Oleh: Sesbania grandiflora*
Narasi apapun yang terkait dengan kata cinta seakan tiada berhenti didiskusikan. Ia adalah tema dunia yang memiliki daya pikat untuk setiap waktu dipikirkan dan digemakan auranya. Ia terus digelorakan sebagai kebutuhan insan maupun perekat perasaan antar jiwa yang hidup. Ia menjadi prasyarat dalam melakukan relasi keterhubungan sesama manusia. Bahkan perolehan cinta sekalipun diperebutkan hingga nyawa dipertaruhkan. Tak jarang peristiwa yang mengisahkan pengorbanan jiwa karena cinta yang terabaikan.
Kiasan cinta manusia dengan berbagai macam parodi dan dinamikanya menciptakan manusia sebagai lakon hidup bermakna. Cinta kepada sang pencipta, cinta tanah air, cinta dan berbakti terhadap manusia yang melahirkan kita, cinta profesional hingga cinta kepada sesama manusia dan hubungan- hubungan perasaan emosional lainnya. Hubungan sosial antar individu terkadang dimediasi oleh organisasi, kekerabatan antar mazhab atau persamaan ideologi, paguyuban daerah atau asal sekolah dengan latar belakang senasib walau tak senazab dalam suatu lingkungan perantauan pendidikan.
Sebuah inspirasi cinta yang telah terbentuk dari para alumni sekolah pertanian lebih tiga dasawarsa silam seakan menawarkan tatanan relasi persahabatan yang tidak berhenti hingga kini. Pakem Cinta Setia-93 yang fokus disematkan kepada alumni yang telah berijazah kejuruan SMT Pertanian Negeri Sidrap tahun 1993 dengan ragam lintas program studi antara lain agronomi, mekanisasi pertanian, budidaya peternakan, dan perikanan serta THP atau teknologi hasil pertanian. THP merupakan salah satu program studi yang mengampu teknologi pengolahan hasil pertanian agar menjadi produk yang mempunyai nilai jual tinggi atau dengan perlakuan teknologi akan merubah wujud produksi pertanian menjadi layak dikonsumsi dan memiliki daya saing produk bermutu.
Bermula dari siswa program studi THP yang memperkenalkan kuliner warisan nenek moyang yang kini terus dikenang bahkan menjadi tradisi order tetap hidangan di setiap pertemuan alumni dimanapun. Ia
bernama Santoso, salah satu murid THP yang merupakan siswa mutasi dari sekolah pertanian lain dan bergabung di SMT Pertanian Negeri Sidrap pada tahun kedua hingga selesai tahun 1993. Ia berasal dari
Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur dengan penguasaan ilmu THP yang mumpuni hingga ia ekspert mengelola sumber protein hewani yang habitatnya di lahan sawah atau kolam air tawar. Ia sangat pandai dan piawai meramu bahan baku makanan menjadi siap saji.
Santoso, demikian panggilannya tanpa emblem lain dengan keahlian cooking science yang dimiliki sehingga sangat berperan nyata di dalam meracik hewan air yaitu belut atau lenrong/lendong (bahasa lokal Bugis menyebutnya demikian) hingga menjadi menu layak konsumsi. Belut tergolong kelompok ikan yang mengandung komposisi protein tinggi, vitamin dan mineral lain yang hidup diperairan tawar atau dipelihara di kolam budidaya serta berkembang biak secara alami di lahan sawah. Melalui sentuhan tangan seorang Santoso, ia mampu mengelola menu lenrong sebagai sajian lezat dan bahkan ia memulai tradisi berburu lenrong pada angkatannya sejak masa sekolah pertanian di Ciro-CiroE.
Ciro-CiroE merupakan sebuah kampung agraris pada era penulis menetap bersekolah pertanian antara tahun 1990-1993, kampung yang memiliki hamparan sawah lebih luas dibanding lahan pemukiman penduduk. Potensi tanah sawah yang subur tanpa jeda ditanami padi sepanjang tahun karena dialiri jaringan irigasi teknis. Dengan demikian, ekosistem belut secara alami memungkinkan pertumbuhannya sangat pesat karena dukungan habitat berair secara permanen. Perburuan belut yang dilakukan oleh anak sekolah pertanian yang dipimpin oleh Santoso setiap pekan atau hari libur dilaksanakan. Gerilya belut secara beregu dilakoni selain untuk memenuhi gizi dari sumber protein dan mineral, juga menjadi menu pangan utama bagi anak sekolah yang tak balik kampung.
