Oleh: Muhammad Sadar*
Hattrick adalah istilah dalam olah raga yang kerap kali digunakan pada sepak bola atau balap motor dan lainnya. Hattrick merupakan capaian keberhasilan yang diciptakan oleh tim tertentu dalam suatu perlombaan atau pertandingan. Interpretasi hattrick yaitu kemenangan yang diraih tiga kali beruntun pada suatu event bergengsi dengan prestasi yang membanggakan dan bisa jadi hattrick menciptakan record baru atau deklarasi suatu reputasi yang prestisius.
Kini, kata hattrick digunakan dalam setiap capaian keberhasilan dan diadopsi sebagai ucapan simpatik pada suatu tim yang membawa kemenangan atau kesuksesan. Selebrasi hattrick tak asing lagi bagi masyarakat yang mengantarkan pemenang menjadi kampiun berturut paling kurang tiga kali dalam laga tanding apapun. Tak terkecuali, slogan hattrick juga menjadi pelecut semangat bagi sektor pertanian utamanya didalam penerapan suatu inovasi varietas padi unggul.
Sarana produksi pertanian yang sangat menentukan pada keberlangsungan siklus budidaya tanaman adalah benih dari berbagai varietas dengan ragam aspek keunggulannya. Varietas padi yang telah melalui serangkaian kegiatan pemuliaan, perakitan dan ujicoba hingga uji adaptasi atau diseminasi pada multi lokasi yang akan menghasilkan varietas terpilih. Tahapan tersebut telah dilalui oleh duet varietas padi unggul baru yaitu Padjajaran Agritan dan Cakrabuana Agritan yang telah dilepas resmi oleh pemerintah pada tahun 2018.
Berdasarkan pikiran imajiner penulis dalam artikel sebelumnya tentang Padjadjaran diartikan dari kebesaran namanya yang berkomposisi kekuatan, ketahanan dan keberhasilan. Sejak pertama kali varietas padi Padjajaran Agritan dikembangkan di Barru dengan kelas benih penjenis pada musim tanam gadu 2024 di ekosistem lahan sawah beririgasi seluas 0,50 hektare, produktivitasnya mencapai 4,0 ton. Pertumbuhan tanaman normal walau terdapat gangguan OPT namun tergolong nihil dan tidak berarti mengurangi produksi. Kebutuhan air cukup tanpa cekaman iklim seperti kekeringan. Sedangkan produksi yang dihasilkan adalah merupakan benih dasar dan dikuasai oleh produsen benih padi nasional PT. Harmoni Mega pada harga yang sangat kompetitif dengan free market.

Pada musim tanam rendengan tahun 2024/2025, varietas Padjajaran kembali dibudidayakan petani untuk yang kedua kalinya pada hamparan sawah tadah hujan BPP Mallusetasi seluas 5,0 hektare. Ekosistem sawah yang mengharap kecukupan air hujan dari langit, ternyata Padjadjaran mampu beradaptasi baik pada lokasi tanam barunya dengan kelas benih dasar yang disandangnya.
Fase pertumbuhan vegetatif awal mengalami efek cekaman air yang berlebih namun stabilisasi vigor tanaman tetap bertumbuh dan berkembang normal.
Padjajaran sebagai tanaman penutup akhir tahun 2024 lalu dipersawahan BPP Mallusetasi, mampu memberikan produksi total yang sangat memadai yaitu sebesar 22,9 ton pada masa panen pertama rendengan tahun 2025. Kemudian memasuki musim tanam kedua tahun 2025, varietas Padjajaran kembali dibudidayakan untuk yang ketiga kalinya pada lokasi yang sama dan Padjajaran menjadi varietas pembuka untuk pertama kalinya hamparan sawah BPP Mallusetasi digarap untuk musim tanam padi kedua-gadu tahun 2025.
Di tengah paralelisasi pekerjaan pesemaian dan olah tanah menyongsong musim tanam ketiga di lokasi persawahan BPP Mallusetasi, kembali dilakukan aksi panen Padjajaran yang ketiga kalinya oleh kelompok tani Mario Marennu sebagai aktor penerap varietas Padjajaran selama ini. Produksi panen mencapai 21,2 ton. Capaian pada musim panen kedua agak lebih rendah dibandingkan pada musim pertama namun tidak signifikan perbedaannya. Volume total Padjajaran yang terproduksi di kelompok tani Mario Marennu selama dua musim tanam adalah merupakan kelas benih pokok dan harganya diatas ketentuan harga gabah kering panen lainnya.

