Saudara tidak harus sedarah, saudara tidak harus seiman, persaudarran biasanya terjalin karena adanya pandangan hidup yang sejalan. Dalam Al Quran, Allah menyeru bahwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujarat :13) Ditambahkan pada salah satu hadist Nabi mengatakan bahwa “Sesungguhnya orang mukmin bagaikan bangunan yang saling menguatkan. Orang mukmin diumpamakan juga seperti tubuh, jika ada anggota tubuh yang sakit pasti anggota tubuh lainnya merasakan sakit.” (HR. Al-Bukhari). Petunjuk ini, sesuai ayat dana hadist tersebut, mengajarkan persaudaraan yang erat antara sesame muslim, tidak berarti silaturrahmi terhadap agama lain dilarang. Tentu sama sekali tidak sepanjang persoalan ibadah aqidah tidak dicampur adukkan. Ayat lainpun islam mengajarkan “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (Al-Kaafirun: 6). Silaturrahmi dalam Islam memberikan kebebasan,sekali lagi, kecuali aqidah dan ibadah.
Terkait persaudaraan yang harus dibangun selain terhadadap sesama muslim, juga harus membangun persaudaraan terhadap saudara selain muslim. Sebagai bangsa yang besar yang telah merdeka sejak 76 tahun yang lalu. Umur yang sudah sepuh, umur yang telah melewati usia dewasa, yang seharusnya telah memberikan kesejahteraan, kedamaian, dan seharusnya menunjukkan kejayaannya pada dunia sebagai bangsa yang besar dengan kemajuan teknologi (Habibi telah memulainya dengan menghadiahkan pesawat terbang yang canggihdi jamannya pada HUT-RI ke-50, namun harus menerima kenyataan pahit ketika reformasi bergulir), pendidikan (tak dipungkiri, sederet gelar menyertai banyak nama pada petinggi, politisi, dan akademisi) , ekonomi (Indonesia Negara yang amat sangat kaya, SDAnya melimpah dengan hampir semua jenis), dan lain-lain tetapi seakan mengabaikan akhlak dan adab, maka semuanya terkelola tidak menguntungkan bagi rakyat secara merata, mengkhinati amanat UUD “Tanah dan Air, dan kekayaan lainnya dikelola oleh Negara untuk kemakmuran rakyat.”
Membangun persaudaraan sesama anak bangsa saat ini, harus kembali kita gelorakan. Mengapa? Sadar atau tidak, tahu atau tidak, bila pernyataan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra itu benar, maka tanpa membangun persaudaraan maka tak salah jika pernyataan sebagian orang “Indonesia tinggal nama di atas peta” atau “Indonesia akan menjadi puing-puing yang hanya ada dalam kenangan.” Na’uzubillah. Bangga menjadi bangsa yang besar akan luluh lantak. Pernyataan-pernyataan Yusril (postngan di medsos) tapi jika kita amati keadaan akhir-akhir ini memang begitulah adanya, antara lain:
“negeri kita telah diserang dengan lima kekuatan besar secara bersamaan, yakni : Komunis, Nasrani, Yahudi, Syiah, Munafikun. Penyerangan telah dilakukan sejak 18 tahun yang lalu dengan sangat sistematis, berhasil menguasai berbagai bidang, yakn : Pemerintahan, Ekonomi, Plitik, Meda, Pertanian, Kesehatan, Pendidikan, bahkan Pesantren, dsb. Mereka juga telah menguasai struktur birokrasi, antara lain : DPR,MPR, KPK, Polisi, banhakan TNI nyaris dilumpuhkan. Konstitusi telah diubah, WNA bebas berdatangan dan bisa langsung menjadi WNI dengan berKTP seumur hidup, otomatis bisa ikut Pilkada (Pilpres 2019 telah memberikan gambaran nyata ).” Dan masih ada lagi pernyataan yang mengerikan. Walau pernyataan yang diunggah ini di medsos, saya anggap terlambat karena Prof. yusril salah satu pengacara yang ngotot memenangkan rezim sekarang , tapi paling tidak makin meyakinkan kita bahwa Negara kita dalam keadaan “TIDAK BAIK” atau berlebihan jika saya katakan dalam keadaan “DARURAT.” Sebenarnya keadaan ini sudah muncul sejak Reformasi bergulir. Parlemen jalanan yang berhaluan Komunis telah melenggang masuk di gedung MPR, ada yang bangga nenjadi anak Komunis. Kebijakan-kebijakannya bahkan Undang-undang dibuat tumpang tindih, dll keputusan yang tidak masuk akal sehat.
Berharap dengan momentum silaturrahmi ini, “MANAJEMEN SATU RASA” kembali kita rajut semangat persatuan dan kita gelorakan persatuan itu di setiap relung-relung hati yang berhati seperti halnya saat memulai kesadaran Nasionlal tahun 1989 yang dipelopri oleh Ki Hajar Dewantara, menjadi Kebangkitan Nasional 1908 dengan mendirikan Organisaasi Budi Utomo yang memberi semangat Nasional dengan melahirkan Ikrar sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa secara serentak dari desa sampai di kota, bersama secara bersamaan dalam bergerak untuk meraih kemerdekaan 1945. Walau pengakuan merdeka bagi Negara Indonesia telah kita dapatkan 76 tahun yang lalu, tetapi ketertindasan sebagian besar rakyat Indonesia kembali dirasakan. Tak apalah kita memulai seperti halnya 113 tahun yang lalu. Bagi generasi tua seperti kita saat ini, mungkin belum merasakan bahwa “Indonesia hanyalah kenangan,” tetapi anak cucu kitalah yang bisa jadi akan menerima akibatnya. Mereka akan menjadi budak di negeri sendiri. Na’uzubillah. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

Semoga tali silaturahmi ini akan terus terajut diantara kita. Meskipun tidak sedarah, tapi rasa itu menyatu……