidak melakukan apa-apa selain menatap dan tersenyum indah kepadaku.

Guru menjelaskan bahwa si Geulis Bergamis Hitam adalah makhluk ciptaan-Nya pula seperti kita. Tidak berbahaya dan takkan ganggu. Asalkan kita juga tidak ganggu dia.

Begitu, ya, Guru, baiklah.
Aku percaya saja. Guru kan kudu ditiru. Sejak itu tiap kali kawenehan, secara kebetulan melihatnya, aku cukup membalas senyumannya. Yaaaah, mana tahu kecipratan geulis dan harum kesturinya.

Hingga aku pulang masih kulihat bayangannya sekejap-sekejap.
Seiring waktu berjalan. Aku jadi terbiasa jika melihat sesuatu. Tidak kaget dan nyaris tak takut lagi. Maksudku mereka tak berhasil membuatku ketakutan.

Adakalanya di beberapa tempat tertentu, aku pun melihat sesuatu yang aneh tersebut. Biasanya aku hanya memendamnya dalam hati.

Bukan hanya di Tanah Air. Bahkan saat ke Hongkong dan Macau. Aku pun jumpa sesuatu berbaju mirip Vampire di film Mandarin.

Suatu kali mengisi Malmingan, aku ikut bersama rombongan Ustad DD Hongkong. Tidak perlu disebut namanya. Ustad ini sosok yang sangat bersahaja, rendah hati, sekalipun ilmunya mumpuni.

Ia membawaku ke sebuah apartemen yang dipakai sebagai shelter, rumah singgah penampungan anak-anak PMI yang bermasalah.

Mendadak Ustad mengingatkanku.”Nanti Teteh jangan heboh kalau lihat sesuatu di dalam sana.”
“Ustad tahu, ya, kalau Teteh….”
“Iyalah, tahu. Sering lihat sesuatu, ya kan?”

“Hehe…. Iya, Tad, entah mengapa begitu,” sahutku jujur.
“Anugerah Tuhan itu, Teteh.”
“Alhamdulillah….”
“Kali ini pasti berbeda, Teteh.”
“Raksasa ya, Tad?” bisikku.
Ia mengangguk.”Jangan sampai bersirobok mata.”
“Ya, Ustad, Teteh paham.”

Guru juga mengingatkanku begitu. “Kalau kalah dia akan masuk dan menguasai ragamu.”

Benar saja, begitu naik ke lantai dua, ada makhluk tinggi gede banget. Kepalanya sampai menyundul langit-langit apartemen. Dia berdiri di sudut lorong dekat kotak sesembahan. Tempat para penghuni apartemen meletakkan sesajen ala China.

Nah, matanya melotot ke arahku seperti hendak menerkam. Ada dua taring menyeringai memerah darah. Merinding dahsyat bulu romaku, jantungku tak urung berdegup kencang. Mulutku komat-kamit merapal Ayat Kursyi.

Kami, Ustad dan aku akhirnya berhasil melintasinya tanpa dicolek sedikit pun.
Anak-anak shelter sudah beberapa hari diganggu. Satu per satu mereka kesurupan. Malam itu pun sudah ada yang kesurupan. Ketika kami mengaji berjamaah, ada beberapa kali dia menjegal kami.

“Stop stoop! Salah itu. Bukan begitu bacaannya. Tapi begini….”

Lantas anak BMI itu, sekarang disebut PMI, Pekerja Migran Indonesia, dengan fasih merapalkan beberapa ayat Surah Yassin.

Padahal kata teman-temannya, selama ini dia paling terbelakang urusan mengaji. Jangankan hafal ayat-ayat suci. Juzzama saja baru belajar.

Ustad tak peduli dengan pameran mengajinya. Ia terus melanjutkan meruqiyyah sampai tengah malam. Tampaklah anak shelter itu kelelahan, kemudian tak sadarkan diri.

Rombongan Ustad pun pamitan dan turun. Kembali kami berpapasan dengan makhluk entah apa.

Kali ini dia seperti mau bersahabat dengan kami.Tidak menyeringai mengerikan, melainkan tersenyum tanpa pamer kedua taringnya. Jeri juga agaknya dia oleh kami. Alhamdulillah.

Mau cerita seram lainnya?
Tunggu Maljum yeeee….Hehe.

(Visited 8 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Mentor Literasi untuk santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 67 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.