Pengelolaan menu lenrong diawali dengan pembersihan hingga dipepes kemudian dimasak bersama larutan santan kelapa dengan berbagai campuran rempah- rempah yang telah dihaluskan sebelumnya hingga menjadi menu kari belut yang lezat dan siap dihidangkan. Cara penangkapan belut sebagai hewan air dengan anatomi tubuh yang licin memiliki teknik tertentu untuk melemahkan pergerakannya, juga turut diajarkan oleh arsitek lenrong Santoso. Membatasi gerakan belut tidak hanya dengan menggenggam biasa namun ditekuk didalam jari tengah diantara jari telunjuk dan jari manis. Jadi kuncian tangkapan belut yang paling kuat berada pada tekukan jari tengah. Posisi belut lebih awal harus diketahui pada sisi pematang sawah atau pada lubang (kalobeng) di pojok persawahan.
Perjamuan menu belut pada zaman sekolah di kampung Ciro-CiroE, sesaat selesai diprepared seakan geng penulis merayakan belut party dengan menikmati hasil buruan lenrong dari sawah yang tentunya dimulai sejak perjuangan beregu dalam lumpur yang diulik, mengejar, menangkap dan membanting belut hingga tak bernyawa. Rupanya geng penulis yang melanjutkan tradisi berburu belut dari angkatan sebelumnya di kalangan siswa pertanian Ciro-CiroE. Hal ini menjadi catatan sejarah di kalangan siswa dan menjadi referensi kebiasaan sampai sekarang untuk terus menikmati menu belut dimanapun.
Bagi sebagian kalangan, belut mungkin kurang familiar dan tergolong aneh karena bentuknya menyerupai hewan melata (ular) untuk diolah hingga menjadi bahan konsumsi terutama kaum yang berasal dari wilayah pesisir pantai, namun penulis mematahkan dogma tersebut sejak Santoso menjadi mentor belut pada anak sekolah pertanian di Ciro-CiroE. Ia sangat berjasa terhadap usaha perburuan lenrong menjadi olahan menu pangan yang bergizi bagi sahabat angkatannya. Ia tidak apriori pada upaya penggalian potensi sumber bahan makanan yang mungkin pandangan lain menilai belut sebagai komoditas inferior dan bisa jadi tidak disenangi oleh kaum tertentu, namun sebaliknya lenrong menjadi bahan perekat Cinta 93 di kemudian hari.
Diantara geng Cinta 93 yang paling loyal dalam menu lenrong hingga saat ini selain penulis adalah Muhammad Yusuf bahkan menjadi suplayer, Ambo Tang yang kerap kali mendokumentasikan langsung menunya kemudian Abd Rajab, Aslam, Hasyim, Syamsir, Sambawa, dan lainnya malah Pung Iming selaku pembaca do’anya sebagai penikmat tulen tanpa ragu. Perjamuan nasu lenrong terakhir dinikmati pada tahun 2025 lalu pada event safari alumni, namun sang maestro Santoso sebagai aktor pembangkit tradisi lenrong pada masa sekolah tidak hadir dalam kebersamaan menikmati warisan sajiannya di kalangan grup Cinta 93.
Simbol komoditas belut yang awalnya hanya bagian mengisi waktu libur bagi anak sekolah perantau ternyata upaya ini menjadi item kuliner legacy dan penyambung komunikasi atau wahana perwujudan Cerita Indah Tamatan Sembilan Tiga/Cinta Setia-93. Perhatian yang begitu besar kepada sesama alumni sebagai efek perjuangan senasib ketika menjalani fase pendidikan pertanian di kampung Ciro-CiroE. Kehidupan siswa pertanian tak sedikit menyisakan kisah maupun cerita suka dan duka dalam perantauan pendidikan pertanian Ciro-CiroE. Berburu belut yang telah mentradisi di kalangan siswa hanyalah sekelumit kenangan non kurikulum bagi murid pada masanya.
Masa-masa romantika bersekolah kejuruan pertanian dan bermukim di kolong-kolong rumah penduduk dalam kawasan pondok bumi janda selalu dikenang dan diulas. Kisah dan pengalaman segenap mantan siswanya kerap kali dibahas seakan tiada batasnya pada setiap pelaksanaan event alumni. Ia sangat fanatis hingga suasananya melahirkan adagium terhadap himpunan alumni yang menyatakan bahwa kita telah bersaudara walaupun tak harus sedarah pada keberlanjutan sikap inklusivitas dalam sebuah warisan sejarah menempuh pendidikan di rantau yaitu tradisi lenrong sebagai ikatan menu abadi yang dipelopori oleh Santoso dibawah naungan bendera ikrar Cinta 93.
Barru, 01 Maret 2026
*Warga Ikasemtani yang pernah bermukim di kawasan Pondok Bumi Janda

Teringat masa kecil dulu dikampung di Bone, kalau malam hari, saya dan sepupu sering mencari dan menangkap belut di sawah, saat musim hujan. Kadang salah tangkap, dikira belut ternyata ular hahahah