Tulisan ini merupakan repost ulang, 2021 saya mencari ulang setelah menonton semi final Piala dunia Argentina vs Croasia Qatar 2022.

Sudirman Muhammadiyah |pecandu bola


Candu Sepak Bola
(Fanatisme dalam perspektif Sosiologi).

PROLOG
Agama adalah Candu Masyarakat,

Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world and the soul of soulness conditions. … Agama hanyalah keluh kesah dari mahluk tertindas, kemudian ia hanyalah opium.

Karl Marx

Pegelaran piala UERO, dan Copa America, di tahun ini, tentu magnet menontonnya lebih greget, karena pandemi Covid 19, penonton d studion di batasi, tetapi penonton online tak ada yang bisa batasi, hampir seluruh medsos menpostingnya, seluruh dunia melihatnya, dulu mungkin di batasi hak siar dll.

Pengemar Sepak Bola,  menjadi kegemaran, yang hampir seluruh umat manusia, Bukan hanya kaum adam, bahkan kaum hawa pun mulai ikut dalam euforia sepak bola. Tidak hanya anak muda, orang tua dan anak-anak pun berbaur menjadi satu menyaksikan laga sepak bola.

Sekilas mungkin tak ada yang istimewa dari sepak bola, tak jauh berbeda dengan olahraga lainnya seperti Basket, Badminton, Voli, bahkan Panahan, yang juga mempunyai atlet-atlet berbakat dan rupawan
Bahkan dulu dikampung saya di Cennoe, Soppeng kalau nonton bareng di tv, bagi yang tidak suka bola minta ganti chanel, Apa itu sepak bola, satu bola di kejar ramai ramai, orang tendang kiri kanan, permainan orang gila, bagi orang yang hanya memahami sepak bola dari sepintas mungkin sependapat dengan itu, tapi menurut saya, sepak bola bukan hanya itu, tetapi meliputi, taktik dan strategi, rule, dan aspek penonton, soliditas, panatisme serta profesionalisme bahkan bisnis dan politik ada di sepakbola. atau Bola yang disepak, idem bulu tangkis, atau tangkis bulu.

Sepak Bola, yang penggemarnya bahkan orang yang tidak tahu sepakbola juga bisa keranjingan, realitas yang terjadi menunjukkan bahwa besarnya kecintaan seseorang pada sepak bola atau suatu tim sepak bola menjadikan mereka begitu sensitif, dan memunculkan sikap fanatik.

Kita sering melihat iring-iringan sepeda motor dan bus-bus dengan berbagai atribut tim sepak bola ketika timnya akan berlaga, coretan-coretan di wajah bahkan sekujur tubuh menjadi tanda kecintaan terhadap klub yang mereka dukung, memang suporter dan sepak bola suatu yang tidak dapat dipisakan.

Dimana ada sepak bola disitu pula ada suporter.bahkan Suporter biasa di sebut pemain ke dua belas, peran suporter sebelum covid, dan sekarang hampir tidak ada bedanya cuman medianya yang berbeda sekarang teriakteriaknya di tumpahkan di medsos.

Fanatisme dalam Prespektif Sosiologis


Menurut Ahmadi (1990),Fanatisme dalam Kamus Sosiologi menyebutkan bahwa Fanatism (Fanatisme) adalah antusiasme yang berlebihan dan tidak rasional untuk, atau pengabdian kepada, suatu teori, keyakinan, atau garis tindakan.

Fanatisme merupakan kata yang berasal dari bahasa Latin fanaticus, yang memiliki arti amarah atau gangguan Jiwa. Hal tersebut merupakan gambaran bahwa amarah yang terdapat dari seseorang yang fanatisme merupakan luapan karena tidak memiliki faham yang sama dengan orang orang lain

wikipedia

Fanatisme adalah dimana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan, atau apapun saja dengan cara berlebihan, sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan atau konflik serius.(kompasiana diakses 2021).

Sementara itu dalam buku sosiologi karya James M.Henslin (hal.148) yang telah diterjemahkan, bahwa para sosiolog menggunakan istilah penyimpangan (deviance) untuk merujuk pada tiap pelanggaran norma mulai dari pelanggaran sekecil mengemudi melampaui batas kecepatan maksimum, sampai dengan seserius seperti pembunuhan.
dan fenomena itu sering terjadi di dunia sepakbola, bahkan pernah moment piala dunia,Andrés Escobar Saldarriaga, merupakan seorang pemain sepak bola profesional asal Kolombia.

Escobar tewas dibunuh di kota kelahirannya di Medellin tidak lama setelah timnas Kolombia tersingkir dari Piala Dunia FIFA 1994. dengan dugaan yang menyatakan bahwa pembunuhan Escobar erat kaitannya dengan gol bunuh diri yang ia ciptakan saat melawan timnas Amerika Serikat di pertandingan penyisihan Piala Dunia 1994.Tuan rumah USA.Wikipedia (diakses 2022).

Kenapa kita begitu loyal dengan kesebelasan idola kita? Apapun hasilnya, menang ataupun kalah, kita selalu mendukung kesebelasan idola kita tersebut setiap pekannya, atau bahkan setiap hari, yaitu dengan selalu mengikuti perkembangan beritanya.

Apa bedanya hobi, fanatisme, dan kecanduan?

