Folklore berasal dari bahasa Inggris, kata “Folk” dan “Lore”. “Folk” adalah sekelompok orang dengan karakteristik tertentu seperti budaya dan fisik yang menjadi ciri kelompok lain. “Lore” adalah budaya yang telah ditransmisikan secara lisan atau lisan.

Folklore adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan atau diwariskan secara tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai isyarat atau alat bantu pengingat.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

Digagas oleh Gugun Gunardi dan Zulkifli Azir, Folklore Indonesia merupakan komunitas pegiat literasi yang berfokus pada penyebaran budaya, ciri kelompok tertentu, adat istiadat tradisional, dan cerita rakyat Indonesia dari generasi ke generasi.

“Sejak awal Bengkel Narasi terbentuk, salah satu misi kami adalah memunculkan anggota sebagai penggerak literasi sesuai kapasitas dan kompetensinya masing-masing. Di bulan November, kami sudah memunculkan Andi Chairul Ihsan Parani dengan gerakan literasi ‘Senam Jiwa’. Desember ini, kami memunculkan Gugun Gunardi dan Zulkifli Azir dengan gerakan literasi ‘Folklore Indonesia’. Folklore atau folklor akan sangat menarik untuk digali,” ungkap Ruslan Ismail Mage, founder Bengkel Narasi.

“Sebagai langkah awal, sudah dibuat grup WhatsApp dan setiap orang yang memiliki interest dalam hal folklore/folklor bisa bergabung. Selanjutnya mau di bawa ke mana gerakan literasi Folklore Indonesia ini akan dikawal oleh Pak Gugun dan Pak Zul,” jelas Iyan Apt, co-founder Bengkel Narasi. []

(Visited 149 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Folklore Indonesia, Gerakan Literasi Budaya Ala Bengkel Narasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.