oleh: Rosmawati

Ternyata, seragam yang disetrika rapi setiap pagi tidak pernah benar-benar mampu menyembunyikan jiwa yang sedang kusut di baliknya. Ada satu jenis mata uang yang harganya jauh melampaui angka-angka di atas kertas, namun paling sulit untuk ditukarkan di meja kerja; ia adalah kejujuran nurani yang sering kali harus babak belur berhadapan dengan kakunya dan dinginnya tembok birokrasi.

Niat hati ingin mengambil jeda, rehat sejenak selama lima malam untuk memulihkan raga yang kian renta karena lelahnya rutinitas. Namun, rencana itu kandas seketika saat sebuah notifikasi muncul di Grup WhatsApp Bengkel Narasi; sebuah ajakan bagi kami para anggota untuk menyatukan rasa dalam buku antologi bertajuk “Aku Tidak Baik-Baik Saja”. Pesan itu seolah menjadi panggilan batin untuk merefleksikan carut-marutnya kondisi jiwa saya di tengah pengabdian.

Di saat yang bersamaan, batin saya terkoyak mendengar kabar seorang kurir yang dilaporkan hanya karena selisih angka tujuh ribu rupiah. Sebuah ironi yang menyesakkan, melihat betapa megahnya rumah-rumah yang dibangun, namun betapa sempitnya ruang empati yang tersisa di dalam dada penghuninya saat berhadapan dengan rakyat kecil yang sedang menjemput rezeki di jalanan.

Sebagai seseorang yang bergelut dalam belantara birokrasi, saya sering kali terbentur pada dilema yang serupa di meja kerja setiap harinya. Ada garis tipis yang memisahkan antara kepatuhan pada sistem dengan kesetiaan pada hati nurani, sebuah pertempuran batin yang sering kali membuat tidur saya tidak lagi terasa nyenyak karena adanya hal-hal yang bertentangan dengan batin.

Kondisi fisik yang mulai berteriak minta tolong terkadang harus berbenturan keras dengan tuntutan tugas yang tidak kenal kompromi dalam birokrasi. Tubuh ini dipaksa untuk terus tegak mengikuti aturan yang ada, sementara jiwa meronta ingin duduk bersimpuh, mempertanyakan arah dari setiap kebijakan yang kadang terasa hambar dan menjauh dari nilai kemanusiaan.

Menata jiwa melalui kekuatan narasi dan literasi akhirnya menjadi satu-satunya jalan keluar bagi saya untuk tetap menjaga kewarasan. Menulis bagi saya bukan sekadar merangkai kata-kata indah, melainkan sebuah upaya untuk membasuh debu-debu kepentingan yang menempel erat pada integritas dan kejujuran seorang abdi negara di tengah sistem yang kaku.

Saya belajar dari 99 Asmaul Husna bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada tingginya jabatan atau luasnya kuasa yang kita miliki di dunia. Bagaimana mungkin kita bisa memuja Al-Karim (Maha Mulia) jika dalam keseharian kita masih gemar merendahkan orang-orang kecil yang sedang berjuang susah payah menjemput rezeki Ar-Razzaq?

Tulisan untuk antologi ini adalah pengakuan dosa sekaligus pernyataan sikap bahwa saya memang sedang tidak baik-baik saja dalam bergelut di dunia birokrasi. Saya memilih untuk menanggalkan topeng kesempurnaan seorang pejabat melalui karya bersama ini, karena mengakui kerapuhan adalah langkah awal untuk menemukan kembali jati diri yang hampir hilang ditelan arus realita.

Boleh saja kita terbang tinggi menggapai puncak karier hingga menyentuh langit, namun jangan pernah lupa untuk tetap menitip hati ke bumi kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, bukan pangkat yang akan menemani kita di hadapan Sang Maha Adil, melainkan seberapa jernih nurani kita saat menjalankan amanah di dunia yang fana ini.

*BNsiana Kolaka Utara

(Visited 10 times, 10 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.