Beberapa faktor penyebab kurangnya produksi Padjajaran pada musim panen kedua tahun 2025 antara lain serangan hama tikus sejak awal pertumbuhan tanaman sehingga optimalisasi anakan kian terganggu hingga fase generatif. Kemudian pada periode masak susu, pematangan bulir hingga masak penuh, serangan udara komunal burung pipit sangat berat karena pertanaman pada kawasan yang terbuka, dan hanya hamparan persawahan BPP Mallusetasi yang memprepared standing crop padi di area ini sehingga lokasi tersebut menjadi sasaran empuk manuver bagi makhluk terbang seperti burung dan sejenisnya.
Tantangan pengembangan varietas tanaman berbeda pada setiap peralihan musim. Antara musim tanam pertama ke musim kedua, dan ketika melanjutkan musim tanam ketiga (MT.III) akan menimbulkan perasaan kuatir, keraguan, kemustahilan atau sikap ambigu para pelaku pertanian. Namun suatu keniscayaan dan kenyataan lapangan yang berlangsung saat ini adalah, sehari sebelum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 tahun yaitu pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025 di lokasi persawahan
Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru di bawah panji kelompok tani Mario Marennu Kelurahan Mallawa dilakukan akselerasi kegiatan penanaman padi dengan menggunakan varietas berbasis genjah Cakrabuana Agritan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah budidaya padi di wilayah kerja ini diterapkan pelaksanaan tanam ketiga kalinya pada hamparan atau bidang lahan sama yang menjadi sasaran kegiatan optimasi lahan Kementerian Pertanian tahun 2025.

Cakrabuana dan Padjajaran sebagai varietas padi berumur antara 104-105 hari akan menyandang status hattrickisasi sekaligus menjadi suksesor utama didalam penerapan musim tanam ketiga di Kabupaten Barru.
Dengan sifat keunggulannya pada umur singkat di masa pertumbuhan hingga panen sehingga minat petani akan terdorong untuk mencobanya. Setelah varietas tersebut menjalani fase tanam yang ketiga kalinya dan berhasil menciptakan rekor capaian produksi yang signifikan dan senantiasa memperoleh kepercayaan petani.
Capaian varietas Cakrabuana pada awal pengembangannya di musim tanam 2023/2024 di BPP Mallusetasi yaitu sebesar 7,0 ton per hektar GKG dan berikutnya pada musim tanam kedua tahun 2024 dikembangkan di Batubessi dengan produktivitas sebesar 6,3 ton per hektar dalam kelas benih penjenis.
Cakrabuana bertindak selaku varietas pembuka di medan laga musim tanam ketiga (MT.III) dengan segala aspek tantangan alam yang akan dihadapi, terutama unsur cekaman iklim kering di bulan agustus hingga september sebagai sisa musim tanam gadu 2025 akan menjadi momok pertanaman. Defisit air maupun tiupan angin lokal dan angin monsoon timur sebagai penciri tropis climate di sektor barat Provinsi Sulawesi Selatan.
Dibalik semua faktor alam yang menjadi unsur pembatas budidaya, maka kearifan dan strategi umat manusia yang telah dianugerahi akal dan pemikiran, disiasati dengan optimalisasi berbagai potensi sumber daya air dan pemanfaatan segenap alat dan mesin maupun bangunan air untuk mengeksplorasinya. Penggunaan sarana benih yang toleran terhadap cekaman seperti kekurangan pasokan air dan kerebahan sehingga bisa memitigasi gejolak alam seperti kekeringan dan angin kencang. Baik Padjajaran atau Cakrabuana sebagai varietas pendek dari sisi umur dan postur tanaman tidak menonjol tinggi dinilai sangat mampu menjalani momok musim dan memiliki karakter adaptif.

Kebijakan pembangunan pertanian dewasa ini utamanya fokus dalam program swasembada pangan, telah mewajibkan produksi beras yang tinggi dan tentunya harus dibarengi dengan logika penambahan luas tanam dan luas panen. Sasaran tersebut seyogyanya tercapai jika percepatan tanam dan perluasan segala jenis areal tanam yang dinilai layak untuk ditanami. Tuntutan target luas tanam per hari, per pekan atau per bulan hingga setahun wajib dipenuhi tanpa memandang lagi musim atau kebiasaan selama ini yaitu menanti musim hujan tiba mengguyur lahan-lahan persawahan atau menunggu pergiliran bulan basah di setiap periode musim oktober-maret pada tahun berjalan.
Transformasi musim tanam telah berubah total melalui program pemenuhan pangan yang harus dipabrikasi oleh negara setinggitingginya. Oleh karena itu protokol MT. III khususnya dalam penggunaan varietas unggul baru padi inbrida berumur genjah seperti Padjajaran Agritan dan Cakrabuana Agritan harus segera dimobilisasi ketersediaannya di tingkat lapang termasuk kesiapan sarana pupuk dan infrastuktur pengairan. Penyediaan sarana produksi yang cepat dan responsif akan memberi jaminan atau sambutan oleh para petani untuk terus berkelanjutan mensukseskan musim tanam ketiga setiap tahun.
Varietas Padjajaran Agritan dan Cakrabuana Agritan telah membuktikan kekuatan gen produktifnya dan eksistensi dalam palagan hattricknya di Kabupaten Barru sejak tahun 2024 hingga 2025. Padjajaran dan Cakrabuana selalu standing crop position mensupport musim tanam ketiga bahkan keempat di seluruh pusat percepatan dan pertumbuhan padi seantero negeri yang diiringi dengan azas kepatuhan para pelakunya. Tampilan dan hasil produktivitas kedua varietas tersebut telah menjemput takdirnya memenuhi syarat kualifikasi dan meyakinkan untuk disebarluaskan penggunaannya secara masif kepada petani menjadi varietas unggulan di segala musim.
Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 Tahun.
Bersatu Berdaulat,
Rakyat Sejahtera,
Indonesia Maju.
Barru, 16 Agustus 2025
*Pemerhati Varietas Padi Nasional