Untuk mengawalinya, kita bisa bersepakat bahwa hobi adalah dasar dari fanatisme dan kecanduan. Hobi memiliki arti kegemaran atau kesenangan istimewa pada waktu senggang, yang bukan merupakan pekerjaan utama

Kemudian fanatisme bisa diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap sesuatu. Biasanya pada sebuah ajaran seperti politik, agama, dan juga termasuk sepakbola.

Sedangkan kecanduan berasal dari kata, yang menurut KBBI memiliki arti kejangkitan suatu kegemaran hingga lupa dengan hal-hal yang lain.

Fanatisme dalam sepakbola sebenarnya bisa dikategorikan sebagai kecanduan untuk terus mengikuti atau mendukung kesebelasan favoritnya. Ini sangat tergantung dari bagaimana kita mendefiniskan kecanduan, tersebut. Masalahnya, hal apa yang bisa membuat suporter sepakbola menjadi candu?

Tanda tanda Kecanduan Sepak Bola

Ciri-ciri jika kita sudah kecanduan sepakbola

Ada 6 hal utama agar sesuatu bisa dibilang candu:

1). rasa berlebihan, perubahan suasana hati (moody), anti-toleransi, rasa menolak, konflik, dan kambuhan. Setiap perilaku yang memenuhi semua kriteria ini harus dianggap sebagai kecanduan.

2). Rasa berlebihan akan timbul jika kita sudah mendukung salah satu kesebelasan sepakbola atau juga segala sesuatu yang berhubungan dengan kesebelasan tersebut, yang sudah kita anggap sebagai salah satu kegiatan yang paling penting dalam hidup kita.

3). Rasa berlebihan ini akan berdampak pada cara kita berpikir, perasaan hati, dan kebiasaan kita yang kemudian berpengaruh pada orang lain. Mudahnya, jika dalam hampir setiap kegiatan (misalnya makan, beribadah, mandi, menjelang tidur, dan lain-lain) kita selalu memikirkan hal yang berhubungan dengan sepakbola, maka kita sudah kecanduan.

4). Perubahan suasana hati atau yang biasa disebut dengan moody. Ini adalah konsekuensi utama dari rasa berlebihan di atas. Misalnya kita bisa tiba-tiba tidak semangat pergi ke kantor atau sekolah karena semalam sebelumnya kesebelasan yang kita dukung kalah.

5). Ada rasa menolak yang tidak mengenakkan karena bisa mempengaruhi perasaan dan juga fisik, dari mulai moody, rasa gusar, khawatir, sampai akhirnya sakit. Rasa menolak ini juga celakanya dapat terjadi ketika kita mencoba untuk berhenti atau beristirahat sejenak dari sepakbola, namanya juga rasa menolak… selalu ditolak terus.

6). Menghabiskan waktu yang berlebihan untuk mendukung kesebelasan favorit kita dapat menimbulkan konflik untuk sekitar kita (konflik interpersonal), konflik untuk aktivitas kita yang lain (pekerjaan, sekolah, kehidupan sosial, dan hobi kita), dan juga konflik untuk diri kita sendiri (kehilangan kendali atau konflik batin).

Kesimpulan
Pada umumnya, hobi adalah kegiatan yang bermanfaat untuk jiwa dan fisik kita. Tapi bagi sebagian orang, bentuk hobi yang ditunjukkan oleh antusiasme dalam mendukung kesebelasan sepakbola bisa jadi fanatisme yang berujung kecanduan.

Satu hal utama yang membedakan hobi dengan kecanduan adalah jika hobi bisa memberi warna kepada kehidupan kita, sementara kecanduan bisa merenggut kehidupan kita.

Sepakbola adalah agama. Kalimat seperti itu sering digunakan untuk menggambarkan kefanatikan para pendukung sepakbola di beberapa negara seperti Brasil dan Inggris.Dan menyaksikan apa yang terjadi di Inggris, secara sosiologis mungkin kalimat sepakbola adalah agama bisa dibenarkan.  .

Nilai-nilai kehidupan, kebenaran, yang buruk dan yang baik, semuanya bisa tercerminkan dalam sebuah pertandingan sepakbola.Tentu saja masing-masing kepala akan memaknainya secara berbeda, menafsirkan kejadian secara berbeda, tergantung sudut pandangan maupun kesebelasan mana yang didukung. Tetapi bukankah agama juga demikian.
Wallahu a’lam bishshawabi.
Salam Sepak Bola
Makassar,| 14|12|2022

Sudirman Muhammadiyah|pecandu bola

menuju grand final

Referensi Sunting:
*Stuart T, Parker K (1997) The West Ham syndrome. International Journal of Market Research, Vol. 39 No. 3, 1997.

*Tapp A (2004) The loyalty of football fans — We’ll support you evermore? Journal of Database Marketing & Customer Strategy Management, (2004) 11,; doi:10.1057/palgrave.dbm.3240221.
*analisa pengamat bola di media. Setiap nonton bola

(Visited 539 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

2 thoughts on “Candu Sepak Bola (Fanatisme Prespektif Sosiologi)”
  1. Menyimak,…. akhirnya menyimpulkan bahwa saya masih pada level hobi nonton sepak bola (jika hobi, fanatisme dan kecanduan adalah tingkatan),..argumennya adalah karena walaupun saya senang nonton sepak bola, tapi kalau sudah larut malam, saya tidak bisa lagi menonton karena rasanya kesehatan saya mengalami gangguan setelah itu.
    atau mungkin dengan argumen ini saya masih di wabahnya hobi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.