Di sebuah desa yang tenang, hiduplah seorang pria bernama Hamzah yang sedang terbaring lemah.
Penyakitnya begitu berat hingga tabib pun sudah angkat bicara bahwa harapan hidupnya tipis.
Dalam saking putusnya asa dan rasa sakit yang menghimpit, Hamzah berbisik dalam hati, sebuah nazar yang lahir dari kekalutan.
“Ya Allah, jika Engkau berikan aku kesembuhan dari penyakit ini, aku berjanji akan meminum air kencing anjing sebagai bentuk kerendahan hatiku di hadapan-Mu.”
Keajaiban terjadi.
Beberapa hari kemudian, panas tubuhnya turun, kekuatannya pulih, dan Hamzah kembali sehat bugar. Namun, seiring dengan kesehatan yang kembali, rasa sesak baru muncul: beban nazar.
Pencarian yang Buntu
Hamzah adalah orang yang beriman.
Ia tahu bahwa nazar yang sudah diucapkan wajib ditunaikan, meskipun hal itu menjijikkan.
Ia mulai berkeliling desa mencari anjing, namun anehnya, tak ada satu pun anjing yang ia temukan di wilayah itu. Ia pergi ke pinggiran hutan, ke desa tetangga, tetap nihil.
Dalam kebingungannya, ia memutuskan untuk menghadap Baginda Nabi Muhammad SAW.
Dengan wajah tertunduk malu, ia menceritakan semuanya.
“Wahai Rasulullah, aku telah bernazar hal yang bodoh saat sakit.
Kini aku sembuh, tapi aku tidak menemukan anjing untuk memenuhi janjiku. Apa yang harus kulakukan?”
Rasulullah SAW tersenyum tipis, namun tatapannya mengandung pelajaran yang dalam.
Beliau tidak menyuruh Hamzah terus mencari anjing ke ujung dunia.
Beliau justru memberikan sebuah petunjuk yang tak terduga.
“Pergilah engkau, carilah rumah di desa ini yang penghuninya tidak pernah mendirikan salat di dalamnya.
Lalu, tunggulah hingga hujan turun, dan minumlah air cucuran yang jatuh dari atap rumahnya.”
Hamzah tertegun.
“Hanya itu, ya Rasulullah? Apakah itu setara dengan nazarku?”
Rasulullah SAW menjawab,
“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya tidak pernah disebut nama Allah dan tidak pernah ditegakkan salat, lebih kotor dan lebih rendah nilainya daripada seekor anjing.”
Hamzah kemudian menjalankan perintah tersebut.
Ia menemukan sebuah rumah yang penghuninya memang jauh dari agama.
Saat hujan lebat mengguyur, ia menampung air yang jatuh dari talang atap rumah tersebut dan meminumnya dengan hati yang bergetar.
Ia menyadari satu hal yang luar biasa: Betapa ngerinya kondisi sebuah rumah yang kosong dari ibadah.
Air yang mengalir dari atapnya saja sudah dianggap Nabi setara dengan kotoran hewan bagi mereka yang ingin menebus janji yang berat.
Hamzah pulang dengan perasaan lega sekaligus ngeri.
Sejak hari itu, ia tidak hanya menjaga kesehatannya, tetapi memastikan rumahnya selalu bergema dengan suara tilawah dan sujud, agar atap rumahnya tidak menjadi tempat mengalirnya “kehinaan” bagi orang lain.
