Liburan Idul Fitri 1447 Hijriyah telah usai. Yang mudik mungkin sudah atau sedang kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Ada yang melewati perjalanan hanya beberapa menit, ada juga yang beberapa hari.
Sejatinya pertemuan dengan keluarga diisi dengan silaturahmi dan mempererat kekerabatan. Namun ada satu cerita aneh yang berulang dan sudah sering muncul dalam banyak narasi. Yaitu pertanyaan tentang ‘kapan’ sesuatu itu terjadi. ‘Terjadi yang seharusnya’ menurut sudut pandang yang bertanya.
Contoh pertanyaan sederhana: Kapan menikah? Kapan menikah lagi? Kapan punya anak? Kapan punya anak lagi?
Pertanyaan ini kemudian berkembang menjadi lebih luas. Seperti: “Koq kamu nggak nikah-nikah sih, usia sudah berapa?” “Eh yang sekelas kamu dulu di SD, masih ingat? Sekarang sudah punya 6 anak lho. Kamu kapan nambah? Anakmu baru satu itu aja dan sudah besar.” “Temanmu yang sering bersamamu dulu main petak umpet sudah punya 2 istri.” Atau “Eh kamu tahu, hebatnya tetangga kita itu, anaknya cuma 5 bulan dalam kandungan, dia menikah pertengahan tahun dan melahirkan sebelum tahun baru. Sekarang anaknya sudah nol besar TK anu.” “Belum ada anak ya. Kenapa? Saya sudah punya 3 cucu.”
Atau ada yang tidak mau terang-terangan bicara langsung. Tapi melalui perantara. Yaitu anak-anak. Berbicara dengan sang anak, seperti: “Eh main sama om ganteng itu biar dia juga bisa tambah adek.” Atau, “Lihat tuh tantemu, sana minta gendong dan kencingi supaya bisa juga punya anak.”
Dan banyak lagi yang jawabannya kalau mau jujur, yang paling tepat adalah “So what,” yang diucapkan dengan muka paling jutek se-alam semesta.
Orang-orang yang sering bertanya hal-hal seperti ini. Selalu subjektif dalam menilai sesuatu. Ibarat tinggal di menara gading. Hidup harus seperti yang ada dalam pikirannya. Mereka juga biasanya tidak punya rasa empati. Atau kurang. Singkatnya, toksik. Padahal empati dan tenggang rasa adalah materi PPKn kelas III SD. Itu juga kalau ingat.
Lalu kenapa memangnya kalau orang lain berbeda dengan yang seharusnya. Bukankah Allah Swt menciptakan setiap makhluknya secara berbeda. Lalu apa yang membuat kita bertindak seolah-olah jadi orang paling benar dan bijaksana lagi sempurna dengan mengajukan pertanyaan yang menyakiti hati orang lain.
Parahnya, ada yang tidak tahu-tahu. Sudah diperingatkan agar tidak membahas masalah itu. Eh dia malah menambahi dengan kalimat, klausa dan frasa yang lain. Memberikan penekanan yang semakin menambah luka.
Sebaliknya, yang ditanya tentang ini, bisa saja bibirnya tersenyum mengikuti irama lawan bicara. Tapi yakinlah, hatinya teriris. Perhatikan baik-baik, senyumnya getir. Ada juga yang berusaha kelihatan baik-baik saja. Diam atau berlalu. Diam dalam duka yang mendalam.
Bagaimana kalau dia menyerang balik. Seperti yang terjadi di akun-akun media sosial. Saking seringnya mendapat pertanyaan serupa, dia balik bertanya: “Kapan kamu mati?” Bukankah pertanyaan ini lebih kasar, tidak beradab, sarkastik, dan bisa memicu perselisihan berkepanjangan? Tak jarang silaturahmi justru putus gara-gara ada serangan balik tiba-tiba.
Nah, untuk menjaga marwah silaturahmi idul fitri tetap terjaga, ada baiknya kita hati-hati dalam bertutur kata dengan orang lain, meskipun kepada saudara atau kerabat dekat. Terkadang, masa kecil kita tidur satu kelambu, tapi perjalanan hidup kemudian mengubah segalanya. Dulu kita satu bangku di sekolah selama bertahun-tahun, tapi nasib berbeda.
Yang mudik ingin pulang untuk menjaga perbedaan itu tetap menjadi warna yang indah dalam persaudaraan. Yang didatangi juga seharusnya menyambut dengan senyum manis dan tulus, bertutur kata sopan, karena kebersamaan ini hanya berlangsung beberapa hari, dibanding perpisahan yang mungkin tahunan lamanya. Take and give, keep brotherhood.
Banyak cerita lain bisa mewarnai kebersamaan yang sebentar itu. Indahnya masa kecil, kisah kasih di sekolah, cinta pertama, berkelahi lalu berteman lagi, dipukul guru, dimarahi orang tua karena main sampai magrib. Atau cerita indahnya hidup di perantauan. Tidak usah cerita susahnya. Karena sampai sekarang banyak masih percaya bahwa hujan batu di negeri sendiri jauh lebih baik.
Berhenti normalisasi kekurangan orang lain. Kalau pertanyaan sudah terlanjur terucap sekali dan diberi signal untuk tidak melanjutkan, ya lebih baik berhenti lalu cari topik lain. Kita tidak tahu alasan mereka seperti itu. Mungkin saja karena penyakit tertentu. Contoh, dia melahirkan anak pertama secara tidak normal lalu tidak bisa lagi punya yang kedua. Atau, dia punya penyakit tertentu sehingga belum diberi momongan. Atau, dia beberapa kali dekat dengan lawan jenis namun selalu dikecewakan akhirnya belum menikah.
Yang bersangkutan tidak harus menceritakan itu semua. Kalau dia tidak mau cerita jangan dipaksa. Kita jangan berperan seolah-olah jadi pahlawan bijaksana, yang bisa memberi solusi kepada orang lain tapi tidak ada jaminan akan berhasil. Bisa saja itu hanya menambah luka.
Hidup ini tidak selalu ada ‘Tok Dalang’ dalam cerita Upin dan Ipin, atau ‘Kakek Segala Tahu’ dalam 185 novel Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, atau ‘Aria Kamandanu’ dalam sandiwara radio Tutur Tinular. Mereka bertiga adalah tokoh fiktif yang diciptakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi penulis. Atau mau berperan jadi tokoh itu? Memangnya kita yakin mereka menganggap kondisi yang dialami sebagai masalah? Siapa tahu mereka bahagia dengan kehidupannya itu. Dengan pilihan hidupnya.
Jika masih berwujud manusia dan punya nurani, berhenti sok empati kalau kemudian hanya bisa bicara: ‘Kasihan ya.’ Orang lain tak memerlukan rasa kasihan yang palsu. Jika tak bisa membuat hidup orang lain lebih baik, berhenti menciptakan masalah. Kalau tidak mampu menyejukkan hati orang lain dengan tutur kata yang baik, setidaknya jangan jadi hama atau predator.
Karena meski sudah bermaaf-maafan, belakangan ini sering ada yang bilang: saya sudah maafkan semua, kecuali 3, yaitu: Isra**, Do**** Tr***, dan orang toksik yang selalu kepo dengan kekurangan orang lain. Masa tega, momen indah dari pertemuan yang dinanti sekian lamanya harus rusak karena ada ucapan yang menyakiti hati.
Well, ketika orang sudah jarang mudik, banyak faktor jadi penyebab. Mungkin karena orang yang dikasihinya sudah berpulang semua, seperti kedua orang tua. Bisa juga karena sering mendapat pertanyaan toksik.
Saat ini ditulis, penulis didampingi 2 orang terdekat. Di sebelah kanan ada istri tercinta, Dahliani, dan di sebelah kiri ada sepupu sekali, M. Saing, yang selalu sama-sama sejak kecil. Bertiga menikmati indahnya hidden paradise inside Tana Toraja.
Salam dari Tebing Romantis Ollon, Tana Toraja, 23 Maret 2026
