20 Mei 1908 – 20 Mei 2021, 113 tahun yang lalu pemuda bangsa Indonesia makin terggugah melihat penderitaan sesama anak bangsa kala itu. Keterbelakangan sangat terasa akibat belenggu dan cengkeraman penjajah. “Kebodohan” adalah akar permasalahannya. Tercerai berai, miskin, dan terbelakang dalam segala hal. Pendidikan hanya untuk kaum tertentu. Kesadaran telah merambah di relung hati di hampir seluruh wilayah nusantara kala itu, sejak tahun 1989 yang diprakarsai oleh KI Hajar Dewantara dengan perguruan Taman Siswa yang didirikannya.
20 Mei 1908 dengan berdirinya organisasi Budi Utomo yang juga pada akhirnya bergerak di bidang poitik, mengantarkan para pemuda untuk bergerak menyingkirkan segala rintangan agar dapat terbebas dari belenggu dan cengkeraman penjajah. Tiga pemuda muncul ke permukaan dibimbing Ki Hajar Dewantara, antara lain : dr Sutomo, Gunawan Mangungkusumo, Soeradi Tirtonegoro. Ketiganya bertekad mendobrak kungkungan kebodohan, mendirikan organisasi yang bergerak di bidang social, ekonomi, dan budaya agar dapat meningkatkan martabat anak bangsa Indonesia. Pemuda se Nusantara serentak mulai bergerak bersama menyatukan visi dan misinya, dengan satu tujuan, “merdeka.”
28 Oktober 1928, puluhan tahun bukanlah waktu yang singkat setelah kesadaran membuahkan hasil menjadi Kebangkitan Nasional, yang akhirnya menjelma membakar semangat para pemuda se Nusantara menjadi Semangat Nasional yang ditandai dengan berkumpulnya para pemuda senusantara untuk melakukan kongres untuk berikrar besama menyatukan visi dan misi dengan menghasilkan “Sumpah Pemuda” walau sebelumnya telah dilakukan hal yang sama di tahun 1926 tapi tidak membuahkan hasil yang maksimal. Kongres ini berlangsung penuh hikmat, selain menghasilkan ikrar, lagu kebangsaan Indonesia Raya pun telah berkumandang, makin membakar semangat persatuan dan tekad pemuda. Mereka berbondong-bondong datang dari segala penjuru negeri. Pemuda dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Jawa, dan lain sebagainya berkumpul bersama, menyambung silaturrahmi,mengikatkan diri dan hati mereka, bertekad bersatu membebaskan diri dari belenggu tanpa berharap didanai dari siapapun. Sejak saat itu, gerakan-gerakan pemuda makin lincah dan gencar menjelma menjadi Gerakan Nasional yang membuahkan kemerdekaan.
17-8-1945, pembacaan Proklamasi sebagai pernyataan “Merdeka” di Lapangan Ikada oleh dua tokoh Proklamator kita walau masih dalam todongan senjata, tapi tekad para pemuda yang diwakili Sang Proklamator kita, yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Kala itu, lapangan Ikada penuh sesak dibanjiri oleh rakyat Indonesia yang ingin mendengarkan langsung pernyataan “Merdeka” tersebut, yang tidak sempat datang di ibu Kota, hanya memasang telinga mendengar dengan hikmad lewat radio karena saat itu radiolah yang menjadi salah satu alat komunikasi massa yang efektif.
1908 – 2021, merupakan rentang waktu yang begitu panjang. Jatuh bangun negeri ini telah dialami oleh pendahulu kita. Jangankan saat sebelum merdeka, saat merdeka saja sejak tahun 1945 hingga kini, Indonesia tidak luput dari ancaman. Tragedi ke tragedi berdarahpun sering terjadi, penghianatan-penghianatan juga tak luput terjadi, baik dari bangsa lain maupun oleh bangsa sendiri. Dari masa ke masa mengajarkan banyak hal terhadap pemuda sekaligus menempa mental menjadi Bangsa yang TANGGUH. Indonesia lahir bukanlah hadiah dari penjajah, tapi Indonesia lahir dari Godam Peperangan. Sama seperti halnya saat ini, di tengah badai pandemi Covid 19, Indonesia masih bertahan. Insya Allah, sampai kapanpun akan selalu Berjaya. aamiin.
