Merantaulah, agar kamu bisa merasakan betapa besarnya rindu akan kampung halam

anonim

Kampungku

Cennoe Desa Belo kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan Indonesia,Menelusuri lewat pencarian di google map, yang anda dapat sekolah saya SD. No. 83 Cennoe, bisa dipastikan hanya sekolah ini yang terbaca oleh google, mungkin operator di sekolah ini yang daftar di web, sehingga google mendapatkannya,

Cennoe sebuah dusun yang jauh dari Kota, bahkan kalau di cari peta, cuma sebuah titik kecil
Penelusuran tentang kampung saya ini pernah ku coba menelusuri dalam sebuah penelitian kecil kecil dengan berbagai sumber info lewat tutur lisan orang orang tua dulu, bahwa kampung ini waktu zaman gorilla, atau sebelum kemerdekaan, adalah hutan belantara, mulai dari kampung labokong, enrekeng, bakke, ganra, mulai di jamah jadi sebuah perkampungan, Bakke mungkin hutan ini banyak pohon yang sejenis bakke, ganra semacam alat tangkap burung di pinggir hutan, cocoklogi mencocokan bahasa lisan dengan sebuah kata,

Konon ketika kompeni lewat di pinggir hutan ini mereka bertanya apa itu ?, lalu masyarakat menyebutnya Lanra, (pecci, sio semacam unpang untuk nangkap burung) kompeni ohhh Ganra, sedangkan Cennoe, sebelahnya kampung Cellengnge, atau sekedar ngintip, ke kampung sebelah lalu berteriak memanggil warga karena masih hutan belantara, suaranya menggema dan nyaring sekali, itulah cocology Macenno saddang nah (nyaring) jadilah kampungku namanya CennoE. Sekali  lagi ini bukan temuan ilmiah seperti tulisan saya sebelumnya tentang Musu Belo, ini hanya informan bahasan tutur lisan yang masih saya ingat waktu kuliah
Kalau pulang kampung senang menelusuri, sejarah dll, lewat informan nenek kakek yang masih ingat tentang masa gurilla di jaman DI/TII, hanya lewat ingatan tidak ku tulis juga tdk direcording (1990 an).

Tentu tidak bisa di jadikan rujukan, tetapi minimal pemantik bagi pembaca dan ada yang merespon yang lebih detail dan sangat ilmiah, itu harapan dan tujuan penulis untuk memantik munculnya tesa baru. Bukan kah penelusuran nama Celebes dari penamaan ejaan akronim dari Belanda yakni Sele_bessi, krn d pulau sulawesi sangat banyak panre bessi, tukang besi yang handal zaman itu. Bukan kah Sinjai akronim dari bahasa makassar sin _ jai maknanya sama banyak dan bulukumba identik dengan bahasa bugis bulu (gunung) dan kumpa (kepunyaan ku) bulukumba/pa di maknai masih gunungku.

Sekali lagi penegasan ini  bukan untuk jadi referensi sunting untuk karya ilmiah ini hanya kekuatan kata dalam ilmu linguistik.
Nyaring bunyinya MACENNO, CENNOE, awalan Ma dan akhiran E mempertegas kepunyaan suara nyaring. Walaupun suaranya fals. Macenno kata sifat, cennoE kata benda,

Flashback, waktu  tahun 2019, sebuah jembatan saksi sejarah hidup saya runtuh termakan usia, dan tekanan banjir besar
Jembatan ini adalah jalur yang menghubungkan Desa Belo dan Desa Lompulle tepat di perbatasan kedua Desa tersebut. atau kampung Cellengnge, mannagae
jika warga soppeng hendak ke lompulle dan wajo atau sebaliknya biasanya melewati jalur ini. Akibat banjir yg melanda Kabupaten Soppeng jembatan penhubung dari arah Mannagae,  cellengnge,  cennoe terputus arah ke lompulle,  mattanru,  sabonre,  liu,  wajo,  untuk sementara tdk bisa d fungsikan alternatif kendaraan dari lompulle k liu Wajo dulu ke cabbeng baru ke Soppeng kota atau lewat jln baru d mattanru tembus leworeng. Tapi bukan itu solusinya segera d perbaiki dengan desain yg lebih bagus agak tinggi dg arsitektur yg cantik agar Indah dipandang,  dan Jembatan ini (2021) saya sudah lihat berdiri kokoh.Jembatan ini,  seingat saya mmg sudah tua bisa jadi lebih tua dari sy sumber info blm ada yg valid kecuali arsip d laktop sy pernah foto sebelum berangkat ke ujung pandang kuliah awal tahun 1990 itu juga kondisi jembatan ini sdh ,  sippo,  kami dulu menyebutnya jembatan yawana cempae ( di bawah pohon asam) pohon asam atau bahasa latinnya Tamarindus indica L   banyak kenangan kami seumuran ku disini kita singgah istirahat kalau naik sepeda singgah lempar piccara,  biawak atau nonton orang majjala bale,  atau tempat ulur waktu,  kalau bolos,  atau tidak buru buru ke rumah agar tdk di suruh ke sawah hhh,  atau tempat janjian kalau mau duel berkelahi,  tempat ini netral antara segitiga kampung,  lompulle,  mannagae,  dan cennoe,  atau tempat penjual obat kalau malam hari biasa juga dulu nonton layar lebar/tancap  pohon asam (cempa)  masih berdiri kokoh sampai sekarang tdk ada kontraktor yg berani tebang jangankan  memangkas kita di suruh buang air kecil d bawahnya kita tdk berani,  makarame kata orang tua dulu. Habis tarwih d masjid mannagae,  orang cennoe blm punya masjid,  pasti janjian ta di bawah pohon cempa, baru sekarang saya sadari ternyata orang tua kita dulu bijak dan pintar menjaga pohon dan lingkungan hidup cukup, menstigma pohon itu keramat, maka pohon itu selamat dari kepunahan inilah kira kira pohon yang tersisa dari hutan lebat (ale kale), yang ratusan tahun lalu. Kuyawana cempaee.

Koleksi pribadi sudirman muhammadiyah

Caption picture ini sekaligus memberi gambaran memory saya sekaligus ingin menarasikan bahwa sudah saatnya memang dibangun jembatan baru walaupun segala kenangan di jembatan ini bagi saya cukup lumayan biarlah terkubur bersama,  alam.

Narasi kita bisa berbeda tetapi secara umum terwakili yg sekampung dengan saya.
Berterima kasihlah pada masa lalu. Karenanyalah, engkau bisa memahami apa yg seharusnya engkau hindari.

Kampung yang tidak kampungan
Cennoe, tempat lahirku.


Reposting untuk generasi berikutnya.
Hukum 1 Komp. Unhas Antang, 10 Juni 2021.

Dr.Sudirman, S. Pd., M. Si.

(Visited 89 times, 1 visits today)

By Sudirman Muhammadiyah

Akademisi, penggiat medsos, teroris Literasi

One thought on “KAMPUNGKU CENNOE, CENNOE KAMPUNGKU”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *